Dengarkan Artikel
Oleh Aswan Nasution
Di bawah langit kelabu yang merunduk laksana kening seorang musafir dalam sujudnya, ia melangkah. Ia adalah laki-laki sunyi, seorang pemuda yang memanggul nasib ke tanah seberang, memilih jalan senyap di antara rimba beton dan deru mesin perantauan.
Namun, setiap kali semilir angin Syawal membawa aroma tanah basah dan gema takbir memecah cakrawala, ia selalu menempuh jalan yang sama. Ia pulang. Ia mudik.
Ia mudik dengan keyakinan yang getir; sebuah keyakinan bahwa sesungguhnya tidak ada lagi yang benar-benar menunggunya dengan tangan terbuka di ambang pintu. Di kampung halamannya yang jauh itu, kedua orang tuanya telah lama bersalin rupa—nama mereka kini terukir kaku di atas batu nisan yang dingin, dikelilingi rumput-rumput liar yang menari ditiup angin pegunungan.
Rumah tempat ia pertama kali menghirup udara dunia, kini hanyalah rongsokan cerita yang runtuh bersama dinding-dinding bambu yang dimakan usia. Tak ada lagi lampu teras yang menyala pucat untuk menyambut langkah kakinya di kegelapan malam. Tak ada lagi suara parau penuh kasih yang memanggil namanya dari kepul asap dapur.
Namun, mengapa ia tetap kembali?
Inilah estetika dari sebuah perlawanan jiwa. tentang keselarasan antara jiwa dan alam, Dia adalah personifikasi dari manusia yang mencari sintesis antara masa lalu yang hancur dan masa depan yang asing. Ia pulang bukan untuk merebut kembali harta, melainkan untuk melakukan ziarah batin ke pusat asal-usulnya. Baginya, mudik adalah sebuah ritus kemanusiaan yang lebih dalam dari sekadar perjalanan fisik.
Namun, di dalam kalbunya, ia merasakan perih yang menyerupai sajak-sajak yang karam dalam duka. Ia merasa rindunya adalah rindu yang piatu—sebuah rindu yang tidak lagi memiliki alamat. Rindunya sadar diri, bahwa ia tak akan pernah tuntas, tak akan pernah sampai pada muara pelukan yang ia dambakan. Ia seperti pengembara yang mengetuk pintu-pintu tetangga dan kerabat jauh, mencari serpihan kenangan yang tercecer. Ia bersimpuh di kaki kerabat, menyandarkan kepalanya pada bahu-bahu yang sebenarnya tidak lagi ia rindukan, hanya demi mencari sisa-sisa aroma masa kecil yang barangkali masih melekat di sana.
📚 Artikel Terkait
Di tengah riuh rendah gelak tawa dan hidangan lebaran yang tersaji di atas meja kayu yang asing, ia selalu paham: ada sunyi yang duduk dengan setia tepat di sebelahnya. Sunyi itu tidak bicara, ia hanya menatap dengan mata yang dalam, mengingatkan sang pemuda bahwa rumah sesungguhnya adalah sesuatu yang telah hilang ditelan waktu.
Ia adalah gambaran dari “Manusia Baru” yang dinamis, yang terus bergerak maju ke depan, namun secara tragis masih terikat oleh akar romantisme masa lalu yang pedih.
Ia berjuang antara keinginan untuk melepaskan diri dari melankoli dan kebutuhan purba untuk merasa memiliki sebuah tempat untuk pulang.
Baginya, lebaran bukanlah sekadar perayaan kemenangan atas nafsu, melainkan kemenangan atas keputusasaan. Ia menang karena ia masih mampu bertahan dalam kesunyian. Ia menang karena ia masih memiliki keberanian untuk pulang, meski yang ia peluk di sepanjang jalan hanyalah bayang-bayang dan kenangan yang meriap. Pilu? Tentu saja. Namun, dalam kepiluan itu ada martabat yang tegak.
Ia tetap mudik tanpa orang tua yang menunggu. Ia tetap pulang meski rumah tak lagi memiliki atap yang utuh. Sebab, ia tahu, rindu yang tak beralamat adalah rindu yang paling murni. Ia tidak pulang kepada bangunan kayu atau tembok semen; ia pulang kepada dirinya sendiri yang tertinggal di sudut desa itu puluhan tahun silam.
Ia memulangkan rindu kepada tanah, kepada udara, dan kepada tawa masa kecil yang kini telah menjadi rahasia antara dirinya dan Tuhan.
Laki-laki sunyi itu mengajarkan kita satu hal: bahwa rumah tidak selalu berupa bangunan dengan lampu yang menyala. Kadang, rumah adalah ketabahan untuk tetap berjalan menempuh rute yang sama, demi menghormati jejak-jejak cinta yang pernah ada, meski kini ia hanya bisa menyapa nisan dan memeluk sunyi. Ia adalah sang pujangga mudik, yang di dalam hatinya, fajar kebangkitan dan senja kerinduan bertemu dalam satu tarikan napas Syawal yang syahdu.
Penulis :
Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





