POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mudik yang Hampa

RedaksiOleh Redaksi
February 27, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution 

Di bawah langit kelabu yang merunduk laksana kening seorang musafir dalam sujudnya, ia melangkah. Ia adalah laki-laki sunyi, seorang pemuda yang memanggul nasib ke tanah seberang, memilih jalan senyap di antara rimba beton dan deru mesin perantauan. 

Namun, setiap kali semilir angin Syawal membawa aroma tanah basah dan gema takbir memecah cakrawala, ia selalu menempuh jalan yang sama. Ia pulang. Ia mudik.

Ia mudik dengan keyakinan yang getir; sebuah keyakinan bahwa sesungguhnya tidak ada lagi yang benar-benar menunggunya dengan tangan terbuka di ambang pintu. Di kampung halamannya yang jauh itu, kedua orang tuanya telah lama bersalin rupa—nama mereka kini terukir kaku di atas batu nisan yang dingin, dikelilingi rumput-rumput liar yang menari ditiup angin pegunungan. 

Rumah tempat ia pertama kali menghirup udara dunia, kini hanyalah rongsokan cerita yang runtuh bersama dinding-dinding bambu yang dimakan usia. Tak ada lagi lampu teras yang menyala pucat untuk menyambut langkah kakinya di kegelapan malam. Tak ada lagi suara parau penuh kasih yang memanggil namanya dari kepul asap dapur.

Namun, mengapa ia tetap kembali?

Inilah estetika dari sebuah perlawanan jiwa. tentang keselarasan antara jiwa dan alam, Dia adalah personifikasi dari manusia yang mencari sintesis antara masa lalu yang hancur dan masa depan yang asing. Ia pulang bukan untuk merebut kembali harta, melainkan untuk melakukan ziarah batin ke pusat asal-usulnya. Baginya, mudik adalah sebuah ritus kemanusiaan yang lebih dalam dari sekadar perjalanan fisik.

Namun, di dalam kalbunya, ia merasakan perih yang menyerupai sajak-sajak yang karam dalam duka. Ia merasa rindunya adalah rindu yang piatu—sebuah rindu yang tidak lagi memiliki alamat. Rindunya sadar diri, bahwa ia tak akan pernah tuntas, tak akan pernah sampai pada muara pelukan yang ia dambakan. Ia seperti pengembara yang mengetuk pintu-pintu tetangga dan kerabat jauh, mencari serpihan kenangan yang tercecer. Ia bersimpuh di kaki kerabat, menyandarkan kepalanya pada bahu-bahu yang sebenarnya tidak lagi ia rindukan, hanya demi mencari sisa-sisa aroma masa kecil yang barangkali masih melekat di sana.

📚 Artikel Terkait

Catatan Tambahan Untuk Menikmati Beragam Media Berbasis Internet Bagi Kita di Indonesia Agar Lebih Beradab dan Bermartabat

Takut Malu

Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex

Ijazah Pak Jokowi, Masalah sangat Serius

Di tengah riuh rendah gelak tawa dan hidangan lebaran yang tersaji di atas meja kayu yang asing, ia selalu paham: ada sunyi yang duduk dengan setia tepat di sebelahnya. Sunyi itu tidak bicara, ia hanya menatap dengan mata yang dalam, mengingatkan sang pemuda bahwa rumah sesungguhnya adalah sesuatu yang telah hilang ditelan waktu. 

Ia adalah gambaran dari “Manusia Baru” yang dinamis, yang terus bergerak maju ke depan, namun secara tragis masih terikat oleh akar romantisme masa lalu yang pedih. 

Ia berjuang antara keinginan untuk melepaskan diri dari melankoli dan kebutuhan purba untuk merasa memiliki sebuah tempat untuk pulang.

Baginya, lebaran bukanlah sekadar perayaan kemenangan atas nafsu, melainkan kemenangan atas keputusasaan. Ia menang karena ia masih mampu bertahan dalam kesunyian. Ia menang karena ia masih memiliki keberanian untuk pulang, meski yang ia peluk di sepanjang jalan hanyalah bayang-bayang dan kenangan yang meriap. Pilu? Tentu saja. Namun, dalam kepiluan itu ada martabat yang tegak.

Ia tetap mudik tanpa orang tua yang menunggu. Ia tetap pulang meski rumah tak lagi memiliki atap yang utuh. Sebab, ia tahu, rindu yang tak beralamat adalah rindu yang paling murni. Ia tidak pulang kepada bangunan kayu atau tembok semen; ia pulang kepada dirinya sendiri yang tertinggal di sudut desa itu puluhan tahun silam. 

Ia memulangkan rindu kepada tanah, kepada udara, dan kepada tawa masa kecil yang kini telah menjadi rahasia antara dirinya dan Tuhan.

Laki-laki sunyi itu mengajarkan kita satu hal: bahwa rumah tidak selalu berupa bangunan dengan lampu yang menyala. Kadang, rumah adalah ketabahan untuk tetap berjalan menempuh rute yang sama, demi menghormati jejak-jejak cinta yang pernah ada, meski kini ia hanya bisa menyapa nisan dan memeluk sunyi. Ia adalah sang pujangga mudik, yang di dalam hatinya, fajar kebangkitan dan senja kerinduan bertemu dalam satu tarikan napas Syawal yang syahdu.

Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 80x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 72x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
142
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00