POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Bagian 6

RedaksiOleh Redaksi
July 29, 2022
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
🔊

Dengarkan Artikel

Bussairi D. Nyak Diwa

Mengawali tahun 1980, mulailah aku mondok di Pesantren Ashhabul Yamin Bakongan, Aceh Selatan. Proses hijrahku dari kampung halaman ke ibukota kecamatan itu tidaklah rumit; lempang-lempang saja. Suatu hari hari Ayah membawaku menjumpai Nek Abu di rumah Beliau di Desa Keudee Bakongan. Lalu Ayah menjelaskan keinginan Beliau untuk ‘menitipkan’ aku di Pesantren Ashhabul Yamin. Ayah berharap, sambil sekolah aku dapat mengaji.

Nek Abu, yang sudah sejak lama menjadi guru spiritual dan guru rohani Ayah, sangat mendukung keinginan Ayah. Beliau kemudian malah berpesan dan menasehatiku agar aku sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, ilmu dunia dan terlebih-lebih ilmu untuk akhirat. Dengan penuh takzim aku mendengar dan menghayati setiap nasihat dan petuah Nek Abu. Ayah lebih banyak memilih diam.

Di kompleks Pesantren Ashhabul Yamin aku tinggal di sebuah kamar paling ujung dari bangunan perpustakaan pesantren. Di bangunan itu sebelumnya juga sudah tinggal dua orang teungku; Teungku Cunda dan Teungku Rusli. Teungku Cunda (sampai hari ini aku tidak tahu nama asli Beliau) berasal dari Cunda Lhokseumawe. Sedangkan Teungku Rusli berasal dari Aceh Tengah. Keduanya masih lajang.

Sebenarnya pesantren yang satu-satunya terdapat di wilayah Bakongan kala itu,banyak memiliki asrama dan rangkang. Saat itu anak-anak yang nyantri pun banyak jumlahnya. Tapi sebagian dari santri-santri itu statusnya sama juga seperti aku; sekolah sambil mengaji.

📚 Artikel Terkait

Democratic Policing, Regresi Demokrasi dan Reformasi Polri

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Menyoal Gonta Ganti Kurikulum Pendidikan di Indonesia

KAKI MELANGKAH, MATA MENATAP, HATI MENIKMATI KEINDAHAN MUSIUM PIDIE JAYA.

Meskipun banyak asrama dan rangkang yang kosong, aku tidak ditempatkan di rangkang atau di asrama bersama santri-santri yang lain, tetapi aku ditempatkan di sebuah kamar terpisah di sudut bangunan perpustakaan pesantren.

Di bangunan perpustakaan pesantren itu terdapat beberapa kamar, ada yang besar dan ada yang kecil. Kamar yang paling besar -kami sering menyebutnya aula perpustakaan- digunakan sebagai ruang baca. Di ruangan ini banyak terdapat rak-rak yang dipenuhi oleh bermacam-macam buku dan majalah. Beberapa meja besar dan kursi berderet teratur di ruangan ini. Tentu sebagai tempat para penginjung membaca buku.  Sayannya jarang sekali ada santri atau guru-guru yang datang ke ruangan ini untuk membaca. Di sudut sebelah kiri ruangan ini terdapat sebuah kamar berukuran tiga kali empat. Kamar ini khusus ditempati oleh Teungku Cunda.

Selama tinggal di perpustakaan aku banyak belajar dari kedua teungku yang masih lajang itu, baik ilmu keduniawian baik ilmu yang menyangkut dengan keakhiratan. Di samping itu, waktu-waktu luang sering kuhabiskan di ruang perpustakaan yang luas itu untuk membaca. Banyak buku dan majalah yang menjadi konsumsiku mengisi waktu luang. Terkadang aku sering duduk-duduk di perpustkaan dengan Teungku Cunda sambil berdiskusi. Beliau juga ternyata suka membaca buku-buku dan majalah.

Teungku Cunda sering menjelaskan kepadaku tentang beberapa ilmu yang ada kaitannya antara di buku dan di dalam kitab. Misalnya tentang ilmu falak, dari Beliaulah pertama aku tahu bahwa ilmu perbintangan atau ilmu melihat bulan ada dibahas di dalam kitab kuning. Sayangnya, waktu itu aku tidak begitu serius mengikuti setiap ulasan yang disampaikan oleh Teungku Cunda, karena aku belum mengerti betul tentang ilmu yang rumit itu.

Hari Minggu atau hari libur, kedua teungku ini sering mengajakku ke kebun; kebun Nek Abu yang terletak kurang lebih lima kilometer ke arah timur kota Bakongan. Kami berjalan kaki ke kebun ini melewati pantai yang ditumbuhi batang cemara dan batang kelapa di sepanjang pantai. Lima ratus meter sebelum sampai ke kebun kami harus menyeberangi sebuah kuala dengan pantainya yang indah dan menawan. Kualanya dangkal dengan riaknya yang kecil-kecil sehingga kami mudah menyeberanginya. Di ujung kuala itu, persis di samping kebun terdapat pohon-pohan cemara yang teratur. Sungguh sangat indah dan menawan. Aku sangat suka ke kebun, karena di samping dapat bekerja memeras keringat, aku juga dapat memanjakan mata dengan pemandangan bahari yang aduhai. Dari pantai ini aku juga dengan bebas dapat melihat ‘Pulau Dua’ yang melegenda itu. Bakongan sejak dulu memang terkenal memiliki pantai-pantai yang indan dan menawan.

 

(Bersambung)  

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Menanti Pagi

Menanti Pagi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00