POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Puasa dan Kekuasaan Moral: Ramadan dan Islam Peradaban yang Menantang Dominasi Global Modern

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
February 23, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Ramadan #6

Oleh Dayan Abdurrahman

Krisis Peradaban dan Defisit Legitimasi Moral

Abad ke-21 tidak hanya ditandai oleh percepatan teknologi, tetapi juga oleh kegelisahan peradaban. Ketimpangan ekonomi global semakin melebar. Laporan World Inequality Lab tahun 2022 menunjukkan bahwa 10 persen populasi terkaya dunia menguasai lebih dari separuh pendapatan global, sementara 50 persen terbawah hanya menikmati kurang dari 10 persen. Ini bukan sekadar ketimpangan statistik, tetapi ketimpangan struktur.

Pada saat yang sama, survei Edelman Trust Barometer 2023 memperlihatkan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah, media, dan korporasi besar. Dunia modern mengalami defisit legitimasi moral. Sistem berjalan, tetapi kepercayaan menipis.

Di tengah lanskap ini, Islam sering dibaca sebagai simbol ritual. Padahal, secara konseptual, Islam adalah tawaran arsitektur nilai. Ketika ia hanya menjadi identitas spiritual, ia diterima. Ketika ia berbicara tentang sistem, ia mulai mengusik.

Tauhid sebagai Kritik terhadap Fragmentasi Modern

Modernitas membagi kehidupan ke dalam sekat-sekat: ekonomi tanpa etika, politik tanpa moral, agama tanpa tata kelola. Tauhid, sebagai inti ajaran Islam, justru menegaskan integrasi. Tidak ada pemisahan absolut antara nilai spiritual dan tanggung jawab sosial.

Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183) menyatakan bahwa tujuan puasa adalah takwa. Takwa bukan sekadar kesalehan privat, melainkan kesadaran etis yang membatasi penyalahgunaan kekuasaan. Filsuf seperti Jürgen Habermas menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat post-sekuler—agama tetap memiliki relevansi publik. Namun agama sering kali hanya diberi ruang simbolik, bukan ruang sistemik.

Larangan riba dalam Islam, misalnya, bukan hanya norma spiritual, tetapi kritik terhadap sistem finansial berbasis utang berlebihan dan spekulasi ekstrem. Ketika nilai ini dibaca sebagai alternatif struktural, di situlah ketegangan dengan arsitektur ekonomi global muncul.

Sejarah Kota-Kota Peradaban dan Pelajaran dari Aceh Darussalam

Sejarah Islam membuktikan bahwa integrasi iman dan rasionalitas pernah melahirkan peradaban unggul. Baghdad menjadi pusat ilmu dunia pada abad ke-9. Cordoba berdiri sebagai simbol kosmopolitanisme dan kecanggihan intelektual.

📚 Artikel Terkait

5 Manfaat Membaca Buku Kisah Nyata

Kutempuh Jalan Menulis, Kurasakan Jiwa dan Badan Sehat

Nomokrasi VS Demokrasi – Bincang Sore POTRET

Munasabah dari Tanah yang Terendam: Iman, Amanah, dan Luka Ekologi Aceh

Di Nusantara, Aceh pernah menjadi pusat kekuasaan, diplomasi, dan pendidikan Islam yang berpengaruh pada abad ke-16 dan ke-17. Kesultanan Aceh tidak hanya religius, tetapi juga strategis secara geopolitik. Dari wilayah ini lahir tokoh-tokoh besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf as-Singkili. Perdebatan intelektual mereka, termasuk polemik tentang wahdatul wujud, menunjukkan bahwa Aceh adalah laboratorium pemikiran, bukan sekadar wilayah simbolik.

Aceh pernah memperlihatkan bahwa ilmu, spiritualitas, dan kekuasaan dapat berjalan beriringan. Sejarah itu bukan nostalgia, melainkan cermin kemungkinan.

Paradoks Modern: Nilai Islam dan Implementasi Global

Ironi sejarah terlihat ketika beberapa kota non-Muslim seperti Singapore dan Zurich berhasil menerapkan tata kelola transparan dan efisien—nilai yang selaras dengan prinsip keadilan dan amanah dalam Islam. Data Transparency International tahun 2023 menunjukkan bahwa integritas kelembagaan menjadi faktor utama stabilitas negara.

Masalahnya bukan pada ajaran Islam, tetapi pada kegagalan institusionalisasi nilai di banyak masyarakat Muslim. Dunia tidak menolak etika Islam; dunia mempertanyakan konsistensi penerapannya.

Ramadan sebagai Laboratorium Moral Terbesar

Menurut Pew Research Center tahun 2023, populasi Muslim global mencapai sekitar 1,9 miliar jiwa. Ramadan adalah disiplin kolektif terbesar di dunia. Selama satu bulan, umat Islam menahan diri secara serentak. Ini adalah pelatihan pengendalian diri berskala global.

Namun disiplin individual belum sepenuhnya bertransformasi menjadi disiplin kelembagaan. Puasa menyentuh hati, tetapi belum sepenuhnya berpindah ke minda—ke desain kebijakan dan struktur sosial. Dari hati ke hati, pesan Ramadan terasa kuat. Tetapi dari pikiran ke sistem, transformasinya sering terhenti.

Seperti ketika saya mengaduk kuah belanga di dapur menjelang berbuka puasa, refleksi itu hadir bukan di ruang seminar, melainkan di ruang sederhana. Masakan Aceh memerlukan keseimbangan rempah. Jika takaran meleset, rasa menjadi timpang. Demikian pula peradaban: spiritualitas tanpa struktur melahirkan romantisme; struktur tanpa moral melahirkan kekeringan.

Menuju Arsitektur Peradaban Abad ke-21

Islam abad ke-21 memerlukan rekonstruksi epistemik dan institusional. Nilai tauhid harus diterjemahkan menjadi integritas tata kelola. Takwa harus diwujudkan dalam akuntabilitas publik. Maqasid syariah harus menjadi kerangka kebijakan sosial.

Peradaban tidak bertahan karena kekuatan militer semata, tetapi karena legitimasi moralnya. Sejarah Baghdad, Cordoba, dan Aceh menunjukkan bahwa kejayaan lahir ketika iman, ilmu, dan kekuasaan menyatu.

Jika Ramadan mampu menjadi laboratorium pembentukan kepemimpinan moral, maka Islam tidak perlu tampil sebagai oposisi konfrontatif terhadap dominasi global modern. Ia akan hadir sebagai tawaran yang relevan—arsitektur etika bagi dunia yang sedang mencari keseimbangan.

Dan mungkin perubahan besar memang lahir dari ruang kecil. Dari dapur sederhana, dari kuah belanga yang mendidih, dari refleksi yang bergerak dari hati ke hati, lalu memindahkan pikiran ke minda—menuju sistem, menuju peradaban.

POTRET Gallery Banda Aceh

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 139x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026
#Gerakan Menulis

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Oleh Tabrani YunisFebruary 19, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
122
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
204
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
94
Postingan Selanjutnya
Perjuangan Ayahku Di Tengah Banjir Bandang

Perjuangan Ayahku Di Tengah Banjir Bandang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00