
Oleh Yani Andoko
Rasa Manis Yang Tak Pernah Sepi
Di warung pinggir jalan selepas magrib, seorang bapak dengan sigap menuangkan teh panas dari satu gelas ke gelas lainnya. Tinggi. Semakin tinggi. Di tangannya, teh berwarna cokelat susu itu meliuk seperti pita, membentuk buih lembut di permukaan. Swish… swish… Gelas diganti, genggaman tangan bergerak dengan ritme yang terlatih. Lalu, crack gelas diletakkan di meja, dan pembeli menyeruputnya dalam-dalam, puas.
Tidak ada yang bertanya dari mana asal teh ini. Tidak ada yang peduli apakah ia “milik Malaysia” atau “warisan Riau.” Yang ada hanyalah rasa. Manis. Kental. Hangat.
Tapi di balik kesederhanaan itu, teh tarik menyimpan kisah panjang yang melampaui batas negara. Ia lahir dari penderitaan, tumbuh di perkampungan imigran, dan kini menjadi rebutan tiga bangsa sekaligus. Lebih dari sekadar minuman, ia adalah cermin cair dari sejarah Asia Tenggara yang pelik dan penuh warna.
Air Yang Tak Pernah Berhenti Mengalir.
Dari Teh Pahit untuk Orang Miskin
Teh tarik tidak lahir dari dapur istana atau mewahnya restoran bintang lima. Ia justru lahir dari kemiskinan pasca Perang Dunia II. Saat itu, para imigran India Muslim yang bekerja di perkebunan karet Malaysia tidak mampu membeli daun teh berkualitas baik. Mereka hanya punya sisa-sisa daun teh yang direbus berjam-jam hingga warnanya pekat dan rasanya pahit.
Agar layak minum, mereka menambahkan susu kental manis dan gula dalam jumlah banyak. Rasa pahitnya tertutup, dan lahirlah minuman baru: teh susu dengan sentuhan liar. Hingga suatu hari, seseorang menemukan trik agar minuman ini lebih nikmat dituang berulang dari ketinggian. Proses ini mendinginkan suhu, mencampur bahan lebih merata, dan menciptakan buih lembut di permukaan. Maka dinamakanlah ia teh tarik: “teh yang ditarik.”
Racikan Tiga Peradaban
Yang membuat teh tarik istimewa adalah ia tidak lahir dari satu tradisi tunggal. Ia adalah anak kandung dari setidaknya tiga budaya besar yang bersua di Selat Malaka:
Para pedagang China memperkenalkan teh hitam ke Nusantara pada 1830-an.
Imigran India Selatan mengembangkan teknik “menarik” teh di jalanan setelah 1850-an.
Pemerintah kolonial Inggris membawa susu dan kebiasaan minum teh saat minum sore pada akhir abad ke-19.
Ketiga aliran ini bertemu di kedai-kedai mamak di Semenanjung Malaya, lalu berpadu menjadi satu gelas yang dinikmati semua lapisan masyarakat tanpa memandang ras atau agama. Di Malaysia, para penulis dan budayawan menyebutnya sebagai “seluruh negara dalam satu gelas” sebuah mikrokosmos toleransi yang cair dan manis.
Akar Di Riau: Bukti yang Tak Terbantahkan
Namun, apakah Malaysia adalah satu-satunya rumah bagi teh tarik? Tentu tidak.
Di seberang Selat Malaka, di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia, teh tarik atau teh tarek dalam logat setempat telah lama menjadi bagian dari budaya Melayu. Masyarakat Riau menyebutnya sebagai minuman “asli Melayu” yang diracik turun-temurun.
Bahkan, pada September 2023, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kepulauan Riau memecahkan rekor MURI dengan menyajikan 2.409 gelas teh tarik sekaligus dalam rangkaian acara Gebyar Melayu Pesisir. Seluruhnya menghabiskan 32 galon air mineral, 85 kaleng susu murni, dan 10 kilogram teh racikan khas.
Data ini menjadi bukti sederhana namun kuat: teh tarik tidak mungkin “asing” bagi Indonesia. Ia sudah mengalir di warung-warung tepi jalan Riau, diseruput oleh nelayan dan saudagar, bahkan diulas dalam podcast resmi perekonomian daerah dengan nama Teh Tarek.
Debat Panjang Dan Saling Klaim
Meski demikian, pertanyaan “Dari mana asal teh tarik?” tetap menjadi sumber ketegangan. Setiap kali seorang selebritas global menyebut “Teh Tarik Singapore” atau “Teh Tarik Malaysia,” kolom komentar media sosial langsung meledak.
Contoh paling mutakhir terjadi pada September 2024, saat YouTuber terkenal IShowSpeed dalam lawatannya ke Singapura dengan antusias menyebut “Teh Tarik Singapore!”. Seketika, netizen Malaysia membanjiri kolom komentar: “Teh tarik adalah minuman Malaysia!”
Persaingan ini bukan hanya terjadi di ranah daring. Pada Desember 2024, UNESCO secara resmi menetapkan Budaya Sarapan Malaysia sebagai Warisan Budaya Tak benda Kemanusiaan. Dalam daftar tersebut, Teh Tarik disebut sebagai salah satu menu utama bersama Nasi Lemak dan Roti Canai.
Keputusan ini memicu gelombang kecemasan di Indonesia. Namun pemerintah kedua negara sudah sejak 2009 sepakat untuk menghindari polemik klaim budaya demi menjaga hubungan bilateral. Pilihan bijak, karena bagaimanapun juga, perdebatan asal-usul hanya akan membuahkan kepahitan sedangkan teh tarik itu sendiri tercipta untuk menyatukan, bukan memecah belah.
Simbol Kebersamaan Yang Abadi
Di tengah semua kontroversi, satu fakta tak terbantahkan: teh tarik hidup di hati masyarakatnya. Di kedai kopi, ia menemani obrolan santai buruh dan pejabat. Di rumah-rumah, ia menjadi menu istimewa saat berkumpul bersama keluarga. Di restoran, teknik “menarik” teh telah menjadi atraksi yang menghibur pengunjung dari berbagai negara.
Para pembuat teh tarik atau penarik teh bahkan kerap menjadi selebriti lokal. Siapa pun yang bisa menarik teh setinggi mungkin dengan presisi sempurna akan memiliki pelanggan setia yang rela antre berjam-jam. Keterampilan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, membentuk tradisi yang terus hidup hingga hari ini.
Menikmati Tanpa Bertengkar
Maka, apa sebenarnya teh tarik?
Ia adalah minuman para imigran miskin yang mengubah pahit menjadi manis. Perpaduan tiga bangsa yang duduk di satu meja tanpa curiga. Saksi bisu sejarah kolonialisme, perkebunan karet, dan gelombang migrasi lintas samudra. Simbol keberagaman yang meleleh dalam satu tegukan. Dan, tentu saja, buah perdebatan sengit antara Malaysia, Indonesia, dan Singapura yang masing-masing merasa berhak memilikinya.
Namun bukankah semua itu hanya memperkaya cerita?
Seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir, teh tarik telah melewati sungai-sungai sejarah yang berbeda: ada yang lahir di perkebunan karet Malaysia, ada yang tumbuh di kedai tepi pantai Riau, ada pula yang meracik ulang di kedai kopi Singapura. Pada akhirnya, semua aliran ini bertemu di samudra yang sama: samudra rasa yang dinikmati jutaan orang setiap hari.
Jadi, dari pada bertengkar soal “milik siapa,” lebih baik kita duduk bersama di warung pinggir jalan, memesan segelas teh tarik hangat, dan menyeruputnya dengan tenang. Biarkan rasa manis, kental, dan buih lembutnya meleleh di lidah.
Di sanalah letak keajaiban sejati teh tarik: ia bukan milik satu bangsa. Ia milik siapa pun yang haus akan kehangatan.
Dan bukankah kita semua, pada akhirnya, hanya sedang mencari kehangatan?
Seruput Teh Tarik Dan Selamat Menikmati.
Batu, 9 Maret 2026















© 2026 potretonline.com







