Dengarkan Artikel
Oleh: Syarifudin Brutu
Di sebuah saluran pembuangan raksasa yang bermuara tepat di bawah gedung Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, tiga makhluk sedang mengadakan rapat darurat. Aroma di sana adalah perpaduan antara kotoran manusia kelas atas, deterjen mahal, dan sisa-sisa bahan kimia tambang yang menyengat.
Tokoh utamanya adalah Anjing—golden retriever yang baru saja melarikan diri dari rantai emas tuannya, si Babi hutan yang badannya penuh bekas luka tembak peluru aparat, dan pendatang baru kita: Tikus Got.
Tikus ini bukan sembarang tikus. Dia memiliki inteligensi yang diasah oleh sisa-sisa koran politik yang ia makan setiap hari.
”Kau tahu, Njing,” si Tikus mencicit sambil membersihkan kumisnya dari sisa limbah cair. “Aku punya sepupu di dalam gedung sana. Banyak. Mereka berdasi, memakai parfum Oudyang harganya bisa buat beli satu kecamatan, dan duduk di kursi empuk. Tapi jujur saja, setiap kali namaku disandingkan dengan mereka, aku ingin muntah. Kami tikus got punya harga diri; kami mencuri untuk bertahan hidup, bukan untuk koleksi jam tangan mewah!”
Babi mendengus, suaranya menggetarkan dinding beton yang retak. “Tikus berdasi itu lebih berbahaya dari macan lapar. Macan hanya makan dagingmu. Tapi tikus berdasi itu memakan masa depanmu, memakan oksigenmu, bahkan memakan tanah tempat kau akan dikubur nanti.”.
”Aku melihatnya sendiri tadi siang,” kata Anjing dengan nada getir. “Tuan-ku—si bajingan yang foto wajahnya terpampang di baliho ‘Pahlawan Pembangunan’ itu—sedang menjamu direktur perusahaan swasta. Mereka tidak bicara tentang rakyat. Mereka bicara tentang ‘persentase’. ‘Berapa persen buat partai?’, ‘Berapa persen buat aparat?’, ‘Berapa persen buat beli mulut aktivis?'”
Anjing itu meludah ke genangan air hitam. “Mereka membagi-bagi hutan kita seperti membagi kue ulang tahun. Satu izin tambang keluar, satu tas Hermes masuk ke lemari istrinya. Satu gunung rata, satu unit apartemen di Singapura terbeli. Ini bukan pembangunan, ini penjarahan yang dilegalkan oleh stempel negara!”
Tikus Got melompat ke atas sebuah pipa besi yang berkarat. “Itu namanya korupsi sistemik, Njing. Di gedung sana, mereka punya mantra sakti: ‘Wajar Tanpa Pengecualian’. Artinya? Silakan maling, asal administrasinya rapi. Mereka mengubah undang-undang seolah-olah itu adalah pesanan menu di restoran cepat saji. Mau revisi pasal lingkungan? Siap! Mau hapus sanksi pidana tambang? Laksanakan! Asal setorannya lancar, alam boleh hancur!”
📚 Artikel Terkait
Babi hutan itu menabrakkan kepalanya ke dinding beton sebagai pelampiasan amarah. “Rumahku di pedalaman sekarang jadi lubang neraka. Mereka bilang itu ‘Hilirisasi’. Kata-kata yang terdengar intelektual untuk menutupi aksi pemerkosaan terhadap bumi. Mereka ambil nikelnya, mereka kirim ke luar negeri, lalu mereka sisakan kami lumpur beracun dan debu yang membuat paru-paru anak-anak di desa sekitar jadi keras seperti semen.”
”Dan lucunya,” Tikus Got menyela dengan tawa yang mirip suara gesekan logam. “Mereka bicara soal ‘Ekonomi Hijau’. Hijau matamu! Hijau itu warna uang suap yang mereka terima di bawah meja. Hijau itu warna lumut di atas nisan para petani yang mati melawan perampasan tanah. Manusia-manusia ini punya bakat sastra yang luar biasa dalam menciptakan istilah-istilah halus untuk menutupi bau busuk bangkai kebijakan mereka.”
Anjing itu menatap Tikus dengan serius. “Sepupumu yang di dalam itu… apa mereka tidak punya hati nurani?”
Tikus itu tertawa sampai terpingkal-pingkal. “Hati nurani? Di gedung itu, hati nurani adalah barang ilegal. Kalau kau punya hati nurani, kau tidak akan bisa naik jabatan. Kau harus jadi predator. Kau harus bisa tidur nyenyak setelah menandatangani izin yang akan menenggelamkan sepuluh desa oleh banjir bandang. Kau harus bisa tersenyum di depan kamera sambil menyumbang paket sembako, padahal kau baru saja merampok triliunan rupiah dari subsidi hutan.”
Suara guruh terdengar dari atas. Bukan guruh hujan, tapi getaran dari deretan truk-truk raksasa yang membawa hasil bumi menuju pelabuhan.
”Dengar itu,” bisik Babi. “Itu adalah langkah kaki raksasa yang akan menginjak kita semua. Mereka tidak akan berhenti sampai pohon terakhir tumbang, sungai terakhir mengering, dan kantong mereka penuh dengan kepingan emas.”
Anjing itu berdiri, menatap lubang got yang menuju ke jalan raya. “Kita ini apa bagi mereka? Hanya statistik? Atau hanya gangguan kecil dalam laporan keuangan?”
”Kita adalah pengingat akan kegagalan mereka menjadi manusia,” jawab Tikus Got dengan nada dingin yang mematikan. “Aku, Tikus yang kotor; Kau, Anjing yang dibuang; dan Kau, Babi yang diusir. Kita adalah wajah asli dari kemajuan yang mereka agung-agungkan. Kita adalah residu dari peradaban yang dibangun di atas pondasikerakusan dan pengkhianatan terhadap alam.”
Tikus itu menunjuk ke arah gedung parlemen yang tampak megah di kejauhan. “Di sana, para tikus berdasi itu sedang merayakan keberhasilan mereka menipu rakyat. Tapi mereka lupa satu hal: Tanah yang mereka gali itu punya batas. Dan saat tanah itu sudah tidak bisa lagi menahan beban dosa mereka, alam akan melakukan ‘revisi undang-undang’ sendiri lewat tanah longsor dan air bah yang tidak bisa mereka suap dengan uang hasil tambang.”
Malam itu, ketiga makhluk itu berpisah. Babi kembali ke rimba yang sudah compang-camping untuk melakukan perlawanan terakhirnya—menabrakkan diri ke alat berat. Anjing berkelana di jalanan, menjadi saksi bisu kemunafikan kota. Dan Tikus? Dia kembali ke dalam pipa-pipa kekuasaan, menggerogoti kabel-kabel server data korupsi, berharap suatu hari konsletnya sistem itu akan membakar seluruh sandiwara ini.
Kritik mereka tidak akan sampai ke telinga para pejabat yang sedang mabuk wine mahal. Tapi di bawah sana, di dalam gelapnya got dan sunyinya hutan yang sekarat, alam sedang menyusun sebuah balas dendam yang tidak akan bisa dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi manapun.
Sebab, ketika korupsi sudah menjadi oksigen, maka kehancuran hanyalah masalah waktu—dan saat itu tiba, tidak ada emas yang cukup banyak untuk membeli jalan keluar dari neraka yang mereka bangun sendiri.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






