Oleh Muhammad Syawal Djamil
(Praktisi Pendidikan/Relawan Bencana Banjir Aceh dari Sekolah Sukma Bangsa Pidie)
Mau diakui atau tidak, disadari atau tidak, hidup di Aceh dan sebagian wilayah Sumatera berarti hidup berdampingan dengan bencana. Gempa bumi, banjir, hingga tanah longsor bukan lagi peristiwa langka, melainkan bagian dari realitas sehari-hari. Kita tahu risikonya ada –dan memang akan selalu ada.Namun, ada satu hal yang sering terasa belum sepenuhnya siap di kita, yakni pendidikan.
Setiap kali bencana datang, kita seperti mengulang cerita yang sama. Sekolah rusak, kegiatan belajar berhenti, anak-anak kehilangan ruang untuk belajar. Lalu ketika keadaan mulai pulih, bangunan diperbaiki, kelas dibuka kembali, dan pelajaran dilanjutkan. Semuanya seolah kembali normal. Tapi, benarkah kita sudah benar-benar “pulih”?
Pendekatan yang hanya berfokus pada kembali ke kondisi semula terasa kurang cukup. Ia tidak menjawab pertanyaan yang lebih penting: bagaimana jika bencana datang lagi? Apakah kita akan mengulang siklus yang sama? Di sinilah kita perlu mulai berpikir dan menata ulang nalar kita tentang pendidikan yang tangguh.
Tentu, memulihkan fasilitas pendidikan tetap penting –bahkan mendesak. Sekolah bukan hanya bangunan, tetapi juga simbol harapan. Bagi banyak anak, kembali ke sekolah adalah tanda bahwa hidup perlahan membaik.
Namun, pemulihan tidak boleh berhenti pada pembangunan ulang. Kita tidak bisa terus membangun kembali sekolah yang sama dengan kerentanan yang sama. Setiap bencana seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki, bukan sekadar mengganti. Artinya, pendidikan harus dirancang lebih siap menghadapi gangguan.
Kita perlu mulai melihat pendidikan sebagai sistem yang fleksibel. Ketika ruang kelas tidak bisa digunakan, proses belajar seharusnya tetap bisa berjalan. Tidak harus selalu dengan teknologi canggih, tapi cukup alternatif sederhana seperti modul belajar mandiri atau kelas berbasis komunitas bisa menjadi solusi.
Dukungan Psikososial dan Peran Komunitas
Selain fasilitas, kondisi psikologis siswa juga sering luput dari perhatian. Bencana meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat. Kehilangan rumah, orang terdekat, atau rasa aman bisa berdampak besar pada anak-anak. Dalam situasi seperti ini, memaksa mereka langsung kembali ke rutinitas akademik tanpa ruang pemulihan justru bisa memperburuk keadaan. Kadang, yang paling dibutuhkan bukanlah pelajaran baru, tetapi rasa aman.
Guru pun perlu didukung untuk memahami hal ini. Pendidikan pascabencana bukan hanya soal mengejar ketertinggalan kurikulum, tetapi juga tentang memulihkan manusia di dalamnya.
Di sisi lain, kita juga perlu mengakui bahwa sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Dalam banyak situasi darurat, justru masyarakat yang menjadi penopang utama agar anak-anak tetap bisa belajar. Dari ruang belajar di masjid hingga kelas sederhana di rumah warga, komunitas sering kali menjadi solusi ketika sistem formal terhenti. Ini menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya adalah tanggung jawab bersama.
Edukasi Kebencanaan
Hal lain yang tak kalah penting adalah edukasi kebencanaan. Di wilayah seperti Aceh, pengetahuan tentang bagaimana menghadapi bencana seharusnya bukan pelengkap, melainkan bagian inti dari pembelajaran.
Anak-anak perlu tahu apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi, ke mana harus pergi, dan bagaimana melindungi diri. Lebih dari itu, pemahaman ini membantu membangun kesiapan mental—sesuatu yang sering kali menentukan bagaimana seseorang merespons situasi darurat.
Masalahnya, semua ini sulit terwujud jika kita masih berpikir bahwa tujuan utama setelah bencana adalah “kembali seperti semula”. Mungkin sudah saatnya kita menggeser cara pandang: bukan sekadar pulih, tetapi menjadi lebih siap. Karena pada akhirnya, bencana bukan soal kemungkinan—melainkan kepastian yang tinggal menunggu waktu.
Aceh sudah memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi bencana. Dari pengalaman itu, semestinya kita belajar bahwa ketangguhan tidak lahir dari kondisi yang nyaman, tetapi dari kemampuan untuk beradaptasi dalam situasi sulit.
Pendidikan seharusnya menjadi bagian dari proses itu. Sebab pendidikan yang kuat bukanlah yang tidak pernah terganggu, melainkan yang tetap bisa berjalan, menyesuaikan diri, dan memberi harapan—bahkan di saat keadaan sedang tidak baik-baik saja.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
















Discussion about this post