• Latest
 Teungku Chik Lampaloh - fdc0b06d 66a7 42f6 a74b 976a8a189cd7 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online

 Teungku Chik Lampaloh

Mei 10, 2025
 Teungku Chik Lampaloh - 1001377472_11zon 1 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online

Ketika Sungai Mengalirkan Lebih dari Sekadar Air

April 20, 2026

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
 Teungku Chik Lampaloh - IMG_9514 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

 Teungku Chik Lampaloh

Nurkhalis Muchtar by Nurkhalis Muchtar
Mei 10, 2025
in #Ulama Kharismatik Aceh, #Ulama Nusantara, Aceh, Banda Aceh, ulama
Reading Time: 4 mins read
0
 Teungku Chik Lampaloh - fdc0b06d 66a7 42f6 a74b 976a8a189cd7 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Ulama Ahli Tafsir Aceh dan Keturunan Bangsawan Mataram.

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc.M.A

Beliau bernama Teungku Syekh Abdurrahman yang berasal dari keturunan Raja Mataram. Setelah lama belajar di Mekkah, beliau memilih menetap di Aceh dan mengajarkan ilmunya di Banda Aceh tepatnya di Lampaloh Batoh. Tidak diketahui kapan beliau tiba di Aceh, namun secara pasti beliau sampai di Aceh jauh sebelum terjadi perang dengan Belanda. 

Diperkirakan beliau tiba di Aceh awal tahun 1800 dan kemungkinan sebaya dengan Teungku Chik Muhammad Shaleh Tanoh Abee yang merupakan Qadhi Rabbul Jalil dan ayahnya Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee. Disebutkan karena berbagai pertimbangan yang terjadi di Kerajaan Mataram, maka Teungku Chik Lampaloh berangkat ke Mekkah dan memperdalam ilmunya hingga menjadi seorang Teungku Chik dan ulama besar.

Saat beliau tiba di Aceh, iklim Aceh ketika itu masih kondusif untuk mengajarkan ilmunya. Beliau secara khusus memiliki keahlian di bidang Tafsir Al-Qur’an. Sama seperti para teungku chik yang lain seperti Teungku Chik Kuta Karang yang ahli dalam pengobatan, Teungku Chik Pantee Kulu ahli dalam menyusun syair-syair yang menggugah, Teungku Chik Tanoh Abee ahli dalam kajian manuskrip dan kitab, Teungku Chik Lamgugob ahli dalam bidang mantiq dan logika dan para ulama lainnya juga demikian.

Keahlian Teungku Chik Abdurrahman Lampaloh dalam bidang tafsir menyebabkan beliau begitu masyhur dikenal di Aceh ketika itu, karena untuk kajian tafsir Al-Qur’an agak sedikit berkurang setelah wafatnya Syekh Abdurrauf al-Singkili yang dikenal dengan karyanya Turjuman al-Mustafid, dan Syekh Abdurrauf al-Singkili bisa dianggap sebagai ahli tafsir pertama di nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Dan umumnya para ulama yang dikenal ahli dalam bidang tafsir Al-Qur’an telah memiliki ilmu-ilmu penunjang lainnya, sehingga mampu menafsirkan Al-Qura’an sesuai dengan kerangka keilmuan yang benar.

Teungku Chik Abdurrahman Lampaloh menguasai dengan baik berbagai kitab tafsir yang ada seperti Tafsir Baidhawi, Jalalain, Shawi, Khazin dan kitab tafsir lainnya. Beliau disebutkan mampu menjabarkan makna dari setiap ayat dengan penjelasan yang mendetil mengenai ilmu-ilmu Al-Qur’an dan ilmu Qira’at yang berkaitan dengan bacaan Al-Qur’an. 

Sehingga tidak mengherankan pada masa terjadi peperangan Aceh, beliau merupakan salah satu ulama yang dibatasi gerak-geriknya, karena mengingat pemahaman agamanya yang mendalam dan pengaruhnya yang besar. Disebutkan dalam catatan Belanda bahwa Teungku Chik Abdurrahman Lampaloh merupakan seorang tokoh yang alim.

Kealiman Teungku Chik Lampaloh dalam bidang tafsir Al-Qur’an tersebar ke seluruh Aceh. Pada saat berkecamuknya perang Aceh, karena ruang geraknya yang dibatasi, beliau kemudian mengungsi ke daerah Indrapuri dengan anak dan isterinya. 

Setelah reda peperangan, beliau kembali ke Lampaloh untuk menghidupkan lagi pengajian-pengajiannya yang terbengkalai dalam iklim yang tidak kondusif. Maka mulailah beliau menata kembali kehidupannya untuk berjihad secara intelektual untuk masyarakatnya.

Pada masa hidupnya juga, beliau banyak dikunjungi oleh tokoh masyarakat dari Jawa khususnya Mataram yang merupakan tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan. Tidak terhitung masyarakat jawa yang datang kepada Teungku Chik Lampaloh untuk bersilaturahmi kepada salah satu keturunan raja mereka yang telah menjadi ulama besar. 

Disebutkan oleh cucunya Teungku Ishaq Saman bahwa masyarakat Mataram begitu menghormati dan memuliakan Teungku Chik Lampaloh, sehingga apabila berjumpa dengan beliau mereka mulai dari depan pintu rumahnya memberi penghormatan seperti kepada seorang raja. Tentu hal ini tidak beliau harapkan, namun demikianlah budaya penghormatan rakyat Mataram kepada raja dan bangsawan yang mereka hormati.

Bila memperhatikan kiprah dan keulamaan Teungku Chik Lampaloh, beliau bisa dianggap sebagai seorang ulama besar yang memiliki nilai spritual yang tinggi. Beliau seperti para teungku chik yang lain telah berkontribusi secara maksimal untuk mencerdaskan masyarakat Aceh. Apalagi bidang keahlian tafsir Al-Qur’an yang tidak banyak yang memiliki keahlian tersebut. 

Setelah era Syekh Abdurrauf al-Singkili, belum ditemukan ulama yang ahli dalam bidang Al-Qur’an, apalagi mengahdirkan karya tafsir seperti Turjuman al-Mustafid Syekh Abdurrauf. Baru di tahun 1813 ke atas hidup seorang ulama ahli tafsir dari Banten Syekh Nawawi al-Bantani dengan karya Marahun Labidatau dikenal dengan Tafsir al-Munir. 

Disebutkan oleh keturunan Teungku Chik Lampaloh bahwa Mushaf Al-Qur’an yang ditulis dengan tangan yang dimiliki oleh Teungku Chik Lampaloh penuh dengan catatan penjabaran makna dari penafsiran Al-Qur’an dengan berbagai sudut pandang ilmu Al-Qur’an.

Setelah berkiprah lama di Aceh, Teungku Chik Abdurrahman Lampaloh wafat dan di kuburkan di Batoh, Banda Aceh. Kuburan beliau tidak sepi dari peziarah yang datang dari berbagai tempat termasuk dari pulau Jawa. Menurut para peziarah, ada keutaman yang terasa pada diri Teungku Chik Lampaloh, baik ketika beliau masih hidup maupun setelah wafatnya sang ulama tersebut. Demikianlah para ulama dan ilmuan yang tulus akan terus dikenang.

Share234SendTweet146Share
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Next Post

IMLF 3: Ketika Literasi Mengalahkan Bisingnya Mesiu

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com