Dengarkan Artikel
Oleh Nurul Khairiyah
Pelajar Kelas 7 Mts Al ikhlas Tanah Terban, Karang Baru, Aceh Tamiang
Pada hari Rabu, tanggal 26 November 2025, pagi hari saat cuaca mendung sekaligus hujan yah yang tidak berhenti, aku sempat pergi ke sekolah bersama ayahku. Sesampainya di sekolah, tidak ada satu pun yang pergi ke sekolah. Lalu, aku pun kembali ke rumah.
Pada sore hari, air sudah masuk ke rumahku. Kami semua sudah khawatir, namun ibu dan ayah berusaha menenangkan kami. Pada malam hari selesai kami salat, kami membaca Yasin. Ayahku menyuruh kakakku untuk melihat air di luar, apakah sudah masuk ke dalam rumah atau belum. Lalu kakakku melihat air sudah sedikit lagi mau masuk ke rumah.
Lalu kami semua membereskan barang yang ingin dibawa dan barang-barang yang ingin dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Lalu kami membereskan barang-barang. Kami mengungsi ke rumah orang yang lebih tinggi. Kebetulan di depan rumahku ada satu rumah yang belum siap dibangun dan rumah itu, kebetulan belum masuk air.
Pada pagi hari pukul 04.30 WiB, kami salat subuh berjamaah dan pada salam terakhir, air sudah masuk ke dalam rumah itu. Yang ada dalam rumah itu bukan keluargaku saja, tapi ada 10 keluarga lain. Lalu, kami semua membereskan barang-barang kami. Pada pagi itu ada yang membuat rakit dari batang pisang. Lalu kami semua berpencar-pencar mencari tempat yang lebih tinggi.
Pada saat itu, keluargaku mengungsi ke rumah andongku . Karena rumah andongku bertingkat dua. Pada saat itu kami menggunakan rakit batang pisang untuk pergi ke rumah Andongku. Mengapa kami menggunakan rakit, karena di pasar air sudah cukup dalam dan airnya cukup deras atau kencang.
📚 Artikel Terkait
Sesampainya di rumah Andongku, hatiku cukup lega, karena aku merasa sudah aman, tapi pada pukul 13.30 WIN air sudah masuk ke rumah Andongku. Padahal rumah Andongku sudah cukup tinggi. Lalu keluargaku sudah sangat khawatir karena kami semua sudah tidak tahu lagi mau pergi kemana, tapi ayahku terus berusaha mencari dan akhirnya ayahku berhasil menemukan satu rumah yang sangat tinggi. Ayah mendatangi keluargaku di rumah Andong. Ayahku tampak sangat panik karena ada adekku yang sedang sakit dan juga ada yang masih bayi.
Tanpa berpikir panjang ayah dan omku langsung meminjam rakit tetangga, tapi karena arus air sangat kencang, jadi rakit tidak dapat melawan arus air yang sangat kencang,
Ayah, jangan tinggalkan kami. Air semakin kencang. Allah Maha Tahu, bukan ayah tidak mau menolong, tapi ayah telah pergi menolongku. Tapi ayah jangan pergi lagi
Jam di tangan Wawakku sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Ya, ayah jangan pergi lagi. Kata Wawakku kepada ayah, karena takut terbawa arus air. Akupun mulai memejamkan mata dalam gelap gulita.
Sudah dua hari 3 malam berlalu, Mak, kata adikku. Mak, abang lapar Mak.
Sabar ya Nak. Mohon lah kepada Allah agar air cepat surut. Muka adikku sudah memucat dan menangis minta susu. Lalu diberikan air yang ada sedikit lagi, hingga tertidur. Kami sudah semua lapar dan adikku yang masih sakit. Kena seng lagi, saat berjalan di atas atap.
Malam datang lagi dan kami makan mie mentah yang dibawa Andong kami. Adikku yang kecil juga makan mie.
Alhamdulillah. Adikku tidak sakit perutnya. Atas izin Allah. Malam pun berlalu dan pagi datang lagi. Sudah tiga hari kami tidak makan nasi. Air pun tidak surut -surut. Cuma air pun tidak naik lagi. Hujan pun masih turun dan akhirnya orang di depan rumahku mengungsi juga di atas atap rumahnya. Kami minta tolong agar dikasih pinjam panci dan wajan.
Alhamdulillah ada. Barulah kami makan mie instan dalam platiknya. Kami baru turun pada hari ke empat dan alhamdulillah kami semua selamat walau harta benda dan hewan peliharaan kami semua hanyut dibawa arus air. Namun, kami bersyukur Allah memberikan kami keselamatan. Terima kasih. Puji syukur kami kepada Allah SWT.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






