POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh

Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka

Redaksi by Redaksi
Februari 13, 2026
in Aceh, Tradisi, Tradisional
0
Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka - db8eae47 a0d0 42ae 9a77 a33cfd771a1c | Aceh | Potret Online


Oleh: Siti Sarah

Minggu pagi di kampung selalu dimulai dengan bunyi yang sama: desir angin sawah, kokok ayam yang bersahutan, dan langkah-langkah pelan menuju dapur setelah subuh ditunaikan. Pagi itu, seperti biasa, aku menyempurnakan subuh dengan sunat fajar dan zikir yang agak panjang. Ada ketenangan yang tak tergantikan di waktu pagi. Di sela doa-doa yang lirih, aku sudah tahu hari itu bukan pagi biasa.

Sore sebelumnya, Bang Fadhlul—suamiku yang masih terhitung linto baro, pengantin baru yang dalam adat Aceh masih disapa dengan penuh hormat dan harapan—memberi kabar bahwa umong trieng purieh blang paya kajeut tabu bijeh. Sawah kami di Blang Paya sudah siap untuk disemai. 

Baca Juga
  • Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka - ce0c231a fd84 4f80 8410 2e9fd44bd5e3 | Aceh | Potret Online
    Aceh
    Indonesia Emas 2045: Bisakah Kita Wujudkan Tanpa Membebaskan Anak-Anak Dari Eksploitasi?
    22 Des 2024
  • 02
    Aceh
    Membangun Aceh Carong Yang Beradab dan Bermartabat, Sekadar Impian?
    10 Des 2018

Sebagai linto baro, kehadirannya di sawah bukan hanya bekerja, tetapi juga membawa nama baik keluarga. Ada semangat, ada harga diri, dan ada doa yang mengiringi setiap langkahnya di lumpur sawah. Sebuah kabar yang bagi sebagian orang mungkin sederhana, tetapi bagi keluarga kami, itu berarti satu hal, aku harus menyiapkan eungkhui-kueengkhui.

Di kampungku, setiap kali linto baro turun ke sawah untuk menyemai benih padi, dara baro lazim menyiapkan makanan khas ini. Eungkhui bukan sekadar penganan dari pisang dan tepung ketan. Ia adalah tanda syukur, doa yang dibungkus kelapa parut, dan jejak adat yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga
  • Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka - 015d1fa7 a1ec 4be9 88ff 085b6c469014 | Aceh | Potret Online
    # Ironi
    Aceh Pascadamai: Mengapa Ingatan Kolektif Tak Pernah Benar-Benar Usai
    01 Jan 2026
  • Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka - f862055d 41b7 4b3e 9218 2027e1a909b8 | Aceh | Potret Online
    Aceh
    Muslailati, SPd Dilantik Sebagai Ketua Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Pidie Jaya
    21 Des 2023

Malamnya aku telah menyiapkan bahan, pisang yang sudah masak, tepung ketan, gula, dan kelapa. Dapur kayu membuat segalanya sedikit lebih repot. Api harus dijaga, kayu harus disusun rapi agar bara tak cepat padam. Setelah nasi tanak di periuk dan lauk sederhana—telur dadar serta asam kacang kesukaan keluarga—siap tersaji, aku pun mulai meracik adonan eungkhui.

Mamakku yang telah memasuki usia senja duduk memperhatikan. Senyumnya teduh, matanya menyimpan pengalaman panjang sebagai perempuan kampung yang setia menjaga adat. Sesekali ia berpetuah, seperti pagi-pagi sebelumnya.

Baca Juga
  • 01
    Aceh
    BUKU SASTRAWAN ACEH SEBAGAI MATERI MUATAN LOKAL SEKOLAH
    15 Des 2021
  • Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka - 880dadbb 212f 44e0 b092 42f28a3981ab | Aceh | Potret Online
    #Natural Disaster
    Menutup Pintu Dunia di Tanah Bencana
    17 Des 2025

“Kita perempuan, apa pun pekerjaan kita, tetap harus bangun pagi untuk menjemput rezeki. Malaikat bertebaran membagi rezeki di waktu pagi. Banyak keberkahan di sana.”

Petuah itu sederhana, tetapi selalu menemukan tempatnya di hati.

“Gimana bahan-bahannya, sudah siap semua?” tanyanya.

“Iya, Mak.”

“Kajeut ku u aju.” (sudah bisa kukur kelapa)

“Get, Mak.” (baik Mak)

Dengan cekatan mamak mengupas pisang, menghancurkannya menggunakan gelas hingga lembut. Tepung ketan, gula, dan sedikit garam ditambahkan. Adonan diaduk perlahan, penuh ketelatenan. Aku menyiapkan dandang pengukus, mengikuti setiap arahan seperti murid yang tak ingin tertinggal satu pelajaran pun.

Adonan dibentuk bulatan sebesar bola pimpong, lalu dipipihkan. Setiap lapisan di saringan dandang dipisahkan dengan kelapa parut agar tak lengket. Kami bekerja tanpa banyak kata. Ada bahasa yang tak terucap di antara kami. Bahasa perempuan yang tahu bahwa menjaga dapur berarti menjaga banyak hal—keluarga, doa, dan marwah serta tradisi leluhur.

Sementara eungkhui masih di atas dapur, aku menyiapkan kopi dan teh untuk sekitar sepuluh orang. Di sawah nanti, para lelaki akan bekerja bersama. Menyemai benih tak pernah dilakukan sendiri. Ada gotong royong, ada tawa, ada cerita yang mengalir di antara lumpur dan harapan.

Ketika matang, eungkhui disusun dalam rantang yang sudah dialasi daun pisang di setiap tingkatnya. Aromanya hangat, berpadu wangi kelapa dan pisang yang manis alami. Aku membawa rantang itu bersama kopi, gelas, dan beberapa lembar daun pisang untuk alas makan.

Tak lama kemudian, Bang Fadhlul berangkat ke sawah. Dari halaman rumah, aku membayangkan ia menebar benih dengan hati riang, dibantu para tetangga. Benih-benih itu akan tumbuh perlahan, seperti doa-doa yang tak pernah putus kami panjatkan.

Tradisi menyemai benih dengan eungkhui memang kian jarang dijumpai. Modernisasi pelan-pelan menggeser banyak kebiasaan lama. Makanan praktis menggantikan kudapan tradisi. Gotong royong mulai disibukkan urusan masing-masing. Namun, di keluarga kami, eungkhui masih dipertahankan.

Sebab kami percaya, adat bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengikat identitas. Seperti pepatah Aceh yang kerap diulang orang tua, “Gadoh aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat ta mita.” Hilang anak ada kuburannya, hilang adat ke mana hendak dicari.

Di tengah perubahan zaman, mungkin yang bisa kita jaga bukan hanya hasil panen, tetapi juga cara kita menanamnya. Di situlah adat menemukan maknanya. Kesediaan untuk terus merawat peninggalan kebiasaan tetua. Berharap hari ini masih ada penerus yang mau belajar dan mempertahankan warisan ini.

Gampong Langga, Februari 2026

Previous Post

Bongkar Buku – MADILOG

Next Post

Gerakan Self Love, Disiplin Diri Sebagai Benteng Kehidupan

Next Post
Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka - 4fb7fff0 6c1c 46f6 8034 8ec06fe90625 | Aceh | Potret Online

Gerakan Self Love, Disiplin Diri Sebagai Benteng Kehidupan

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah