Selasa, April 21, 2026

Saat Kata-Kata Menjadi Kekerasan yang Menghancurkan

Saat Kata-Kata Menjadi Kekerasan yang Menghancurkan - 1ffa32d2 6b7b 499c 85cc 10f6b8a96c5d | Anak | Potret Online
Ilustrasi: Saat Kata-Kata Menjadi Kekerasan yang Menghancurkan

Oleh : Ririe Aiko
Penulis buku Suara Kecil Dari Balik Algoritma

“Lidah lebih tajam daripada pedang.”

Barangkali bagi sebagian orang, pepatah itu hanya kalimat lama yang terdengar puitis, tanpa daya guncang apa pun. Sebuah nasihat usang yang sering diucapkan orang tua kepada anak-anaknya agar berhati-hati dalam berbicara.

Namun di sebuah sudut ruang konseling yang dingin, seorang remaja dengan tatapan kosong dan bahu merunduk, menjadikan pepatah itu menjelma nyata. Kata-kata melukainya begitu dalam, menembus, dan menghancurkan masa depannya.

Saya melihat anak itu dalam sebuah unggahan media sosial. Seorang anak duduk kaku didampingi psikolog. Usianya masih belia, usia yang seharusnya lebih sering tertawa daripada terisak. Namun wajahnya seperti kehilangan jiwa. Tidak ada ceria, matanya kosong, tak hidup. Seolah jiwanya tersesat jauh dari tubuhnya sendiri.

Anak itu didiagnosis mengalami gangguan mental. Ia depresi karena dibully, teman-temannya terlalu sering melontarkan kata-kata ejekan tak berdarah, tapi membuatnya patah. Kata-kata merendahkan diulang setiap hari. Bagi pelaku, itu mungkin hanya candaan. Bagi korban, itu adalah palu yang dipukulkan berkali-kali ke harga dirinya yang rapuh.

Psikologi mengenal luka semacam ini sebagai trauma verbal kronis, cedera emosional akibat paparan kata-kata merendahkan yang berulang. Pada anak dan remaja, fase perkembangan identitas diri masih sangat sensitif terhadap penilaian sosial. Otak mereka sedang membangun konsep “siapa aku” dari cermin lingkungan. Ketika cermin itu berisi ejekan dan penghinaan, citra diri yang terbentuk pun retak.

Dari sebuah penelitian yang pernah saya baca, penghinaan sosial yang terus-menerus dapat memicu respons stres kronis pada sistem saraf. Hormon stres meningkat, rasa aman runtuh, dan otak belajar mengaitkan interaksi sosial dengan ancaman. Akibatnya muncul gejala seperti menarik diri, depresi, kecemasan sosial, hingga gangguan harga diri. Dalam kasus berat, anak dapat mengalami learned helplessness, perasaan tak berdaya yang membuatnya percaya bahwa apa pun yang dilakukan tak akan mengubah keadaan.
Terdengar dramatis, tapi menurut saya itu adalah masalah yang sangat penting dan tidak bisa disepelekan.

Tidak semua orang memiliki ketahanan mental yang sama. Ada orang yang ketika dikatakan “jelek” tidak akan peduli dengan kata-kata seperti itu, tetapi ada juga orang yang ketika dikatakan “jelek” akan berpikir dirinya benar-benar jelek, merasa tidak percaya diri, merasa dirinya sangat rendah, hingga diliputi rasa malu dan takut.

Di titik itulah kata-kata menjadi lebih tajam daripada benda apa pun. Luka fisik memiliki tepi dan waktu sembuh. Luka verbal sering tak terlihat dan tak diberi nama. Ia mengendap, menetes pelan, merusak kepercayaan diri sedikit demi sedikit, hingga suatu hari anak itu berhenti percaya bahwa dirinya layak dihargai.

Yang lebih menyayat adalah cara masyarakat dalam memandang masalah kesehatan mental. Kita kerap berkata, “Anak sekarang mentalnya lemah.” Kalimat itu terdengar seperti analisis, padahal sejatinya pembenaran. Kita menempatkan beban pada korban, seolah ia gagal menjadi kuat, sementara kata-kata kejam para pelaku dianggap lumrah, bahkan wajar dalam pergaulan.

Padahal tidak ada jiwa yang lahir dengan ketahanan tanpa batas. Ketahanan mental tumbuh dari pengalaman dihargai, didengar, dan diterima. Ketika lingkungan justru menghadirkan hinaan, yang retak bukan kelemahan bawaan, melainkan harga diri yang diserang terus-menerus.

Membaca kisah anak itu, hati saya berkali-kali runtuh. Betapa banyak di sekitar kita yang masih meremehkan kesehatan mental, menganggap luka batin sebagai hal sepele. Kita lupa bahwa bagi anak, dunia sosial adalah semesta utamanya. Apa yang dikatakan teman sebaya memiliki bobot hampir seberat suara keluarga. Jika di dua ruang itu ia menerima hinaan, maka tak ada lagi tempat aman bagi jiwanya bernaung.

Kita juga sering salah kaprah memaknai “bercanda.” Dalam psikologi sosial, ejekan, perendahan terhadap seseorang termasuk bentuk bullying, jenis perundungan yang merendahkan identitas seseorang, dampaknya tidak kalah berat dibanding bullying fisik atau penampilan.

Di ruang konseling itu, saya membayangkan psikolog sedang berusaha mengumpulkan serpihan harga diri anak tersebut. Prosesnya panjang. Luka verbal berulang mengubah keyakinan inti seseorang: “Aku tidak berharga.” Terapi harus perlahan menanamkan keyakinan baru: “Aku layak dihormati.” Namun pemulihan individu tidak pernah cukup jika lingkungan sosial tetap kejam.

Karena sesungguhnya, kata-kata tidak pernah “hanya kata-kata.” Ia adalah pembentuk realitas batin. Dari kata-kata, anak belajar siapa dirinya. Dari kata-kata, ia memahami apakah dunia menerima atau menolaknya. Setiap ejekan yang kita anggap ringan bisa menjadi batu yang ditambahkan ke beban mental seseorang.

Maka mungkin sudah saatnya kita berhenti menyebut korban sebagai lemah. Yang lemah justru budaya yang membiarkan penghinaan menjadi kebiasaan.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist