Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Abad ke-20 mencatat lebih dari 100 juta kematian akibat perang dan kekerasan politik. Dua tragedi besar—Perang Dunia I dan Perang Dunia II—menewaskan lebih dari 70 juta jiwa. Setelah 1945, dunia berjanji “tidak lagi”. Lahir sistem internasional modern yang dipimpin kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat.
Namun data abad ke-21 menunjukkan paradoks. Belanja militer global pada 2023 melampaui 2,2 triliun dolar AS—sekitar 2–3% dari PDB dunia. Sementara itu, menurut laporan lembaga internasional, ratusan juta manusia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Dunia mampu membiayai persenjataan dalam skala raksasa, tetapi belum sepenuhnya menuntaskan ketimpangan pangan, kesehatan, dan pendidikan.
Di sinilah kegelisahan moral itu muncul.
Konflik berkepanjangan di Palestina, dinamika keamanan di Timur Tengah, serta rivalitas kekuatan global memperlihatkan bahwa politik internasional masih sering ditentukan oleh kepentingan strategis. Dukungan konsisten Amerika Serikat terhadap Israel misalnya, terus menjadi perdebatan global—bahkan di dalam masyarakat Barat sendiri. Demonstrasi solidaritas Palestina di London, Paris, dan New York menunjukkan bahwa suara masyarakat sipil tidak selalu identik dengan kebijakan negara.
Tetapi Ramadan mengajarkan kita satu prinsip mendasar: kritik harus berdiri di atas keadilan, bukan kemarahan.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini menempatkan integritas moral di atas sentimen kolektif.
Kemajuan Dunia dan Sumbangan Kemanusiaan
Kita juga perlu jujur: abad terakhir tidak hanya melahirkan perang, tetapi juga kemajuan luar biasa. Harapan hidup global yang pada 1900 rata-rata di bawah 35 tahun, kini telah melampaui 70 tahun. Angka kematian anak turun drastis lebih dari 50% dalam tiga dekade terakhir. Teknologi vaksin, antibiotik, dan sanitasi menyelamatkan jutaan nyawa.
Nama-nama seperti Jonas Salk dengan vaksin polio, Marie Curie dalam riset radioaktivitas, dan Norman Borlaug melalui Revolusi Hijau telah berkontribusi nyata bagi kemanusiaan lintas agama dan bangsa.
Di bidang moral-politik, tokoh seperti Nelson Mandela menunjukkan bahwa keadilan dapat diperjuangkan tanpa balas dendam. Ia dipenjara 27 tahun, tetapi memilih rekonsiliasi. Mahatma Gandhi memperlihatkan kekuatan non-kekerasan. Martin Luther King Jr. memimpin gerakan hak sipil dengan prinsip cinta dan kesetaraan.
Mereka bukan sempurna. Namun mereka mengajarkan bahwa pengakuan kesalahan dan keberanian memperbaiki diri adalah fondasi peradaban.
Bahkan negara-negara Barat hari ini secara terbuka mengakui sebagian kesalahan kolonial masa lalu—sebuah langkah yang belum tentu mudah secara politik. Mengakui kekeliruan adalah bagian dari kedewasaan moral.
📚 Artikel Terkait
Islam dan Agenda Etis Abad ke-21
Di tengah kompleksitas global itu, Islam memiliki sumber daya etika yang sangat kuat.
Konsep al-‘adl (keadilan) bukan hanya nilai spiritual, tetapi prinsip sosial. Amanah menuntut transparansi. Zakat adalah mekanisme distribusi kekayaan. Syura menekankan partisipasi kolektif.
Jika 1,9 miliar Muslim di dunia menghidupkan nilai-nilai ini secara struktural—dalam tata kelola, ekonomi, dan pendidikan—maka Islam bukan hanya identitas, tetapi solusi.
Namun Ramadan juga memanggil umat Islam untuk introspeksi. Di banyak negara Muslim, indeks persepsi korupsi masih tinggi. Ketimpangan pendidikan dan inovasi teknologi masih menjadi tantangan. Belanja riset di sebagian besar negara Muslim rata-rata di bawah 1% PDB, jauh dibanding negara maju yang mencapai 2–4%.
Kita tidak boleh hanya menunjuk keluar tanpa memperbaiki ke dalam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengubah geopolitik menjadi tanggung jawab personal.
Dari Dominasi ke Solidaritas
Dunia kini bergerak menuju multipolaritas. Tidak lagi satu kekuatan dominan, melainkan banyak pusat ekonomi dan politik. Situasi ini membuka peluang bagi dunia Muslim untuk membangun kolaborasi yang adil—bukan dalam semangat dominasi, tetapi solidaritas.
Islam tidak datang untuk menggantikan hegemoni dengan hegemoni baru. Ia datang sebagai rahmat.
Solidaritas dalam Islam bukan hanya solidaritas internal (ukhuwah islamiyah), tetapi juga solidaritas kemanusiaan (ukhuwah insaniyah). Ketika Al-Qur’an menyebut manusia sebagai bani Adam, itu melampaui sekat agama.
Maka kemenangan Islam abad ke-21 bukanlah kemenangan militer, melainkan kemenangan moral dan intelektual.
Bahasa Doa dan Harapan
Di bulan Ramadan, ketika jutaan manusia menahan lapar dan dahaga, kita diingatkan bahwa kekuatan sejati adalah pengendalian diri. Dunia yang aman bukan lahir dari akumulasi senjata, tetapi dari kematangan nurani.
Ya Allah, jadikan dunia ini tempat yang aman untuk setiap anak yang lahir, tanpa melihat warna kulit dan keyakinannya.
Ya Allah, lembutkan hati para pemimpin agar memilih dialog daripada peluru.
Ya Allah, satukan umat Islam dalam ilmu dan akhlak, bukan hanya dalam slogan.
Ya Allah, jadikan kami teladan kejujuran, bukan sekadar pengkritik ketidakadilan.
Semoga Ramadan ini menjadi momentum kebangkitan akhlak global. Agar umat Islam mampu menjadi jembatan perbedaan, bukan tembok pemisah. Menjadi upah solidaritas bagi dunia yang lelah oleh konflik.
Karena pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling konsisten menjaga amanah kemanusiaan.
Dan Islam—jika dihidupkan dengan ilmu, keadilan, dan kasih sayang—dapat menjadi referensi moral abad ke-21: adil, bermartabat, dan mempersatukan.
Dayan Abdurrahman
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






