Oleh Fery Ferdian
Di dunia ini, manusia berlomba-lomba mencari modal. Ada yang mengejar harta, jabatan, ilmu, hingga relasi, berharap semuanya bisa menjamin kebahagiaan. Namun, seringkali kita lupa pada satu modal paling fundamental, yang diberikan secara adil kepada setiap manusia tanpa terkecuali, sejak lahir hingga napas terakhir. Modal itu bukan uang, bukan pula kepintaran. Modal itu bernama Waktu.
Dalam perspektif agama—khususnya Islam—waktu bukan sekadar angka di kalender atau detak jam. Waktu adalah amanah tertinggi. Allah SWT bahkan berulang kali bersumpah atas nama waktu dalam Kitab Suci-Nya: “Wal ‘Asri, Demi Masa…” [QS. Al-‘Ashr].
Sumpah ini bukanlah tanpa alasan. Ini adalah peringatan keras bahwa manusia, tanpa terkecuali, berada dalam kerugian besar jika ia membiarkan waktu berlalu tanpa makna.
Adapula ungkapan “waktu adalah emas” sering dikaitkan dengan pepatah Arab al-waqtu atsmanu minadz dzahabi (waktu lebih mahal dari emas).
Waktu adalah modal yang unik. Ia tidak bisa disimpan, tidak bisa dihentikan, dan mustahil untuk diputar kembali. Berbeda dengan uang yang jika hilang bisa dicari, waktu yang berlalu sedetik saja, hilanglah sebagian dari umur kita selamanya.
Setiap manusia diberikan “modal waktu” yang sama: 24 jam sehari. Namun, perbedaan terletak pada bagaimana modal itu diinvestasikan. Ada yang menginvestasikannya untuk ketaatan, menanam kebaikan, dan memanen pahala.
Ada pula yang menyia-nyiakannya untuk kesia-siaan, mengabaikan kewajiban, hingga akhirnya waktu habis tanpa membawa bekal apa pun untuk kehidupan abadi.
Rasulullah SAW bersabda, ada dua nikmat yang sering dilupakan manusia: nikmat sehat dan waktu luang. Kita sering merasa “masih ada hari esok”, “masih muda”, atau “nanti saja kalau sudah tua”.
Padahal, waktu adalah pedang. Jika kita tidak menggunakannya untuk menebas kebaikan, maka waktu yang akan menebas dan menghancurkan kita dalam penyesalan.
Hidup ini sejatinya adalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian dari diri kita [Al-Hasan al-Bashri]. Jangan sampai modal termahal ini berakhir menjadi utang yang membebani di akhirat.
Maka, jadikanlah waktu sebagai bekal, bukan beban. Gunakan untuk sujud, berbagi, menuntut ilmu, dan berbakti kepada kedua orang tua.Karena sesungguhnya, orang yang paling kaya bukanlah mereka yang memiliki gudang uang, melainkan mereka yang mampu menggunakan waktu modal utamanya untuk meraih rida Sang Pencipta sebelum waktu itu sendiri berakhir.









Diskusi