Minggu, April 19, 2026

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b
Ilustrasi: Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai
  • Pengantar Buku 50 Penulis dari 11 Negara Mencipta Puisi Esai Bersama Soal Bencana Sumatra

Oleh Denny JA

Malam itu hujan turun seperti tak pernah diajari berhenti. Di lereng bukit, sebuah mobil kecil berhenti sejenak. Di dalamnya, satu keluarga tertawa pelan, menutup hari yang biasa.

Seorang anak memungut daun berbentuk hati, menyimpannya seperti kenangan kecil yang tampak sepele. Lalu tanah bergerak. Pelan, hampir seperti napas terakhir.

Bukit yang tua itu runtuh, bukan karena ingin, tetapi karena tak lagi sanggup berdiri. Akar-akar yang dulu memeluknya telah dicabut oleh tangan yang tak mengenal namanya. Dalam satu hentakan, tawa itu hilang. Enam nama kembali ke sunyi. Mereka serentak wafat.

Di kejauhan, grafik keuntungan perusahaan naik perlahan. Di kota, rapat tetap berlangsung seperti biasa.

Dan di antara keduanya, puisi esai lahir. Puisi yang bukan sekadar kata, tetapi kesaksian.

-000-

Buku Lima Puluh Puisi Esai Soal Bencana Sumatra, Edisi Enam Bahasa adalah sebuah ruang pertemuan yang unik antara sastra, fakta, dan nurani. Ia bukan sekadar antologi puisi, melainkan dokumentasi batin dari sebuah zaman yang terluka.

Buku ini menghadirkan 50 penulis dari berbagai latar belakang dan negara, menjadikannya bukan hanya karya sastra, tetapi juga gerakan kultural lintas batas.

Ada penyair dari Aceh (D. Kemalawati) hingga Papua (Esther Haluk). Ada sastrawan senior, dari Jamal D Rahman, Agus R Sarjono, Gol A Gong, Isbedy D Setiawan hingga Okky Madasari. Ada aktivis puisi esai, mulai dari Fatin Hamama, Monica JR, Ahmad Gaus hingga Jonminofri.

Ada penulis dari Malaysia Datuk Jasni Matlani, hingga dari Jerman Berthold Damhauser. Koordinator sekaligus editor buku ini adalah Amelia Fitriani.

Sebagaimana ditulis dalam pengantar editor, puisi esai hadir sebagai ruang pertemuan antara fakta dan rasa, antara realitas sosial dan refleksi personal.

Ia tidak mengenal batas geografis dan justru tumbuh dari kegelisahan yang sama tentang manusia, luka, dan harapan. Buku ini menjadi bukti bahwa bentuk ini mampu melampaui sekat budaya dan bahasa.

Puisi esai sebagai genre menggabungkan kekuatan narasi, data, dan empati. Ia tidak berhenti pada keindahan bahasa, tetapi menembus realitas sosial yang keras.

Dalam buku ini, bencana ekologis Sumatra menjadi panggung utama, tetapi sesungguhnya yang dibicarakan lebih luas: hubungan manusia dengan kekuasaan, dengan alam, dan dengan dirinya sendiri.

Buku ini tidak dibuat untuk menghibur. Ia dibuat untuk menggugah. Ia lahir dari kegelisahan kolektif. Dari kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara kita membangun dunia.

Tema utamanya jelas: luka ekologis, kegagalan kebijakan, dan panggilan untuk kembali pada nurani.

-000-

Merenungkan buku ini, terasa tiga keunggulannya. Keunggulan pertama: keberanian moral.

Buku ini tidak bersembunyi di balik metafora. Ia menyebut. Ia menuding. Ia mengungkap bahwa bencana bukan sekadar hujan, tetapi hasil dari izin, tanda tangan, dan keputusan politik.

Dalam banyak puisi, alam tidak lagi sekadar latar. Ia menjadi saksi. Bahkan hakim. Bukit yang runtuh bukan sekadar objek, tetapi subjek yang bersuara.

Ia seperti mengatakan bahwa setiap longsor adalah kontrak yang ditandatangani manusia dengan konsekuensi yang tak ia bayangkan.

Keberanian ini penting. Sastra sering kehilangan daya kritis ketika berhadapan dengan kekuasaan. Buku ini mengembalikan fungsi sastra sebagai kritik yang hidup.

Ia tidak netral. Ia berpihak. Dan dalam keberpihakan itulah, ia menemukan maknanya.

-000-

Keunggulan kedua: perpaduan antara fakta dan emosi.

Puisi dalam buku ini tidak berdiri di ruang kosong. Ia puisi esai, yang ditopang data, catatan kaki, dan realitas konkret. Kita membaca angka korban, wilayah terdampak, hingga kebijakan pemerintah yang kontroversial.

Namun data itu tidak dingin. Ia dihidupkan oleh cerita.

Seorang ibu yang memakan padi agar bisa menyusui bayinya.
Seorang anak yang menemukan ibunya dalam posisi sujud di bawah lumpur. Seorang lelaki yang kehilangan seluruh keluarganya dalam satu malam.

Fakta memberi legitimasi. Emosi memberi kedalaman.

Ketika keduanya bertemu, puisi esai tidak lagi sekadar dibaca. Ia dialami.

-000-

Keunggulan ketiga: jembatan lintas budaya dan kesadaran global.

Buku ini melibatkan penulis dari berbagai negara. Banyak di antara mereka baru pertama kali menulis puisi esai, namun mampu mengadaptasi bentuk ini ke dalam konteks sosial masing-masing.

Ini menunjukkan satu hal yang mendasar: penderitaan manusia bersifat universal.

Bahasa boleh berbeda. Geografi boleh jauh. Namun luka ekologis, kehilangan, dan harapan adalah pengalaman yang sama.

Puisi esai menjadi bahasa bersama. Ia melampaui batas negara, agama, dan identitas.

Dan di sanalah ia menemukan kekuatannya sebagai medium global yang beresonansi lintas budaya.

Pada titik itu, puisi esai berhenti sekadar menjadi genre. Ia menjelma cermin yang memaksa pembaca bertanya: di pihak mana aku berdiri ketika bumi dan sesama sedang dilukai?

-000-

Saya masih ingat satu perjalanan ke wilayah hulu energi di Indonesia. Di sana saya berdiri di tepi sebuah kawasan yang dulu hutan, kini terbuka seperti luka yang belum sempat sembuh.

Seorang warga mendekat dan berkata pelan, “Dulu kami hidup dari hutan. Sekarang kami hidup dari menunggu bantuan.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang saya.

Dalam rapat-rapat, saya sering mendengar istilah produksi, efisiensi, dan pertumbuhan. Angka-angka itu terasa rasional. Tetapi di lapangan, saya melihat wajah-wajah yang tak pernah masuk ke dalam grafik.

Ketika menulis puisi esai tentang bukit yang menangis, saya sadar bahwa ini bukan sekadar karya sastra. Ini adalah cara untuk mengembalikan suara kepada mereka yang tak terdengar.

Puisi esai membuat saya tidak lagi nyaman dengan jawaban sederhana. Ia memaksa saya melihat bahwa setiap keputusan ekonomi selalu memiliki konsekuensi manusiawi.

Ia mengganggu. Ia mengusik. Dan justru karena itu, ia perlu.

-000-

Ada dua buku yang membantu kita memahami sastra sebagai medium kritik sekaligus ruang perenungan.

Pertama, The Environmental Imagination karya Lawrence Buell (Harvard University Press, 1995).

Buku ini menjelaskan bagaimana sastra dapat menjadi alat kesadaran ekologis. Buell menunjukkan bahwa karya sastra tidak hanya mencerminkan alam, tetapi juga membentuk cara manusia memahaminya.

Dalam kerangka ini, puisi bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi medium etis yang menghubungkan manusia dengan lingkungan. Ia memperluas empati dan membangun hubungan emosional dengan alam.

Buell menegaskan bahwa krisis lingkungan bukan hanya krisis ilmiah, tetapi krisis imajinasi. Manusia gagal membayangkan dampak jangka panjang dari tindakannya.

Di sinilah sastra berperan. Ia menghidupkan yang tak terlihat. Ia memberi suara pada yang tak terdengar.

Dalam puisi esai, konsep ini hadir dengan jelas. Alam tidak lagi diposisikan sebagai objek, tetapi sebagai subjek yang memiliki suara dan makna.

-000-

Kedua, Writing for an Endangered World karya Lawrence Buell (Harvard University Press, 2001).

Buku ini memperluas gagasan tentang bagaimana sastra membentuk cara kita melihat dunia. Buell menekankan bahwa imajinasi lingkungan adalah kunci perubahan perilaku manusia. Tanpa imajinasi, data tidak cukup.

Ia menunjukkan bahwa karya sastra yang kuat mampu membuat pembaca merasakan, bukan hanya memahami. Dari sanalah empati lahir.

Buell juga mengkritik modernitas yang memisahkan manusia dari alam. Sastra, menurutnya, adalah cara untuk menyatukan kembali hubungan tersebut.

Puisi esai bekerja tepat di titik ini. Ia menghubungkan fakta dengan rasa, kebijakan dengan dampak manusia.

Dan di dalam keterhubungan itu, kesadaran mulai tumbuh.

-000-

Mampukah bentuk puisi esai yang hibrida ini tetap dianggap sebagai sastra murni? Atau ia hanya akan terjebak menjadi pamflet politik yang didramatisasi?

Kritik sering muncul bahwa catatan kaki yang padat dapat mematikan imajinasi pembaca.

Akan tetapi, di situlah letak kekuatannya: puisi esai tidak membiarkan pembaca tersesat dalam ambiguitas estetika saat nyawa manusia sedang dipertaruhkan.

Ia justru menggunakan fakta sebagai jangkar agar empati tidak menguap menjadi sekadar sentimentalitas belaka.

Pada akhirnya, puisi esai bukan sekadar bentuk sastra. Ia adalah cara berpikir.

Ia mengajarkan bahwa kritik tidak harus dingin. Bahwa empati tidak harus lemah. Bahwa kata-kata bisa menjadi tindakan.

Di dunia yang penuh angka, puisi mengingatkan kita pada manusia.

Puisi esai adalah cermin yang jujur. Ia memantulkan bukan hanya wajah dunia, tetapi juga luka yang kita sembunyikan darinya.

Dan jika kita berani menatapnya cukup lama, kita akan menyadari satu hal yang sederhana namun menentukan:

bumi tidak pernah meminta diselamatkan, manusialah yang harus belajar berhenti melukai dirinya sendiri.***

Jakarta, 19 April 2026

-000-

REFERENSI

  1. The Environmental Imagination — Lawrence Buell, Harvard University Press, 1995
  2. Writing for an Endangered World — Lawrence Buell, Harvard University Press, 2001

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1E3u8LAfni/?mibextid=wwXIfr
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Denny JA
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist