Dengarkan Artikel
(Catatan dari workshop Storytelling)
Bagian Ketiga
Oleh Tabrani Yunis
Sudah dua tulisan ditulis mengenai workshop Storytelling yang diselenggarakan Program *BICARA* yang merupakan kolaborasi antara CommsLab, Ekspedisi Indonesia Baru, CELIOS, dan Universitas Syiah Kuala. Kegiatan yang diselenggarakan di auditorium Tsunami and Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh pada tanggal 13 Februari 2025 lalu. Namun, paparannya masih belum masuk pada sejumlah kata yang diukir dalam storytelling tersebut
Ya, menyimak paparan Pak Farid Gaban dalam presentasinya melukis kata itu adalah sebuah proses menulis dengan bercerita yang memadukan fakta dengan data. Lalu disajikan dengan kata-kata sederhana dan mudah. Maka, apa yang dimaksud dengan melukis kata.
Pada tulisan sebelumnya, sang narasumber, Pak Farid Gaban telah menjelaskan bahwa dalam membuat tulisan itu kita diminta untuk lukiskan kata, bukan katakan. Ya, show, not tell. Konon dengan cara ini paragraf-paragraf akan terbentuk dengan alami, kuat, hidup dan mudah untuk dikenang.
Seperti apakah kalimat dan paragraf itu?
Pak Farid Gaban memberikan contoh dari melukis kata tersebut seperti berikut. Seringkali orang atau kita membuat kalimat seperti ini. “Konser Peterpan itu heboh banget.”
Nah, dalam konteks melukis kata, kalimat itu akan mengalir seperti kalimat-kalimat berikut ini.
Konser Peterpan ramai sekali. Konser di Gelanggang Senayan itu dihadiri oleh 50.000 penonton. Tiket seharga Rp 200.000 habis ludes sebulan sebelum pertunjukan. Penonton yang rata-rata siswa SMP dan SMA berdesak-desakan. Duapuluh orang pingsan, ketika para penonton berjingkrak mengikuti lagu “Ada Apa Denganmu”.
(Perhatikan bagaimana pelukisan itu didasarkan dari wawancara,
Para pembaca mungkin bisa faham, apa beda kalimat “ Konser Peterpan itu heboh banget”.
Kalimat yang menggunakan kata sifat “ Heboh bangat”. Sementara di kalimat-kalimat yang disebut melukis kata, dalam menggambarkan sebuah event atau peristiwa tidak menggunakan kata sifat, tetapi menggunakan kata dan data seperti Konser Peterpan ramai sekali. Lalu diikuti dengan data tentang jumlah pengunjung. Harga tiket dan kategori penonton. Artinya ada kata-kata yang melukis cerita dan ada data yang meyertai gambaran tentang kata menarik, heboh, keren atau fantastis.
Ini ada beberapa contoh lain yang diberikan oleh Pak Farid Gaban tentang melukis kata tersebut. Pertama untuk menggambarkan kata marah besar. Bisa diungkapkan dengan cara berikut ini.
Mak Eroh marah besar.
Dalam pendekatan melukis kata, untuk menyatakan bagaimana marahnya Mak Eroh, diuangkan dengan cara berikut ini.
“Pemerintah tidak dhalim!” kata Mak Eroh, istri seorang nelayan yang suaminya tak bisa ke laut karena kenaikan harga solar.
(Perhatikan bagaimana penulis “mendatangkan” Mak Eroh ke dalam tulisan dan membiarkan dia bicara sendiri kepada pembaca)
📚 Artikel Terkait
Contoh selanjutnya,
Nasib nenek itu sangat malang.
Diungkapkan dengan cara berikut ini.
Umurnya 60 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para tetangganya, orang-orang
miskin yang tinggal di gubuk kardus perkampungan liar Kota Bandung,
mengenalnya dengan nama sederhana: “Emak”. Tidak ada yang tahu nama
aslinya. Awal pekan ini, Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para
tetangganya melihatnya hidup terakhir kali.
“Sejak Jumat pekan lalu, Emak tidak pernah kelihatan,” kata seorang
tetangganya. “Saat gubuknya dilongok, Emak sudah terbujur kaku di dalam.”
Contoh ketiga,
Bangunan itu cukup tinggi.
Monas
Hotel berbintang lima itu terdiri atas 25 lantai, tinggi totalnya menyamai Menara
Bagaimana dengan yang ini?
Ahmad seorang petani miskin.
Dijelaskan seperti berikut ini.
Ahmad tinggal bersama seorang istri dan anaknya di gubuk beratap rumbia. Tiap hari mereka hanya bisa makan sekali, itupun nasi jagung tanpa lauk.
Setelah kita menyimak sejumlah contoh tersebut, muncul pernyataan apakah dengan cara melukis kata itu membuat seorang penulis akan terbantu dan memperlancar proses menulis?
Ya, tentu saja. Selain membantu penulis, terutama penulis pemula saat kehilangan ide atau gagasan saat memulai atau menyelesaikan tulisan. Banyak penulis yang kehilangan kata-kata dan merasa mandeg atau terhenti saat sedang menulis. Kondisi ini sering menjadi hambatan atau penghalang bagi penulis untuk menyelesaikan tulisan. Maka dengan cara melukis kata, menggambarkan semua kondisi yang ada di suatu daerah, seperti halnya di daerah bencana.
Kita bisa mengambil contoh lain, yang menggambarkan pada semakin kurangnya pemerintah terhadap nasib dan masa depan korban bencana ekologis di Aceh. Dalam konteks melukis kata, penulis tidak akan menulis seperti ini. “ Pemerintah Tidak serius menangani daerah bencana.
Untuk konteks ini, penulis yang menggunakan pendekatan melukis kata, akan memaparkan seperti ini. Timbunan lumpur yang menimbun rumah-rumah penduduk setelah banjir yang terjadi pada tanggal 25 November 2025 semakin keras, karena mengering. Masyarakat atau pemilik rumah terpaksa mengerjakan atau mengeruk lumpur kering itu dengan menggunakan cangkul. Sudah hampir satu bulan lamanya mereka menggali dan membuang tanah lumpur itu dari rumah mereka. Setiap hari keringat di badan mengucur deras dari tubuh-tubuh kurus.
Sudah lebih dua minggu mereka menunggu bantuan alat berat dari pemerintah yang tak kunjung datang.
Nah, tulisan di atas sebenarnya mengandung kritik terhadap pemerintah, namun disampaikan atau dilukiskan dengan kata-kata yang bukan kata sifat, dengan cara yang lebih lembut, tidak menyakitkan pihak pemerintah. Inilah kelebihan dari pendekatan menulis dengan melukis kata.
Apakah anda selama ini dalam menulis lebih banyak mengatakan dengan menggunakan kata sifat dari pada melukis kata? Silakan periksa tulisan masing-masing.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






