• Latest

IMLF 3: Ketika Literasi Mengalahkan Bisingnya Mesiu

Mei 10, 2025
Untitled design

Anak Pertama: Benarkah Selalu Lebih Mandiri dan Dewasa?

April 20, 2026
IMLF 3: Ketika Literasi Mengalahkan Bisingnya Mesiu - 1001377472_11zon 1 | IMLF | Potret Online

Ketika Sungai Mengalirkan Lebih dari Sekadar Air

April 20, 2026

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
IMLF 3: Ketika Literasi Mengalahkan Bisingnya Mesiu - IMG_9514 | IMLF | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

IMLF 3: Ketika Literasi Mengalahkan Bisingnya Mesiu

Redaksi by Redaksi
Mei 10, 2025
in IMLF, Literasi, Padang, Resolusi IMLF
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Dikdik Sadikin

Victor A. Pogadaev, seorang penerjemah Rusia, terjebak di Bandara Internasional Sheremetyevo, Moskow. Ia hendak terbang ke Indonesia menuju Padang pada 7 Mei 2025 lalu, ketika serangan drone Ukraina tiba-tiba saja mengguncang Moskow. Atas perintah berwenang di sana, ia dan para calon penumpang terpaksa menunda keberangkatannya. Padahal Victor ditunggu-tunggu kehadirannya di Tanah Minang. Dia lah penerjemah puisi-puisi Chairil Anwar ke dalam bahasa Rusia dalam antologi puisi berjudul “Pokoryat Vishinu” (Bertakhta di Atasnya), yang diterbitkan di Moskow oleh penerbit Klyuch-C pada tahun 2009.

Sementara itu, seorang penyair dari India menangis diam-diam di lobi hotel, mengenang tanah airnya yang kembali memanas oleh konflik dengan Pakistan. Dan dunia pun terasa rapuh, seperti halaman buku tua yang hampir lepas dari jilidnya.

Dunia memang tidak sedang baik-baik saja. Dentuman mesiu terdengar dari Donetsk yang menghitam oleh perang, hingga Delhi yang dirundung kabut ketegangan. Dari Kashmir yang meradang, hingga Gaza yang tak kunjung reda.

Namun, pada saat yang sama, di Padang dan Bukittinggi, di antara Jam Gadang dan Goa Kelelawar, di antara Mesjid Raya dan rumah puisi Taufik Ismail, Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3 (IMLF 3) digelar. Di ranah Minang, yang diwarisi pepatah alam takambang jadi guru, para penyair, sastrawan, dan pemikir dari 24 negara, memilih untuk membaca puisi, bukan menghitung amunisi. Mereka berkumpul sejak Kamis 8 hingga Senin 12 Mei 2025 untuk merayakan sesuatu yang nyaris tak terdengar: literasi. Bukan sebagai senjata, melainkan sebagai jembatan.

Tema IMLF 3 mengandung paradoks yang indah: Language, Literature, and Culture for Peace. Sebuah paradoks yang paling puitis. Saat negara-negara besar saling unjuk kekuatan dengan peluncur senjata, sebuah provinsi kecil di barat Indonesia justru menunjukkan bahwa kekuatan bisa juga datang dari kata-kata.

“Puisi tak bisa menghentikan peluru,” kata seorang bijak. “Tapi kadang ia bisa menunda peluru berikutnya.”

Sastri Bakry, pemimpin Satu Pena Sumatera Barat, seperti tengah mewujudkan pernyataan itu. Di tangannya, IMLF 3 bukan sekadar festival. Ia adalah semacam doa yang dijahit dari puisi, seminar, musik, dan jamuan bajamba. Sebuah ritual modern yang memadukan aksara dan adat, intelektualitas dan kuliner.

Lebih dari 200 peserta dari Malaysia, India, Jepang, Australia, Rusia, Prancis, Kroasia, Kurdistan, Bangladesh, Brunei Darussalam, Singapura, Vietnam, Inggris, Tunisia, Swiss, Spanyol, Bulgaria, Italia, Cyprus, Slovenia, Tiongkok, dan beberapa negara lagi, datang membawa bukan hanya karya, tapi beberapa di antaranya juga luka-luka dari negeri mereka masing-masing. Dan Sumatera Barat menerimanya dengan nasi kapau, tari piring, dan percakapan tanpa prasangka. Mungkin inilah bentuk lain dari diplomasi: yang tak melibatkan para ahli strategi, tapi melibatkan penyair, pelukis, dan penyanyi.

IMLF tahun ini juga meluncurkan buku setebal 50 artikel, hasil penelitian dari para akademisi dunia tentang literasi. Ada seminar budaya, pameran lukisan, dan bahkan bazar UMKM. Tetapi yang paling senyap, dan karena itu paling bermakna, adalah momen-momen saat seseorang dari Kroasia bersulang teh dengan perempuan dari India, atau ketika musik Kurdistan berpadu dengan tari Minang di panggung kecil Bukittinggi.

Tidak ada perjanjian damai yang ditandatangani di sini. Tapi di sinilah, kadang kita bisa mengintip apa yang disebut peradaban. Dalam makna yang paling sederhana dan manusiawi: saling mendengar.

Tentu saja, kita tak naif. Literasi tak akan menghentikan perang. Buku tak bisa menjadi tameng dari peluru kendali. Tapi mungkin kita mulai memahami, mengapa Nelson Mandela pernah berkata, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”
Dan bukankah literasi adalah pintu awal dari pendidikan itu?

IMLF 3 bukan revolusi. Ia hanya desir kecil di tengah badai dunia. Tetapi desir kadang lebih jujur dari petir. Dan jika dunia ini ingin damai, mungkin ia harus mulai dari Minangkabau. Dari puisi. Dari percakapan sederhana antara bahasa dan budaya. Antara kata dan manusia.

Sebab, jika alam yang takambang adalah guru bagi Minangkabau, maka sastra barangkali adalah cara terbaik untuk membacanya.

Padang, 9 Mei 2025

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
IMLF 3: Ketika Literasi Mengalahkan Bisingnya Mesiu - 2025 05 10 09 05 39 | IMLF | Potret Online

Waspadai Tontonan Anomali Berbasis AI: Ancaman Nyata bagi Perkembangan Otak Anak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com