Dengarkan Artikel
Renungan Safari Ramadan di Riau
Oleh Denny JA
Suatu sore di bulan Ramadan, seorang ibu tua duduk di teras rumah bambunya di pinggir desa.
Ia baru saja pulang dari pasar kecil di ujung jalan tanah. Di tangannya hanya ada satu kantong plastik berisi beras satu liter dan dua butir telur. Itu seluruh belanja yang ia mampu hari itu.
Anaknya bekerja serabutan. Penghasilannya tak menentu.
Ketika azan magrib hampir berkumandang, seorang anak kecil dari rumah sebelah datang mengetuk pintu. Bajunya kusam. Matanya ragu.
“Bukde, ibu saya sakit. Kami belum punya makanan untuk buka puasa.”
Ibu tua itu terdiam sejenak.
Ia menatap kantong beras di tangannya. Lalu tanpa banyak kata, ia mengambil setengahnya. Ia menuangkannya ke mangkuk kecil dan menyerahkannya kepada anak itu.
“Bawa ini pulang,” katanya pelan.
Malam itu ia berbuka hanya dengan segelas teh manis.
Tetapi wajahnya terlihat damai.
Ia miskin.
Namun ia tetap bersedekah.
Di negeri ini, kisah seperti itu bukan cerita langka. Ia hidup di gang kecil kota, di desa terpencil, di rumah sederhana yang tak pernah masuk statistik ekonomi.
Dan mungkin justru dari tangan tangan sederhana itulah lahir satu fakta yang mengejutkan dunia.
Indonesia disebut sebagai negara paling dermawan di bumi.
-000-
Pada tahun 2024, lembaga filantropi global Charities Aid Foundation yang berbasis di London kembali menerbitkan laporan tahunan yang dikenal sebagai CAF World Giving Index.
Laporan ini menjadi salah satu pengukuran global paling komprehensif tentang kedermawanan manusia.
Metodologinya sederhana tetapi kuat.
CAF menggunakan data survei global yang dilakukan oleh perusahaan riset internasional Gallup. Survei ini melibatkan lebih dari 140 negara dan sekitar 120.000 responden setiap tahun.
Setiap responden ditanya tiga pertanyaan utama.
Pertama, apakah dalam satu bulan terakhir ia memberikan donasi uang kepada kegiatan amal.
Kedua, apakah ia menjadi relawan untuk kegiatan sosial.
Ketiga, apakah ia menolong orang asing yang membutuhkan bantuan.
Persentase jawaban ya dari ketiga pertanyaan itu kemudian dihitung dan digabungkan menjadi skor nasional yang disebut World Giving Index Score.
Yang diukur bukan kekayaan negara.
Yang diukur adalah perilaku memberi masyarakatnya.
Hasilnya mengejutkan. Indonesia kembali menempati peringkat pertama dunia.
Sekitar 90 persen responden Indonesia mengatakan mereka pernah menyumbang uang. Lebih dari 60 persen pernah menjadi relawan atau membantu orang lain.
Yang dinilai bukan besarnya GDP.
Yang dinilai adalah besarnya hati. Dan di sanalah Indonesia bersinar.
-000-
Mengapa Indonesia bisa berada di puncak kedermawanan dunia.
Ada setidaknya tiga alasan mendasar.
Pertama, budaya gotong royong yang telah hidup selama berabad abad.
Sejak jauh sebelum negara modern terbentuk, masyarakat Nusantara hidup dalam komunitas yang erat.
Ketika rumah tetangga roboh, orang sekampung datang membantu.
Ketika seseorang meninggal, seluruh desa ikut mengurus pemakaman.
Ketika bencana datang, dapur umum muncul secara spontan.
Budaya ini melahirkan apa yang oleh para sosiolog disebut social solidarity.
Kebaikan bukan peristiwa luar biasa. Ia adalah kebiasaan sehari hari.
Di banyak negara maju, kehidupan sosial cenderung individualistik. Orang hidup dalam lingkaran privat yang sempit. Di Indonesia kehidupan sosial masih berdenyut dalam jaringan komunitas yang luas.
Itulah sebabnya memberi terasa alami. Bukan karena kita kaya.
Tetapi karena kita hidup bersama.
Kedua, pengaruh agama yang sangat kuat.
📚 Artikel Terkait
Di Indonesia memberi bukan sekadar tindakan sosial. Ia adalah ibadah.
Dalam Islam dikenal zakat, infak, dan sedekah. Dalam Kekristenan ada charity dan persepuluhan. Dalam Hindu ada dana punia. Dalam Buddhisme ada dana paramita.
Ajaran agama menanamkan satu keyakinan sederhana tetapi kuat. Memberi tidak mengurangi harta. Memberi justru memperluas makna hidup.
Karena itu bahkan orang yang penghasilannya kecil tetap merasa terpanggil untuk berbagi.
Kedermawanan tidak bergantung pada jumlah uang. Ia bergantung pada nilai moral yang hidup dalam hati manusia.
Ketiga, masyarakat sering menjadi jaring pengaman sosial ketika negara belum sepenuhnya mampu.
Di banyak negara Eropa, negara menjalankan sistem kesejahteraan yang sangat kuat. Pajak tinggi membiayai bantuan sosial yang luas.
Akibatnya muncul satu kecenderungan. Orang merasa bahwa membantu orang miskin adalah tanggung jawab negara.
Di Indonesia, masyarakat sering menjadi penopang pertama solidaritas sosial.
Ketika terjadi bencana, yang datang pertama bukan birokrasi negara. Yang datang adalah relawan, komunitas, organisasi sosial, dan lembaga keagamaan.
Kebaikan mengalir dari masyarakat itu sendiri. Dan jaringan spontan itulah yang membuat budaya memberi tetap hidup.
-000-
Di dalam Islam, tradisi memberi ini dikenal dengan satu kata yang sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Sedekah.
Kata ini berasal dari akar kata Arab sidq yang berarti ketulusan dan kejujuran hati.
Sedekah bukan sekadar pemberian materi. Ia adalah ekspresi iman dan kasih sayang. Dalam Al Quran, perintah memberi muncul berulang kali.
Dalam Surah Al Baqarah ayat 261 disebutkan bahwa orang yang menafkahkan hartanya di jalan Tuhan diibaratkan seperti benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir menghasilkan seratus biji.
Dalam Surah Ali Imran ayat 92 ditegaskan bahwa manusia tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum ia menafkahkan sebagian dari apa yang paling ia cintai.
Dalam Surah Al Insan ayat 8 digambarkan orang orang yang memberi makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan tanpa mengharapkan balasan apa pun selain keridaan Tuhan.
Sedekah dalam pengertian ini menjadi apa yang oleh para ilmuwan sosial disebut social capital. Ia membentuk jaringan kasih sayang yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya.
Ketika seseorang memberi, ia tidak hanya membantu individu. Ia memperkuat jaringan kepercayaan dalam masyarakat.
Dari jaringan kecil itulah lahir kekuatan besar yang dapat disebut power of giving. Dan mungkin inilah salah satu alasan mengapa Indonesia muncul sebagai negara paling dermawan di dunia.
-000-
Dua karya ilmiah modern membantu menjelaskan fenomena ini.
Dalam buku Bowling Alone, Robert Putnam memperkenalkan konsep social capital. Ia menjelaskan bahwa jaringan hubungan sosial, kepercayaan, dan norma timbal balik membuat masyarakat mampu bekerja sama dan saling membantu.
Putnam menunjukkan bahwa masyarakat yang memiliki komunitas aktif, organisasi sosial, dan kehidupan keagamaan yang hidup cenderung memiliki tingkat kedermawanan yang lebih tinggi.
Ketika orang saling mengenal dan saling percaya, membantu sesama menjadi kebiasaan sosial yang menular.
Sebaliknya ketika jaringan sosial melemah, orang menjadi lebih terisolasi dan kecenderungan untuk memberi ikut menurun.
Konsep ini sangat relevan dengan Indonesia. Tradisi gotong royong, komunitas kampung, dan organisasi keagamaan membentuk social capital yang kuat. Dalam jaringan seperti itu, sedekah bukan tindakan luar biasa. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari hari.
Penelitian lain datang dari Arthur Brooks dalam bukunya Who Really Cares.
Brooks menemukan bahwa orang yang aktif menjalankan kehidupan beragama cenderung lebih sering memberi donasi, menjadi relawan, dan membantu orang lain.
Agama mendorong kedermawanan melalui tiga mekanisme. Pertama, agama menanamkan norma moral bahwa memberi adalah kewajiban spiritual.
Kedua, tempat ibadah membangun komunitas sosial yang mempertemukan orang orang yang peduli pada sesama.
Ketiga, ajaran agama membentuk identitas moral bahwa kebahagiaan manusia berkaitan dengan memberi.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa di negara seperti Indonesia, di mana agama masih menjadi sumber nilai sosial yang kuat, tradisi sedekah dan bantuan sosial berkembang menjadi budaya kedermawanan yang luas.
Namun di balik pujian sebagai negara paling dermawan, kita juga layak bertanya apakah semangat memberi ini sudah dibarengi upaya serius mengurangi akar kemiskinan dan ketimpangan yang membuat sedekah selalu dibutuhkan.
Juga, tantangan kita adalah mentransformasi sedekah karitatif menjadi kekuatan produktif. Kedermawanan harus melampaui sekadar tambal sulam kemiskinan, menjadi penggerak kebijakan yang meruntuhkan struktur ketimpangan demi keadilan sosial yang lebih permanen.
-000-
Saya sendiri sering menyaksikan kekuatan tradisi ini secara langsung.
Setiap Ramadan suasana berbagi terasa begitu kuat.
Di berbagai acara yang saya hadiri, terutama dalam lingkungan BUMN, hampir selalu ada satu elemen yang tidak pernah absen. Sedekah dan santunan anak yatim.
Kadang dilakukan dalam bentuk bantuan pendidikan. Kadang berupa paket sembako. Kadang sekadar makan bersama anak anak yatim di panti asuhan.
Namun yang paling menyentuh bukan jumlah bantuan itu. Yang menyentuh adalah suasana batin yang hadir ketika memberi.
Di wajah para karyawan dan relawan sering terlihat satu perasaan yang sama. Seolah mereka tidak hanya memberikan sesuatu.
Mereka sedang menyambung kembali tali kemanusiaan yang kadang terputus oleh rutinitas hidup.
Ramadan menjadi pengingat bahwa di balik kesibukan dunia, manusia tetap membutuhkan satu hal sederhana.
Rasa peduli kepada sesama.
-000-
Pada akhirnya, mungkin itulah makna terdalam dari kedermawanan Indonesia.
Ia bukan sekadar angka dalam laporan global. Ia adalah cerita tentang jutaan tangan yang berbagi.
Tentang ibu miskin yang tetap memberi setengah berasnya.
Tentang relawan yang datang ke daerah bencana tanpa diminta.
Tentang anak anak muda yang menggalang dana untuk orang yang bahkan tidak mereka kenal.
Di dunia yang sering dipenuhi konflik dan perpecahan, kedermawanan adalah bahasa kemanusiaan yang paling sunyi tetapi paling kuat.
Selama tangan tangan yang memberi itu tetap hidup, Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai negara besar.
Ia akan dikenal sebagai negeri yang memiliki jaringan kasih sayang yang tidak pernah putus.
Pekanbaru, 5 Maret 2026
(Perluasan Orasi Denny JA di acara Safari Ramadan bersama BOC dan BOC Persero Pertamina, Pertamina Hulu Energi dan Pertamina Hulu Rokan)
REFERENSI
Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community, Robert Putnam, Simon and Schuster, 2000.
Who Really Cares: The Surprising Truth About Compassionate Conservatism, Arthur Brooks, Basic Books, 2006.
Record levels of global generosity. Indonesia is world’s most generous country with Kenya second and Singapore rising to third according to World Giving Index 2024. PR Newswire.
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






