Dengarkan Artikel
Oleh: Syarifudin brutu
Hu, sirna hu…
Tanahku dalam Hu
Napas di kerongkongan Hu
Yang fana peluk yang baka.
Hap, telan hap…
Aku menelan matahari
Menjadi api dalam daging
Membakar dosa-dosa sisa kemarin.
Tuhan,
Pecahkan cermin-Mu
Biar aku lihat wajah-Mu
Di retakan semen trotoar
Yang basah oleh air mata buruh harian.
Detak, pudar detak…
Jantungku berdentang logam
Pabrik di dada, asap di kepala
Aku adalah mesin yang berdoa.
Matahari hari ini warnanya karat
Meneteskan nanah ke atas seng rumah
Tempat anak-anak mengeja lapar
Sambil menghafal nama-nama menteri
Besi, karam besi…
Tuhan tak lagi duduk di singgasana awan
Dia sedang menyamar jadi kuli panggul
Di pelabuhan yang baunya busuk
Mencari keadilan di sela-sela peti kemas.
Lir, guling lir…
Hutan jadi debu
Sungai jadi air raksa
Langit warnanya abu-abu janda
Wut, ilang wut…
Burung-burung lupa terbang
Sebab udara adalah racun yang wangi
Di mana pintu surga?
Sudah digembok oleh korporasi.
Cari Tuhan?
Tanya pada beton yang angkuh
Dia tahu segalanya, tapi diam membatu.
Wahai penguasa langit dan bumi
Gadaikan saja nyawa kami
Pada bank-bank dunia yang kelaparan
Biar kami jadi bertaqwa
Dalam limbah pabrik milik negara.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini









