Dari yang Lama Jadi Korban Menuju Hak atas Kurban: Refleksi Keadilan Sosial dan Solidaritas Umat Islam dalam Meneguhkan Jati Diri dan Persatuan Bangsa

Dari yang Lama Jadi Korban Menuju Hak atas Kurban: Refleksi Keadilan Sosial dan Solidaritas Umat Islam dalam Meneguhkan Jati Diri dan Persatuan Bangsa - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Dari yang Lama Jadi Korban Menuju Hak atas Kurban: Refleksi Keadilan Sosial dan Solidaritas Umat Islam dalam Meneguhkan Jati Diri dan Persatuan Bangsa

Oleh Dayan Abdurrahman

Dalam ruang kehidupan bangsa yang terus diuji oleh ketimpangan sosial dan krisis solidaritas, ibadah kurban bukanlah sekadar ritus keagamaan tahunan, melainkan pesan sosial yang mendalam. Ibadah ini mengandung nilai pengorbanan, kedekatan kepada Tuhan, dan lebih dari itu, panggilan untuk menegakkan keadilan sosial bagi sesama. Dalam konteks Indonesia—sebagai negara dengan mayoritas Muslim dan sejarah panjang ketimpangan pembangunan antarwilayah—makna kurban perlu ditarik lebih jauh ke dalam ranah keadilan sosial dan penguatan persatuan bangsa.

Mereka yang telah lama menjadi korban ketidakadilan—baik karena sejarah konflik, keterpencilan geografis, maupun kemiskinan struktural—pantas menjadi penerima utama manfaat kurban. Aceh, misalnya, sebagai daerah yang pernah menjadi medan konflik dan kini menjadi simbol keteguhan Islam di Nusantara, masih menyimpan luka sosial yang belum sepenuhnya pulih. Begitu pula dengan Papua, yang meskipun bukan mayoritas Muslim, tetap mencerminkan wajah Indonesia yang tersisih dari arus utama pembangunan. Wilayah-wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan pedalaman, dan kawasan pesisir terpinggirkan di Sulawesi Tengah juga mencerminkan kebutuhan nyata atas keadilan distribusi, termasuk dalam praktik ibadah kurban.

Dalam terminologi Islam, kurban berasal dari kata “qaruba” yang berarti mendekat. Maka semestinya, kurban mendekatkan manusia kepada Tuhan dan mendekatkan mereka yang berpunya kepada yang tak berdaya. Panitia kurban di seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah yang menjadi pilar identitas keislaman seperti Aceh, memikul tanggung jawab moral untuk menempatkan kurban sebagai sarana solidaritas sosial. Ini bukan hanya soal membagi daging, tetapi soal menghormati martabat manusia yang selama ini menjadi korban sejarah dan kebijakan yang timpang.

Di berbagai belahan dunia Muslim—dari kawasan minoritas Muslim di India hingga komunitas urban di Mesir dan Nigeria—makna kurban mulai digeser dari sekadar simbol religius menjadi proyek sosial yang memberdayakan. Indonesia sebagai rumah besar umat Islam dunia perlu menjadi contoh dalam mentransformasikan kurban menjadi jalan penguatan jati diri bangsa. Ketika ibadah ini menyentuh mereka yang paling terpinggirkan, bangsa ini sedang memulihkan lukanya sendiri dengan cara yang penuh kasih dan bermartabat.

Kita harus bertanya secara jujur: apakah kurban kita benar-benar menyentuh mereka yang membutuhkan? Apakah mereka yang telah lama jadi korban sudah mendapatkan hak atas kurban? Jika belum, maka kurban kita baru sebatas simbol, belum menjadi solusi. Maka, kini saatnya memaknai kurban dalam kerangka keadilan sosial yang konkret. Bukan hanya demi pahala individual, tetapi demi kelangsungan solidaritas umat dan kekuatan bangsa.

Dengan kurban, kita tidak hanya menyembelih hewan, kita menyembelih egoisme. Kita tidak hanya membagi daging, kita membagi harapan. Dan kita tidak hanya menunaikan syariat, tetapi juga memperkuat simpul-simpul persaudaraan kebangsaan yang selama ini mulai mengendur. Di sinilah letak sejati dari pengorbanan: ketika yang selama ini jadi korban, akhirnya benar-benar menerima kurban.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist