Dengarkan Artikel
Ramadan #6
Oleh Dayan Abdurrahman
Krisis Peradaban dan Defisit Legitimasi Moral
Abad ke-21 tidak hanya ditandai oleh percepatan teknologi, tetapi juga oleh kegelisahan peradaban. Ketimpangan ekonomi global semakin melebar. Laporan World Inequality Lab tahun 2022 menunjukkan bahwa 10 persen populasi terkaya dunia menguasai lebih dari separuh pendapatan global, sementara 50 persen terbawah hanya menikmati kurang dari 10 persen. Ini bukan sekadar ketimpangan statistik, tetapi ketimpangan struktur.
Pada saat yang sama, survei Edelman Trust Barometer 2023 memperlihatkan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah, media, dan korporasi besar. Dunia modern mengalami defisit legitimasi moral. Sistem berjalan, tetapi kepercayaan menipis.
Di tengah lanskap ini, Islam sering dibaca sebagai simbol ritual. Padahal, secara konseptual, Islam adalah tawaran arsitektur nilai. Ketika ia hanya menjadi identitas spiritual, ia diterima. Ketika ia berbicara tentang sistem, ia mulai mengusik.
Tauhid sebagai Kritik terhadap Fragmentasi Modern
Modernitas membagi kehidupan ke dalam sekat-sekat: ekonomi tanpa etika, politik tanpa moral, agama tanpa tata kelola. Tauhid, sebagai inti ajaran Islam, justru menegaskan integrasi. Tidak ada pemisahan absolut antara nilai spiritual dan tanggung jawab sosial.
Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183) menyatakan bahwa tujuan puasa adalah takwa. Takwa bukan sekadar kesalehan privat, melainkan kesadaran etis yang membatasi penyalahgunaan kekuasaan. Filsuf seperti Jürgen Habermas menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat post-sekuler—agama tetap memiliki relevansi publik. Namun agama sering kali hanya diberi ruang simbolik, bukan ruang sistemik.
Larangan riba dalam Islam, misalnya, bukan hanya norma spiritual, tetapi kritik terhadap sistem finansial berbasis utang berlebihan dan spekulasi ekstrem. Ketika nilai ini dibaca sebagai alternatif struktural, di situlah ketegangan dengan arsitektur ekonomi global muncul.
Sejarah Kota-Kota Peradaban dan Pelajaran dari Aceh Darussalam
Sejarah Islam membuktikan bahwa integrasi iman dan rasionalitas pernah melahirkan peradaban unggul. Baghdad menjadi pusat ilmu dunia pada abad ke-9. Cordoba berdiri sebagai simbol kosmopolitanisme dan kecanggihan intelektual.
📚 Artikel Terkait
Di Nusantara, Aceh pernah menjadi pusat kekuasaan, diplomasi, dan pendidikan Islam yang berpengaruh pada abad ke-16 dan ke-17. Kesultanan Aceh tidak hanya religius, tetapi juga strategis secara geopolitik. Dari wilayah ini lahir tokoh-tokoh besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf as-Singkili. Perdebatan intelektual mereka, termasuk polemik tentang wahdatul wujud, menunjukkan bahwa Aceh adalah laboratorium pemikiran, bukan sekadar wilayah simbolik.
Aceh pernah memperlihatkan bahwa ilmu, spiritualitas, dan kekuasaan dapat berjalan beriringan. Sejarah itu bukan nostalgia, melainkan cermin kemungkinan.
Paradoks Modern: Nilai Islam dan Implementasi Global
Ironi sejarah terlihat ketika beberapa kota non-Muslim seperti Singapore dan Zurich berhasil menerapkan tata kelola transparan dan efisien—nilai yang selaras dengan prinsip keadilan dan amanah dalam Islam. Data Transparency International tahun 2023 menunjukkan bahwa integritas kelembagaan menjadi faktor utama stabilitas negara.
Masalahnya bukan pada ajaran Islam, tetapi pada kegagalan institusionalisasi nilai di banyak masyarakat Muslim. Dunia tidak menolak etika Islam; dunia mempertanyakan konsistensi penerapannya.
Ramadan sebagai Laboratorium Moral Terbesar
Menurut Pew Research Center tahun 2023, populasi Muslim global mencapai sekitar 1,9 miliar jiwa. Ramadan adalah disiplin kolektif terbesar di dunia. Selama satu bulan, umat Islam menahan diri secara serentak. Ini adalah pelatihan pengendalian diri berskala global.
Namun disiplin individual belum sepenuhnya bertransformasi menjadi disiplin kelembagaan. Puasa menyentuh hati, tetapi belum sepenuhnya berpindah ke minda—ke desain kebijakan dan struktur sosial. Dari hati ke hati, pesan Ramadan terasa kuat. Tetapi dari pikiran ke sistem, transformasinya sering terhenti.
Seperti ketika saya mengaduk kuah belanga di dapur menjelang berbuka puasa, refleksi itu hadir bukan di ruang seminar, melainkan di ruang sederhana. Masakan Aceh memerlukan keseimbangan rempah. Jika takaran meleset, rasa menjadi timpang. Demikian pula peradaban: spiritualitas tanpa struktur melahirkan romantisme; struktur tanpa moral melahirkan kekeringan.
Menuju Arsitektur Peradaban Abad ke-21
Islam abad ke-21 memerlukan rekonstruksi epistemik dan institusional. Nilai tauhid harus diterjemahkan menjadi integritas tata kelola. Takwa harus diwujudkan dalam akuntabilitas publik. Maqasid syariah harus menjadi kerangka kebijakan sosial.
Peradaban tidak bertahan karena kekuatan militer semata, tetapi karena legitimasi moralnya. Sejarah Baghdad, Cordoba, dan Aceh menunjukkan bahwa kejayaan lahir ketika iman, ilmu, dan kekuasaan menyatu.
Jika Ramadan mampu menjadi laboratorium pembentukan kepemimpinan moral, maka Islam tidak perlu tampil sebagai oposisi konfrontatif terhadap dominasi global modern. Ia akan hadir sebagai tawaran yang relevan—arsitektur etika bagi dunia yang sedang mencari keseimbangan.
Dan mungkin perubahan besar memang lahir dari ruang kecil. Dari dapur sederhana, dari kuah belanga yang mendidih, dari refleksi yang bergerak dari hati ke hati, lalu memindahkan pikiran ke minda—menuju sistem, menuju peradaban.

POTRET Gallery Banda Aceh
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






