Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Aceh, tanah kaya sejarah, budaya, dan spiritualitas, kini berdiri di persimpangan besar. Selama puluhan tahun, pendidikan formal kita sering dipandang sebagai menara gading—megah, sakral, namun jauh dari kehidupan sehari-hari rakyat. Mahalnya biaya pendidikan tinggi, eksklusivitas akses ilmu, dan tuntutan formalitas legalitas membuat banyak potensi intelektual Aceh terkubur di balik jargon pendidikan bergengsi.
Dalam ajaran agama dan nilai kemanusiaan, menuntut ilmu adalah fardhu ‘ain—kewajiban setiap individu. Namun, kenyataannya, akses terhadap pendidikan formal sangat terbatas dan seringkali tidak relevan dengan kebutuhan lokal. Tulisan ini mengajak kita memikirkan kembali pendidikan Aceh: bukan simbol status, tapi air kehidupan yang memberi energi dan peluang bagi semua masyarakat.
- Monopoli Kebenaran, Legalitas, dan Biaya
Struktur pendidikan konvensional di Aceh masih diwarnai tiga monopoli yang saling memperkuat:
Monopoli kebenaran
Pengetahuan dianggap sah hanya jika disalurkan melalui kurikulum kampus formal. Akibatnya, ilmu yang berkembang di luar ruang kuliah sering diremehkan, padahal relevan dengan kebutuhan Aceh.
Monopoli legalitas
Ijazah universitas menjadi satu-satunya legitimasi sosial dan ekonomi. Orang dianggap berpengetahuan hanya jika lulus dari universitas tertentu, meskipun kemampuan dan pengalaman mereka sama atau lebih unggul.
Monopoli biaya
Biaya pendidikan tinggi terus meningkat. Banyak keluarga Aceh yang harus bergantung pada beasiswa atau bantuan keluarga hanya untuk bisa masuk gerbang formalitas, sementara akses ilmu tetap tertutup bagi mereka yang kurang mampu.
Ketiga monopoli ini menimbulkan kesenjangan besar. Banyak orang Aceh berbakat namun terhalang oleh struktur formal dan biaya tinggi. Ilmu tidak mengalir ke seluruh masyarakat, dan potensi Aceh tetap terpendam.
- Belajar Hari Ini: Pendidikan sebagai Air
Di era digital, pendidikan tidak lagi terikat ruang kelas konvensional. AI, platform online, dan komunitas belajar membuka akses bagi siapa saja:
Akses pengetahuan terbuka luas; siapa pun bisa mempelajari sains, teknologi, metodologi riset, dan literatur global.
Umpan balik instan dan adaptif memungkinkan pembelajar menyesuaikan proses belajar sesuai kebutuhan mereka.
Materi pembelajaran global sekaligus lokal memungkinkan belajar relevan dengan konteks Aceh, misalnya mitigasi bencana, ekonomi lokal, atau budaya Aceh.
Metaforanya, pendidikan harus bergerak seperti air: mengalir merata, menjangkau seluruh lapisan masyarakat, menjadi sumber kehidupan. Air ada di setiap titik kehidupan; begitu pula pendidikan harus tersedia untuk semua, bukan hanya mereka yang mampu membayar.
- Universitas sebagai Lembaga Legalitas, Bukan Pembatas Akses
Aceh tidak menolak pendidikan tinggi, tetapi perlu mendefinisikan ulang peran universitas:
Lembaga akreditasi kompetensi: memberi pengakuan resmi terhadap capaian pembelajar, formal maupun non-formal.
Penyelenggara evaluasi karya ilmiah: proses untuk memastikan kualitas dan relevansi karya, bukan ritual mahal.
Pusat standardisasi legalitas: menjaga kualitas tanpa mengekang akses.
📚 Artikel Terkait
Dengan model ini, universitas tetap relevan tetapi tidak lagi eksklusif. Semua orang yang belajar serius bisa mendapatkan pengakuan tanpa harus menanggung beban biaya tinggi.
- Konsep Pendidikan Aceh yang Humanis dan Otonom
Aceh memiliki budaya dan nilai religius yang kuat. Pendidikan harus:
Terbuka untuk semua;
Terintegrasi dengan nilai lokal dan spiritual;
Berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, bukan simbol status.
Belajar dalam ajaran agama bukan hanya untuk gelar, tetapi untuk memahami dunia, menyejahterakan sesama, dan memberi manfaat. Aceh bisa mengembangkan pendidikan yang berakar pada nilai ini, sekaligus relevan dengan era digital dan tantangan global. Model ini bukan menentang pendidikan tinggi, tetapi menghindari monopoli akses dan biaya yang membatasi.
- Solusi Nyata: Pemerataan Akses, Legalitas Mudah, dan Relevansi Kontekstual
Beberapa langkah strategis untuk mewujudkan pendidikan Aceh yang merata dan relevan:
Sistem sertifikasi terbuka
Memberikan pengakuan terhadap kompetensi pembelajar tanpa harus melalui kuliah formal yang panjang dan mahal. Sertifikasi bisa melalui ujian kompetensi, portofolio, atau sidang karya ilmiah fleksibel.
Pusat Pembelajaran Digital dan Komunitas Belajar
Memanfaatkan AI dan kurikulum global yang relevan dengan Aceh di setiap kabupaten/kota. Membuka ruang belajar yang merata untuk semua lapisan masyarakat.
Karya ilmiah akhir relevan dengan Aceh
Topik diarahkan pada isu lokal: mitigasi bencana, ekonomi berbasis komunitas, budaya, dan inovasi teknologi. Ilmu tidak hanya dikonsumsi, tetapi dipakai untuk membangun Aceh.
- Pendidikan Aceh: Air Kehidupan yang Mengalir
Pendidikan Aceh harus berubah dari paradigma menara gading menjadi air kehidupan:
Tersedia di seluruh desa dan kota;
Membebaskan potensi intelektual masyarakat;
Memberi akses bagi semua yang ingin belajar;
Membantu masyarakat hidup lebih baik.
Aceh tidak perlu meniru model eksklusif Barat yang membatasi akses. Pendidikan harus inklusif, humanis, dan relevan. Dengan cara ini, pendidikan menjadi energi pembebasan, bukan simbol status atau ritual administratif.
Kesimpulan
Pendidikan Aceh bukan sekadar gelar dan menara gading. Ia adalah air yang memberi kehidupan, mengalir merata, dan membebaskan potensi rakyat. Dengan akses belajar digital, universitas sebagai lembaga legalitas fleksibel, dan relevansi konten lokal, Aceh bisa menciptakan:
Masyarakat belajar yang inklusif dan otonom;
Pengakuan kompetensi yang sah tanpa biaya besar;
Generasi yang mampu membangun Aceh dengan kreativitas dan daya saing tinggi.
Seperti air yang menumbuhkan kehidupan di setiap tanah yang dilewati, pendidikan Aceh harus mengalir ke seluruh masyarakat, memberi energi, harapan, dan kapasitas untuk tumbuh dan berinovasi. Aceh berhak memimpin model pendidikan yang merata, beradab, dan berdaya guna—tanpa harus menunggu pusat atau meniru sistem yang hanya menguntungkan segelintir elit.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




