Dengarkan Artikel
Oleh NA Riya Ison
Banyak sukaduka selama saya ditugaskan sebagai LO di Lanud SIM. Salah satu yang akan selalu dikenang, saat seorang teknisi helikopter Caracal milik TNI AU meminta bantuan untuk mendorong helikopter.
Ternyata, helikopter setiap 2 (dua) hari terbang mesti menjalani perawatan dan pemeriksaan mesin secara seksama. Saat itu, Caracal berada di halaman dan akan dipindahkan akan mendekati Shelter Galaxy Lanud SIM tanpa hidupmesin.
“Pak, boleh minta tolong mendorong helikopter ini?” tanya teknisi tersebut. Saya balas bertanya, “Serius Pak, minta bantu dorong heli?” tanyaku kembali. Tentu saja, ini akan menjadi pengalaman menarik bagiku, mendorong helikopter. Yang kita tahu hanya mendorong mobil mogok, haha.
Boleh, ajak kawan lain? Tanyaku kembali. Boleh, jawabnya. Maka, secara beramai-ramai relawan dari Dinas Sosial, termasuk seorang sahabat relawan PMI masa konflik/tsunami Aceh, Taryuniadi, ikut mendorong.
Semua terlihat gembira, maklum mendorong helikopter tergolong luar biasa. Mendorong helikopter ukuran besar mendekati hanggar atau shelter ternyata ringan dan tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra.
Beberapa pekan saya tugas di Lanud SIM seperti ajang reunifikasi. Banyak jumpa sahabat yang biasa terlibat sebagai relawan dan filantrofi yang sudah lama tidak jumpa, ternyata bertugas juga di sana.
Di Lanud SIM ini juga saya dapat lebih banyak melihat dan mengenal sejumlah pesawat komersil dan non-komersil. Sebagai relawan, saya juga dapat mendekati sedekatnya pesawat dan helikopter yang ada di sana, bahkan dapat masuk ke dalam pesawat-pesawat tersebut saat loading mengangkat dan menurunkan logistik.
Momentum langka itu tidak saya lewatkan tanpa memotret atau selfie mengambil dokumen video. Sehingga akun Instagram dan Facebook saya banyak dipenuhi dengan konten tentang tugas saya saat itu.
Ada berita miring yang sempat beredar di Medsos bahwa barang logistik untuk korban bencana menumpuk di Lanud SIM dan tidak disalurkan kepada korban. Hal ini perlu dijelaskan, bahwa barang-barang tersebut akan dikirimkan sesuai skala prioritas. Perlu kehati-hatian dalam distribusi barang tersebut agar benar-benar terkirim sesuai kebutuhan.
Logistik yang ada di shelter sebenarnya datang dan pergi silih berganti, sehingga barang-barang seolah tetap menumpuk, dan menimbulkan dugaan terlambat disalurkan.
Banyak dari petugas dan relawan di Lanud SIM ini bekerja sampai malam hari dan tidak kenal lelah. Kesemuanya bekerja penuh semangat, tidak membedakan dari kesatuan, institusi, dan grup asal. Semua menyatu, saling menyemangati, dan bahu membahu, bekerja seperti tidak mengenal lelah.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya semua aktifitas di shelter dibatasi dan dihentikan pada sore hari. Beberapa sahabat yang mengetahui saya bertugas penanggulangan bencana di Lanud SIM, ada yang meminta tolong untuk terdaftar manifest sebagai penumpang dengan alasan urgensi. Seperti siswa boarding school yang saat itu mulai liburan sekolah dan harus pulang ke kampung halaman di Bener Meriah atau Aceh Tengah.
Alhamdulillah, setelah melalui proses persyaratan dipenuhi, beberapa di antaranya dapat menumpang pesawat dalam misi kemanusiaan tersebut untuk berkumpul dengan keluarga di daerah bencana.
Juga ada kisah menarik di mana seorang gadis tinggal di Aceh Besar asal Lampahan yang akan menikah. Ia mesti mengurus administrasi pernikahannya di Kantor UrusanAgama (KUA) tempat asalnya. Maka, dengan alasan urusan penting, akhirnya ia bisa terbang bersama Hercules.
Padahal, bila saat itu ia naik kendaraan umum, akan memakan waktu lama dengan aral rintang di jalan, sebab jembatan dan jalan masih belum bisa dilewati dengan nyaman.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











