POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Pendidikan

Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar

Redaksi by Redaksi
Februari 9, 2026
in #Pendidikan, #Perempuan Hebat, Karir, Perempuan Aceh
0
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar - 2f059f74 8732 41b7 98be e3b565ee5f3a | #Pendidikan | Potret Online

Oleh Nurma Dewi


Awal Kehidupan dan Latar Belakang

Nurwani lahir di Desa Pante Kuyun pada 6 Juni 1973. Kini, di usia 53 tahun, ia tetap bersemangat menambah pengetahuan dan mengejar pendidikan tinggi. Sebelumnya, ia aktif sebagai guru di Kelompok Belajar PAUD Bankeumang di gampong tempat tinggalnya, bahkan dipercaya menjadi kepala PAUD berbekal ijazah SMA.

Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar - 2025 07 19 17 38 05 | #Pendidikan | Potret Online
Baca Juga
#Ekonomi
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal
19 Jul 2025

Awal Mula Keinginan Kuliah

Awalnya, Nurwani tidak pernah membayangkan untuk melanjutkan kuliah. Ketika kampus STAI-PTIQ Aceh mengadakan sosialisasi penerimaan mahasiswa baru di desanya, ia merasa kurang percaya diri karena usianya yang sudah tidak muda. Namun, dorongan dari temannya, Eka, membuatnya mencoba mengikuti tes masuk perguruan tinggi.

Baca Juga
# Ironi
Jejak Digital Perempuan, Moral Publik, dan Ruang Strategis Negara
08 Jan 2026

Setelah tes, ia lama tidak mendapat kabar. Ia sempat mendengar kampus akan membuka Program S1 PAUD yang sesuai dengan pekerjaannya, tetapi program itu belum tersedia. Program yang ada hanyalah Pendidikan Agama Islam (PAI). Eka kemudian mengajaknya menanyakan langsung ke kampus bersama Emoliza, teman mereka yang lebih muda.

Pergulatan Batin dan Pendaftaran

642a3307-1cd9-40db-8947-96e374530a63
Baca Juga
#Pendidikan
Dari Aceh untuk Dunia: Mencari Titik Temu Pendidikan Timur dan Barat di Abad ke 21
11 Mei 2026

Awalnya, Nurwani menolak. Namun, ia merenung: bagaimana jika teman-temannya kuliah, lulus, dan menjadi sarjana, sementara dirinya hanya melihat dari jauh? Pikiran itu menguatkan niatnya. Sesampainya di kampus, ia bertemu Ketua STAI-PTIQ Aceh. Saat dipanggil “Mak”, hatinya sempat surut karena merasa tua. Tetapi ia tetap menanyakan proses pendaftaran dan akhirnya resmi diterima sebagai mahasiswa.

Tantangan di Awal Kuliah

Perjalanan kuliah tidak mudah. Ia pernah terlambat datang karena harus menyiapkan kebutuhan keluarga dan menempuh perjalanan sekitar 20 km melewati hutan dan ilalang. Suatu kali, dosen menegurnya dan melarang masuk kelas. Air matanya pun jatuh, tetapi ia tetap duduk di bangku kuliah. Ia sadar teguran itu untuk mendisiplinkan mahasiswa.

Sebagai mahasiswa yang lebih tua, ia harus beradaptasi dengan teman-teman muda. Ia membutuhkan waktu lebih lama dalam mengerjakan tugas, belajar kembali dari awal, mencari bahan di internet, membaca perlahan, dan mencatat dengan tekun. Ia selalu teringat pesan dosennya: “Jangan pernah berhenti belajar meskipun kita telah berhenti sekolah.”

Dukungan dan Tantangan Sosial

Ketika diterima kuliah, ia menyampaikan niatnya kepada suami. Sang suami mendukung penuh, bahkan berjanji membelikan sepeda motor baru. Dukungan ini menjadi penyemangat besar. Namun, tidak semua orang mendukung. Ada yang mengejek: “Apa gunanya kuliah, begitu dapat ijazah langsung pensiun?” atau “Hoe keumeng ba ijazah?” (Mau dibawa ke mana ijazah itu?).

Ia juga pernah berdebat dengan saudaranya yang menganggap kuliah di usia tua hanya membuang uang. Tetapi Nurwani berpegang pada prinsip: meskipun tidak tahu ke mana ijazah akan membawanya, yang pasti ia telah mendapatkan ilmu. Prinsip ini membuatnya semakin bertekad menyelesaikan kuliah.

Puncak Perjalanan

Dengan ketekunan dan kesabaran, Nurwani terus menjalani perkuliahan. Ia belajar mengenal dunia akademik, memperluas wawasan, dan membangun semangat bersama teman-teman muda. Hingga akhirnya, pada Sabtu, 7 Februari 2026, ia menjadi salah satu dari 41 wisudawan STAI-PTIQ Aceh yang diwisuda di Aula DPMPKB Kabupaten Aceh Jaya. Sebagai seorang nenek dengan satu cucu, ia berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) dengan predikat cumlaude.

Penutup

Perjalanan hidup Nurwani membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk belajar. Dengan tekad, dukungan keluarga, dan keyakinan pada prinsip hidup, ia berhasil mewujudkan mimpinya menjadi seorang sarjana.


Next Post
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar - 9abe35dd 4a41 4807 9ab0 ea457fce84a0 | #Pendidikan | Potret Online

Di Bawah Langit Jeunieb, Bahtera Bahari Menyongsong Cakrawala Baru

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah