POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ramadan, Keadilan Global, dan Agenda Moral Abad ke-21

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
February 18, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Abad ke-20 mencatat lebih dari 100 juta kematian akibat perang dan kekerasan politik. Dua tragedi besar—Perang Dunia I dan Perang Dunia II—menewaskan lebih dari 70 juta jiwa. Setelah 1945, dunia berjanji “tidak lagi”. Lahir sistem internasional modern yang dipimpin kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat.

Namun data abad ke-21 menunjukkan paradoks. Belanja militer global pada 2023 melampaui 2,2 triliun dolar AS—sekitar 2–3% dari PDB dunia. Sementara itu, menurut laporan lembaga internasional, ratusan juta manusia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Dunia mampu membiayai persenjataan dalam skala raksasa, tetapi belum sepenuhnya menuntaskan ketimpangan pangan, kesehatan, dan pendidikan.

Di sinilah kegelisahan moral itu muncul.

Konflik berkepanjangan di Palestina, dinamika keamanan di Timur Tengah, serta rivalitas kekuatan global memperlihatkan bahwa politik internasional masih sering ditentukan oleh kepentingan strategis. Dukungan konsisten Amerika Serikat terhadap Israel misalnya, terus menjadi perdebatan global—bahkan di dalam masyarakat Barat sendiri. Demonstrasi solidaritas Palestina di London, Paris, dan New York menunjukkan bahwa suara masyarakat sipil tidak selalu identik dengan kebijakan negara.

Tetapi Ramadan mengajarkan kita satu prinsip mendasar: kritik harus berdiri di atas keadilan, bukan kemarahan.

Allah berfirman:

“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menempatkan integritas moral di atas sentimen kolektif.

Kemajuan Dunia dan Sumbangan Kemanusiaan

Kita juga perlu jujur: abad terakhir tidak hanya melahirkan perang, tetapi juga kemajuan luar biasa. Harapan hidup global yang pada 1900 rata-rata di bawah 35 tahun, kini telah melampaui 70 tahun. Angka kematian anak turun drastis lebih dari 50% dalam tiga dekade terakhir. Teknologi vaksin, antibiotik, dan sanitasi menyelamatkan jutaan nyawa.

Nama-nama seperti Jonas Salk dengan vaksin polio, Marie Curie dalam riset radioaktivitas, dan Norman Borlaug melalui Revolusi Hijau telah berkontribusi nyata bagi kemanusiaan lintas agama dan bangsa.

Di bidang moral-politik, tokoh seperti Nelson Mandela menunjukkan bahwa keadilan dapat diperjuangkan tanpa balas dendam. Ia dipenjara 27 tahun, tetapi memilih rekonsiliasi. Mahatma Gandhi memperlihatkan kekuatan non-kekerasan. Martin Luther King Jr. memimpin gerakan hak sipil dengan prinsip cinta dan kesetaraan.

Mereka bukan sempurna. Namun mereka mengajarkan bahwa pengakuan kesalahan dan keberanian memperbaiki diri adalah fondasi peradaban.

Bahkan negara-negara Barat hari ini secara terbuka mengakui sebagian kesalahan kolonial masa lalu—sebuah langkah yang belum tentu mudah secara politik. Mengakui kekeliruan adalah bagian dari kedewasaan moral.

📚 Artikel Terkait

Selamat Malam, Secangkir Kopi, Habis tak habis

Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka

Kilau Masa Depan di Bengkel Schneider

Tanpamu

Islam dan Agenda Etis Abad ke-21

Di tengah kompleksitas global itu, Islam memiliki sumber daya etika yang sangat kuat.

Konsep al-‘adl (keadilan) bukan hanya nilai spiritual, tetapi prinsip sosial. Amanah menuntut transparansi. Zakat adalah mekanisme distribusi kekayaan. Syura menekankan partisipasi kolektif.

Jika 1,9 miliar Muslim di dunia menghidupkan nilai-nilai ini secara struktural—dalam tata kelola, ekonomi, dan pendidikan—maka Islam bukan hanya identitas, tetapi solusi.

Namun Ramadan juga memanggil umat Islam untuk introspeksi. Di banyak negara Muslim, indeks persepsi korupsi masih tinggi. Ketimpangan pendidikan dan inovasi teknologi masih menjadi tantangan. Belanja riset di sebagian besar negara Muslim rata-rata di bawah 1% PDB, jauh dibanding negara maju yang mencapai 2–4%.

Kita tidak boleh hanya menunjuk keluar tanpa memperbaiki ke dalam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengubah geopolitik menjadi tanggung jawab personal.

Dari Dominasi ke Solidaritas

Dunia kini bergerak menuju multipolaritas. Tidak lagi satu kekuatan dominan, melainkan banyak pusat ekonomi dan politik. Situasi ini membuka peluang bagi dunia Muslim untuk membangun kolaborasi yang adil—bukan dalam semangat dominasi, tetapi solidaritas.

Islam tidak datang untuk menggantikan hegemoni dengan hegemoni baru. Ia datang sebagai rahmat.

Solidaritas dalam Islam bukan hanya solidaritas internal (ukhuwah islamiyah), tetapi juga solidaritas kemanusiaan (ukhuwah insaniyah). Ketika Al-Qur’an menyebut manusia sebagai bani Adam, itu melampaui sekat agama.

Maka kemenangan Islam abad ke-21 bukanlah kemenangan militer, melainkan kemenangan moral dan intelektual.

Bahasa Doa dan Harapan

Di bulan Ramadan, ketika jutaan manusia menahan lapar dan dahaga, kita diingatkan bahwa kekuatan sejati adalah pengendalian diri. Dunia yang aman bukan lahir dari akumulasi senjata, tetapi dari kematangan nurani.

Ya Allah, jadikan dunia ini tempat yang aman untuk setiap anak yang lahir, tanpa melihat warna kulit dan keyakinannya.
Ya Allah, lembutkan hati para pemimpin agar memilih dialog daripada peluru.
Ya Allah, satukan umat Islam dalam ilmu dan akhlak, bukan hanya dalam slogan.
Ya Allah, jadikan kami teladan kejujuran, bukan sekadar pengkritik ketidakadilan.

Semoga Ramadan ini menjadi momentum kebangkitan akhlak global. Agar umat Islam mampu menjadi jembatan perbedaan, bukan tembok pemisah. Menjadi upah solidaritas bagi dunia yang lelah oleh konflik.

Karena pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling konsisten menjaga amanah kemanusiaan.

Dan Islam—jika dihidupkan dengan ilmu, keadilan, dan kasih sayang—dapat menjadi referensi moral abad ke-21: adil, bermartabat, dan mempersatukan.

Dayan Abdurrahman

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
5 Persiapan Menghadapi Bulan Ramadhan

5 Persiapan Menghadapi Bulan Ramadhan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00