Manusia Abad ke-21: Ketahanan yang Rapuh dan Dipertanyakan.

Oleh: Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.
Abad ke-21 sering dipandang sebagai puncak kemajuan peradaban manusia. Teknologi berkembang begitu cepat, komunikasi melampaui batas negara, dan hampir seluruh aktivitas manusia kini bergantung pada sistem digital.
Kecerdasan buatan mulai menggantikan banyak pekerjaan manusia, media sosial membentuk cara berpikir masyarakat, sementara dunia menjadi semakin terkoneksi. Namun di balik seluruh kemajuan itu, muncul satu kenyataan yang semakin sulit dibantah: manusia modern justru hidup dalam ketahanan yang rapuh.
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu peristiwa yang membuka mata dunia tentang rapuhnya ketahanan tersebut. Negara-negara maju yang selama ini dianggap memiliki sistem kesehatan dan teknologi paling canggih ternyata tetap mengalami kekacauan besar. Rumah sakit penuh, tenaga medis kewalahan, ekonomi terguncang, dan tekanan psikologis masyarakat meningkat tajam. Dunia yang terlihat kuat ternyata sangat mudah goyah ketika menghadapi krisis besar yang datang secara tiba-tiba.
Dalam kajian hubungan internasional, kondisi seperti ini berkaitan dengan konsep human security atau keamanan manusia yang diperkenalkan United Nations Development Programme (UNDP) melalui Human Development Report tahun 1994. Konsep tersebut menegaskan bahwa keamanan tidak lagi hanya dipahami sebagai perlindungan negara dari ancaman militer, tetapi juga perlindungan manusia dari kemiskinan, penyakit, kelaparan, pengangguran, hingga ketidakamanan sosial. Dengan kata lain, ukuran kekuatan bangsa hari ini bukan hanya senjata atau pertumbuhan ekonomi, melainkan kualitas manusianya.
Ancaman di abad ke-21 memang berubah bentuk. Jika pada abad sebelumnya dunia lebih banyak menghadapi perang terbuka antarnegara, maka hari ini ancaman hadir secara lebih halus dan sistemik. Tekanan ekonomi, perang informasi, disinformasi digital, manipulasi opini publik, hingga perang siber menjadi bagian dari tantangan baru yang memengaruhi ketahanan masyarakat modern.
Perubahan itu semakin terasa ketika dunia memasuki era banjir informasi. Media sosial yang awalnya diharapkan menjadi ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi justru dalam banyak kasus berubah menjadi arena penyebaran hoaks, propaganda, ujaran kebencian, dan manipulasi emosi publik. Penelitian Vosoughi, Roy, dan Aral dalam jurnal Science tahun 2018 menunjukkan bahwa berita palsu di media sosial menyebar lebih cepat dibandingkan informasi benar karena lebih mudah memancing emosi masyarakat.
Situasi tersebut semakin kuat setelah pandemi COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menggunakan istilah infodemic untuk menggambarkan banjir informasi yang membuat masyarakat sulit membedakan fakta dan kebohongan. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan, institusi sosial, dan kebijakan negara ikut mengalami penurunan.
Manusia modern akhirnya hidup dalam situasi yang serba membingungkan. Informasi tersedia dalam jumlah besar, tetapi kebenaran justru semakin sulit ditemukan. Masyarakat menjadi mudah terprovokasi, cepat marah, dan terpecah dalam polarisasi sosial yang tajam. Energi sosial habis dalam perdebatan di ruang digital, sementara persoalan mendasar seperti pendidikan, kesehatan, dan ketahanan pangan sering kali terabaikan.
Padahal ancaman terbesar abad ke-21 sesungguhnya bukan hanya perang fisik, melainkan melemahnya kualitas manusia itu sendiri. Pendidikan yang rapuh akan menurunkan kemampuan berpikir kritis masyarakat. Kesehatan yang tidak merata akan menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Ketahanan pangan yang lemah menciptakan ketergantungan dan kecemasan sosial. Ketika tiga fondasi ini melemah, sebuah bangsa dapat mengalami kemunduran secara perlahan tanpa perlu dihancurkan melalui perang terbuka.
Dalam konteks global saat ini, penghancuran sebuah negara memang tidak selalu dilakukan melalui invasi militer. Cara seperti itu semakin mahal, berisiko tinggi, dan mudah mendapat tekanan internasional. Sebaliknya, pelemahan kualitas manusia justru menjadi strategi yang lebih efektif. Ketika masyarakat kehilangan kemampuan berpikir kritis, mudah termakan propaganda, mengalami ketergantungan ekonomi, dan hidup dalam ketidakpastian sosial, maka daya tahan bangsa ikut melemah dari dalam.
Karena itu, ketahanan manusia menjadi isu penting di abad ke-21. Ketahanan hari ini tidak lagi hanya berarti kemampuan bertahan setelah krisis, tetapi juga kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat. Dunia modern tidak sedang menghadapi satu krisis tunggal, melainkan berbagai krisis yang datang bersamaan, mulai dari kesehatan, ekonomi, iklim, teknologi, pangan, hingga krisis moral dan spiritual.
Dalam situasi seperti itu, pendidikan menjadi fondasi utama masa depan bangsa. Namun ironisnya, sektor pendidikan justru menghadapi tantangan besar di banyak negara, termasuk Indonesia. Laporan UNESCO menunjukkan jutaan anak di dunia masih berada di luar sistem pendidikan. Ketimpangan akses pendidikan tetap menjadi persoalan serius, terutama di negara berkembang.
Indonesia juga menghadapi persoalan pendidikan yang tidak kecil. Selain kualitas pendidikan yang masih menjadi tantangan, dunia pendidikan nasional kini mulai berhadapan dengan krisis guru. Banyak tenaga pendidik memasuki masa pensiun, sementara rekrutmen guru baru belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan nasional. Dalam banyak situasi, perhatian justru lebih sering tersedot pada kepentingan politik jangka pendek, padahal kesejahteraan guru dan masa depan pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama. Di sisi lain, nasib guru honorer hingga hari ini masih jauh dari layak, meski mereka tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di berbagai daerah.
Survei Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) bersama Dompet Dhuafa menunjukkan sebagian besar guru honorer di Indonesia menerima penghasilan yang sangat rendah, bahkan banyak yang berada di bawah standar kebutuhan hidup layak. Situasi ini memperlihatkan paradoks besar dalam pembangunan manusia Indonesia. Negara berbicara tentang bonus demografi dan sumber daya manusia unggul, tetapi profesi yang menjadi fondasi pendidikan justru menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Padahal guru bukan sekadar pekerja administrasi pendidikan. Guru adalah penjaga nalar masyarakat. Di tengah banjir informasi dan disinformasi digital, guru memegang peran penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis generasi muda. Ketika pendidikan melemah, masyarakat menjadi lebih mudah dipengaruhi hoaks, propaganda, dan manipulasi informasi. Akibatnya, ketahanan sosial ikut melemah.
Sejarah sebenarnya telah memberi pelajaran besar tentang pentingnya pembangunan manusia. Tragedi Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 menjadi refleksi bagaimana sebuah bangsa dapat bangkit dari kehancuran. Jepang yang luluh lantak akibat bom atom tidak hanya fokus membangun kembali infrastruktur fisik, tetapi lebih menekankan pembangunan manusia.
Dalam berbagai catatan sejarah pascaperang, Kaisar Hirohito disebut memberi perhatian besar terhadap keberlangsungan pendidikan. Narasi tentang pertanyaan, “berapa guru yang masih hidup?” kemudian dikenal luas sebagai simbol kesadaran Jepang bahwa kebangkitan bangsa tidak dimulai dari kekuatan senjata, melainkan dari manusia yang mendidik dan membangun peradaban. Jepang memahami bahwa gedung dapat dibangun kembali dengan cepat, tetapi membentuk manusia membutuhkan waktu panjang dan investasi besar.
Karena itu, kebangkitan Jepang pascaperang lebih diarahkan pada pendidikan, kesehatan masyarakat, disiplin sosial, dan pembangunan industri berbasis ilmu pengetahuan. Dari fondasi itulah Jepang perlahan bangkit hingga menjadi salah satu negara dengan kualitas sumber daya manusia dan kemajuan peradaban yang kuat seperti hari ini.
Pelajaran Jepang sangat relevan bagi dunia modern. Kekuatan sejati sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau kekuatan militer, tetapi oleh kualitas manusia yang dimiliki dan dijaga. Pendidikan yang kuat, kesehatan yang baik, dan kesejahteraan sosial yang merata merupakan fondasi utama ketahanan bangsa dalam menghadapi perubahan zaman.
Selain pendidikan, kesehatan juga menjadi indikator penting ketahanan manusia abad ke-21. Pandemi COVID-19 memperlihatkan bahwa sistem kesehatan global ternyata sangat rapuh. Bahkan negara-negara maju mengalami kekacauan distribusi obat, kelangkaan alat kesehatan, hingga tekanan mental yang besar di kalangan tenaga medis.
Indonesia memang mengalami kemajuan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional. Namun tantangan kesehatan nasional masih besar, mulai dari stunting, keterbatasan layanan kesehatan di daerah terpencil, kekurangan tenaga medis, hingga ketergantungan pada impor alat kesehatan.
Tantangan kesehatan modern juga tidak hanya berasal dari penyakit, tetapi dari menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Hoaks vaksin, disinformasi kesehatan, dan teori konspirasi menunjukkan bahwa literasi masyarakat menjadi bagian penting dari ketahanan kesehatan nasional. Dalam kondisi seperti ini, kesehatan tidak lagi hanya soal rumah sakit dan obat-obatan, tetapi juga soal kualitas pendidikan dan kemampuan masyarakat memahami informasi secara kritis.
Persoalan lain yang semakin serius adalah ketahanan pangan. Krisis pangan global akibat pandemi dan konflik Rusia-Ukraina menunjukkan betapa rentannya sistem pangan dunia. Ketergantungan pada impor membuat banyak negara mudah terguncang oleh perubahan geopolitik internasional.
Padahal pangan bukan sekadar kebutuhan ekonomi, tetapi juga menyangkut kedaulatan bangsa. Negara yang terlalu bergantung pada pasokan luar akan lebih rentan menghadapi tekanan global. Ketahanan pangan berkaitan langsung dengan pendidikan dan kesehatan. Anak yang mengalami kekurangan gizi akan kesulitan belajar secara optimal, sementara masyarakat yang tidak memiliki akses pangan berkualitas akan menghadapi risiko kesehatan jangka panjang.
Namun tantangan manusia abad ke-21 tidak berhenti pada persoalan material. Dunia modern juga sedang menghadapi krisis moral dan spiritual yang cukup serius. Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan moral manusia.
Media sosial misalnya, dalam banyak kasus justru melahirkan budaya pamer, kecanduan digital, polarisasi sosial, hingga hilangnya empati terhadap sesama manusia. Manusia hidup dalam dunia yang sangat terkoneksi, tetapi secara emosional justru semakin terasing.
Berbagai penelitian psikologi modern menunjukkan meningkatnya angka kecemasan, depresi, kesepian sosial, dan krisis identitas, terutama di kalangan generasi muda. Mereka hidup di tengah banjir informasi, tetapi kehilangan arah dalam memahami tujuan hidupnya sendiri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia modern bukan hanya menghadapi krisis ekonomi atau teknologi, tetapi juga krisis makna hidup. Kemajuan material tidak selalu menghadirkan ketenangan batin. Dunia bergerak semakin cepat, sementara manusia sering kehilangan ruang untuk refleksi dan kedalaman spiritual.
Dalam konteks inilah agama kembali menemukan relevansinya. Berbagai penelitian tentang spiritualitas dan kesehatan mental menunjukkan bahwa agama masih menjadi salah satu sumber penting ketahanan psikologis manusia. Di tengah tekanan hidup modern, spiritualitas memberi rasa tenang, arah hidup, dan makna eksistensial yang sering kali tidak mampu diberikan oleh teknologi ataupun materialisme.
Karena itu, manusia abad ke-21 dituntut menjadi manusia yang mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan kedalaman moral dan spiritual. Kemajuan digital tidak harus bertentangan dengan agama selama teknologi digunakan dengan kesadaran etis yang kuat.
Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar menjadi bangsa yang kuat di abad ke-21. Namun peluang itu hanya akan terwujud jika pembangunan benar-benar berpusat pada manusia. Pendidikan berkualitas harus menjadi prioritas utama. Kesehatan yang modern dan terjangkau perlu diperkuat. Ketahanan pangan mandiri juga harus dibangun secara serius dan berkelanjutan.
Guru, tenaga kesehatan, petani, ilmuwan, dan generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama ketahanan bangsa. Sebab bangsa yang gagal menjaga kualitas manusianya sesungguhnya sedang membangun masa depan di atas fondasi yang rapuh.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting hari ini bukan hanya tentang kemajuan teknologi atau besarnya kekuatan ekonomi, melainkan seberapa serius bangsa ini menjaga dan membangun kualitas sumber daya manusianya. Sebab di abad ke-21, bangsa yang mampu menguasai pengetahuan, menjaga kesehatan masyarakat, dan membangun ketahanan pangan yang mandiri adalah bangsa yang akan mampu bertahan menghadapi masa depan.
Mahasiswa Program Doktor (S.












