Oleh : Kasmawati
Desa Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh
Di era globalisasi sekarang ini, segala macam fasilitas komunikasi sangat cepat diakses oleh semua kalangan, termasuk juga oleh kalangan anak-anak dan remaja.
Bagi anak dan remaja yang sedang berada pada masa transisi dari usia anak-anak menuju ke usia dewasa. Di masa itulah mereka merasa labil karena tidak ingin dikatakan sebagai anak-anak lagi. Sementara untuk dikatakan dewasa juga belum pantas. Di masa inilah mereka ingin mencari jati diri siapakah saya? Ingin menjadi apa saya? Apa tujuan hidup saya?
Kita bersyukur jika mereka dapat berpikir kritis seperti itu, tetapi bagi mereka yang hanya mengikuti kehidupan seperti mengikuti aliran air saja. Tanpa dibentengi dengan keluarga yang memperhatikan mereka serta keimanan dan ketakwaan, dapat berakibat fatal.
Komunikasi dan informasi yang tanpa filter dapat mempengaruhi pikiran remaja dalam bergaul. Media internet yang universal dapat dengan mudah diakses oleh remaja kita. Jika itu yang bersifat positif, tapi jika mereka mengakses hal-hal yang tidak sesuai dengan etika dan moral. Itu dapat mempengaruhi perilaku remaja-remaja kita dalam bergaul.
Remaja-remaja saat ini dapat dengan mudah membuka situs porno di internet. itulah yang menjadi pemicu pergaulan bebas. bahkan banyak remaja-remaja kita yang telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Belum lagi lingkaran setan narkoba yang selalu menghantui kehidupan para mereka.
Mau dibawa kemana masa depan mereka jika dari dini mereka telah menghadapi hal-hal yang demikian itu? Seharusnya masa remaja diwarnai dengan masa mencari ilmu untuk membina masa depan, tetapi malah harus menanggung risiko yang sudah pasti akan mereka dapatkan sebagai buah hasil perbuatannya. Jerat hukum pasti akan mereka rasakan.
Di satu sisi jika kita melihat dari kacamata orang awam, para remaja yang melakukkan kenakalan-kenakalan yang kadang menjurus ke tindakan kriminal itu adalah korban dari salah bergaul dan salah menggunakan kemajuan teknologi.
Seharusnya mereka memanfaatkan teknologi komunikasi untuk memperkaya pengetahuan, bukan malah menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Sebagai ibu bagi anak-anak tersebut, kita mesti waspada terhadap realita yang seperti ini, karena peran kita sebagai ibu buat mereka sangat penting. Kita bisa bersama membimbing, bahkan menjadi teman curhat bagi anak kita. Ini adalah wujud dari keluarga yang harmonis.
Keluarga yang harmonis merupakan benteng utama bagi masuknya pengaruh-pengaruh yang tidak baik buat remaja. Kita bisa berperan membina keluarga serta membaca keluarga itu ke arah mana. Pendekatan relijius merupakan salah satu cara untuk menghindari tindakan remaja yang ,menyimpang.
Sebisanya kita menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan sedini mungkin bagi anak-anak kita serta menciptakan suasana yang nyaman serta penuh kasih sayang bagi buah hati kita. Sehingga mereka merasa lebih memilih berkumpul dengan keluarga dibandingkan bergaul dengan lingkungan yang tidak baik.
Perhatian kita juga dibutuhkan untuk memperhatikan dengan siapa putra-putri kita dalam bergaul. Karena dari pergaulan di luar rumah yang tidak terkontrol, menjadi pemicu pertama anak-anak remaja keluar dari garis etika dan moral.
Hal ini kita lakukan tanpa sikap mengekang dan tidak mengabaikan demokrasi terhadap kebebasan anak. Karena bagaimanapun remaja pasti tidak suka terlalu dikekang, karena mereka merasa bukan anak-anak lagi. Tetapi mereka juga belum dewasa untuk dapat menentukan segala perbuatan tanpa campur tangan orang tua.
Perlakuan kita terhadap mereka mesti agak hati-hati, sebab kadang niat kita untuk mengawasi pergaulan mereka bakal dianggap sebagai sebuah pengekangan. Sehingga menimbulkan pemberontakan bagi anak itu sendiri.
Di sini komunikasi antar ibu dan anak serta komunikasi anak dengan lingkungan, membawa andil yang penting bagi terlaksananya keharmonisan keluarga. Tinggal bagaimana kita sebagai perempuan sekaligus sebagai ibu untuk menciptakan keharmonisan tersebut.
Selain pendekatan yang relijius kita dapat menanamkan pada remaja bahwa sanksi sosial dan sanksi hukum dapat kita terima jika kita salah memilih pergaulan.
Kita akan merasa tersingkir dari lingkungan jika kita melakukan perbuatan yang melanggar etika. Hukum juga akan menjerat kita walaupun usia kita belum dewasa. Usia remaja yang belum matang mempengaruhi juga daya tahan tubuhnya terhadap asupan barang-barang terlarang yang bisa berujung pada kematian. Juga alat reproduksi yang belum siap untuk bereproduksi jika remaja terlalu cepat untuk mempunyai anak bisa mengakibatkan kematian juga bagi si ibu. Oleh karena itu lebih baik mencegah pergaulan yang bebas dibandingkan mesti menanggulangi jika hal itu telah terjadi. Sebagai ibu bagi anak-anak di era global ini, ibu-ibu memnag harus selalu cerdas.
Oleh sebab itu, jangan pernah berhenti untuk belajar, menjadi perempuan yang pembelajar. Semakin cerdas seorang ibu, maka semakin banyak cara untuk berperan membangun masa depan anak yang lebih baik. Prempuan adalah kunci bagi pembanguna mental anak kini dan esok
























Komentar