MC Sudah Minta Maaf, Dua Juri Itu Masih Betapok

Oleh Rosadi Jamani
Kita update lagi kisah kezaliman di ajang LCC 4 Pilar. MC sudah minta maaf, sementara dua juri itu masih betapok (ngumpet). Keduanya sudah dinonaktifkan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Sampai hari ini, publik masih menunggu. Bukan menunggu sidang PBB. Bukan menunggu roket ke Mars. Publik cuma menunggu dua orang juri lomba cerdas cermat punya keberanian dasar sebagai manusia, meminta maaf secara terbuka.
Tapi ternyata itu lebih sulit dari revisi undang-undang.
MC sudah meminta maaf. MPR RI sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Dua juri dan MC bahkan sudah dinonaktifkan. Semua orang bergerak cepat menyelamatkan muka lembaga. Tapi dua nama yang paling disorot justru memilih mode hening nasional. Satu mengganti bio Twitter jadi “sorry” lalu akun diprivat seperti maling sandal ketahuan CCTV. Yang satu lagi lenyap total seperti janji kampanye setelah pelantikan.
Hebat sekali.
Anak-anak SMA saja berani berdiri di depan publik mempertahankan jawaban mereka. Tapi orang dewasa yang duduk di kursi juri malah tidak berani berdiri di depan kamera untuk mengatakan dua kata sederhana, “saya salah.”
Padahal publik tidak meminta tumbal. Tidak meminta pengasingan ke Planet Mars. Publik cuma ingin melihat tanggung jawab moral. Itu saja. Sesuatu yang kelihatannya makin langka di negeri yang lebih cepat bikin slogan dari mengakui kesalahan.
Jangan salah. Yang membuat rakyat marah bukan cuma soal jawaban benar dianggap salah. Tapi cara mereka diperlakukan. Kalimat “mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja” sudah terlanjur tercatat sebagai salah satu kalimat paling arogan tahun ini. Itu bukan jawaban MC. Itu bunyi ego yang sedang memakai mikrofon.
Nuan bayangkan! Anak-anak belajar berbulan-bulan. Membawa nama sekolah. Membawa nama Pontianak. Berdiri dengan keberanian mempertahankan fakta. Lalu diperlakukan seolah mereka cuma bocah baper yang salah emosi.
Kalau itu terjadi di sinetron, mungkin penonton sudah lempar remot ke TV.
Yang lucu sekaligus tragis, di negeri ini meminta maaf sering diperlakukan seperti kehilangan tahta kerajaan. Seolah begitu mengakui salah, langit runtuh, burung berhenti terbang, dan rekening langsung diblokir Bank Indonesia.
Padahal justru orang yang berani meminta maaf biasanya lebih dihormati.
Tapi mungkin budaya kita memang aneh. Banyak orang mau maju jadi juri, narasumber, motivator, pengamat, bahkan calon legislatif, tapi begitu salah mendadak hilang seperti sinyal WiFi kantor pemerintah saat hujan.
Rakyat sekarang tidak gampang lupa. Ini bukan era ketika publik bisa dibungkam dengan senyum formal dan kalimat normatif. Anak-anak muda sekarang merekam, menyimpan, membandingkan, lalu menilai sendiri siapa yang tulus dan siapa yang cuma sibuk menyelamatkan citra.
Makin lama dua juri itu diam, makin buruk kesannya. Karena diam setelah melukai orang bukan lagi ketidaksengajaan. Itu pilihan.
Kalau memang merasa tidak bersalah, katakan. Kalau memang salah, minta maaf. Jangan sembunyi di balik akun privat seperti ninja birokrasi. Ini lomba cerdas cermat, bukan audisi menghilang dari tanggung jawab.
Ironis sekali. Anak-anak SMA di Pontianak sudah menunjukkan keberanian, kejujuran, dan keteguhan. Sementara sebagian orang dewasa di panggung justru menunjukkan hal sebaliknya. Dari semua pelajaran yang muncul dari acara ini, mungkin itu yang paling menyedihkan.
“Bang, betapok itu ape?”
“Orang yang lari dari tanggung jawab atau kenyataan, wak. Pokoknye kite kincah dua juri itu sampe keluar minta maaf.” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM












