Dengarkan Artikel
Oleh Aswan Nasution
Ada kalimat yang sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, suatu hari menyarankan masyarakat menghemat LPG dengan cara yang, katanya, praktis: matikan kompor ketika masakan sudah matang.
Kalimat itu langsung memantul seperti bola karet di ruang publik. Ia melompat dari layar ponsel ke meja warung kopi. Ia berubah menjadi meme, menjadi ejekan, menjadi bahan tertawaan. Media sosial penuh komentar sinis. Banyak orang merasa kalimat itu terlalu sederhana—bahkan terasa seperti menganggap rakyat tidak tahu cara menggunakan kompor.
Reaksi publik pun datang cepat. Sindiran mengalir deras. Seorang menteri berubah menjadi topik hiburan nasional.
Tetapi di tengah riuh itu, ada sesuatu yang diam-diam menghilang: pertanyaan yang sebenarnya lebih penting. Apa sebenarnya masalah LPG di Indonesia?
Di sinilah politik modern menunjukkan salah satu seni lamanya: mengalihkan pandangan.
Dalam ilmu komunikasi politik ada istilah yang cukup dingin bunyinya: diversionary communication. Sebuah strategi yang tidak rumit. Ketika persoalan besar terlalu berat untuk dijelaskan—atau terlalu berbahaya untuk dibuka—perhatian publik dialihkan ke sesuatu yang lebih gaduh, lebih emosional, lebih mudah diperdebatkan.
Caranya sederhana. Lemparkan satu kalimat yang memancing reaksi. Biarkan rakyat marah. Biarkan mereka tertawa. Biarkan mereka saling mengejek.
Sementara itu, persoalan yang lebih besar berjalan tanpa lampu sorot.
Politik kadang bekerja seperti panggung sulap. Seorang pesulap menggerakkan tangan kiri dengan sangat dramatis. Penonton terpukau. Mata mereka mengikuti gerakan itu. Padahal tangan kanan sedang melakukan trik yang menentukan seluruh pertunjukan.
Dalam politik, tangan kiri itu adalah kegaduhan. Tangan kanan itu adalah kebijakan. Masalahnya, kita sering terlalu lama menatap tangan kiri.
Republik ini sebenarnya punya sejarah panjang dalam hal semacam itu. Kita sering lebih tertarik pada pinggiran daripada inti. Kita mudah terpikat pada anekdot daripada struktur masalah.
Ingat ketika MotoGP pertama digelar di Mandalika? Balapan itu adalah peristiwa besar: investasi raksasa, diplomasi olahraga, dan strategi pariwisata nasional. Tapi percakapan publik justru berbelok ke satu figur yang tidak ada hubungannya dengan mesin balap: pawang hujan.
Nama itu menjadi sensasi nasional. Ia dibahas di televisi, di podcast, di timeline media sosial. Banyak orang tertawa, banyak yang percaya, banyak pula yang mencibir.
Balapannya sendiri? Hampir menjadi latar belakang. Seolah-olah bangsa ini memiliki kegemaran aneh: melihat bunga, bukan batang pohonnya.
Padahal persoalan energi LPG jauh lebih serius daripada satu kalimat tentang kompor. Ia menyangkut ketergantungan impor, subsidi negara, dan keamanan energi rumah tangga jutaan orang.
Tetapi persoalan semacam itu tidak mudah dijadikan meme. Ia membutuhkan data, angka, dan kesabaran berpikir. Kegaduhan jauh lebih menarik.
Mungkin karena kegaduhan memberi kita hiburan instan. Ia membuat kita merasa terlibat dalam perdebatan besar tanpa harus benar-benar memahami masalahnya.
Dalam dunia yang bergerak cepat, perhatian adalah komoditas paling mahal. Siapa yang berhasil mengendalikan perhatian publik, dialah yang mengendalikan percakapan.
Dan percakapan publik sering kali menentukan arah politik. Karena itu pertanyaan yang sebenarnya bukan lagi tentang kompor atau LPG. Pertanyaannya lebih sederhana—dan mungkin lebih mengganggu:
Apakah kita sedang menyaksikan kebodohan yang spontan? Ataukah kita sedang melihat strategi yang sangat sadar?
Kadang jawabannya tidak perlu terlalu rumit. Dalam politik, kegaduhan hampir tidak pernah benar-benar kebetulan.
Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini










