Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
“Perluasan Islam bukan sekadar soal penaklukan, tetapi juga penciptaan tatanan sosial baru di mana agama dan kekuasaan saling terkait erat.” — William Montgomery Watt(1909-2006), Islam: A Short History(1996).
Dekade mutakhir era digital ini dengan mudah siapapun berhak, dangkal dan dalamnya, menganalisis sejarah kontemporer dunia Islam(Iran), juga Arab, Israel dan Kekristenan Amerika Serikat secara terbuka.
Profesional, akademis dan amatiran bukan hal yang harus dinafikan begitu saja. Karena semua analisis sejarah kontemporer merupakan tanda dari masa lalu, kini dan akan datang.
Salah satunya, Prof. Jiang Xuegin(50), akademisi Tionghoa-Kanada yang menempuh pendidikan di Yale College, melalui salah satu unggahannya di kanal Predictive History — kanal yang disukai artis Dian Sastro(43) untuk dipakai tidur — ihwal tafsir nubuat Alkitab, khususnya Kitab Daniel dan Wahyu, sebagai kerangka historis untuk membaca kejatuhan Islam.
Ia menyoroti tahun 1967 sebagai titik balik, ketika Israel merebut kembali Yerusalem dan Bukit Bait Suci, yang dianggap mengakhiri periode 1260 tahun penguasaan bangsa-bangsa bukan Yahudi, terutama Islam, atas kota suci tersebut.
Tafsir ini merujuk pada Daniel 7:22, yang menyatakan bahwa penghakiman diberikan kepada orang-orang kudus dan tibalah waktunya bagi mereka untuk memiliki kerajaan.
Dengan demikian, 1967 dipandang sebagai akhir dari dominasi Islam atas situs Bait Suci, sekaligus awal dari periode baru menuju 2042, yang menurut perhitungan profetik akan menjadi tahun kembalinya Mesias.
Dalam tafsir Jiang, Islam dikaitkan dengan figur antikristus sebagaimana digambarkan dalam Daniel 11:37-38 dan 1 Yohanes 2:22.
Islam dianggap menolak Yahweh sebagai Tuhan leluhur, merendahkan Yesus Kristus dari Putra Tuhan menjadi sekadar nabi, serta menegakkan simbol kekuasaan melalui relik seperti Batu Hitam di Ka’bah.
Masjid-masjid besar seperti Al-Aqsa dan Kubah Batu dipandang sebagai “kekejian” yang menajiskan Bait Suci Yahudi sejak tahun 707 M.
Periode 1335 tahun dari 707 hingga 2042 ditafsirkan sebagai masa kehancuran Bait Suci, di mana orang Yahudi tidak dapat membangunnya kembali hingga kedatangan Kristus.
Tafsir ini menempatkan Islam sebagai kekuatan yang menghalangi pengorbanan Kristus, sekaligus sebagai antikristus yang menolak Bapa dan Anak.
Jiang juga menafsirkan Daniel 9:27 sebagai nubuat tentang berdirinya Masjid Al-Aqsa pada tahun 707 M, yang dianggap sebagai “kekejian yang menyebabkan kehancuran.”
Sejarah Islam, mulai dari perebutan Yerusalem dari Romawi, konflik dengan Tentara Salib, hingga kekuasaan Ottoman, dibaca sebagai bagian dari narasi profetik.
Tahun 1917, ketika Inggris mengalahkan Ottoman dan menguasai Yerusalem, ditandai sebagai awal kehancuran kekaisaran Islam.
Namun, Islam masih menguasai Bukit Bait Suci hingga 1967, sebelum Israel merebutnya kembali.
Periode 75 tahun dari 1967 hingga 2042 disebut sebagai “Generasi Pohon Ara” dalam Matius 24:32-34, yang menandai fase akhir sebelum kedatangan Kristus.
Namun, tafsir prediktif Jiang, juga dikenal pendidik, penulis, sejarawan, dan analis geopolitik — dengan menampilkan seri kuliah panjang tentang “psychohistory” ala Isaac Asimov, teori permainan, serta strategi global — perlu sedikit kritik komparatif.
Prof. Jiang Xuegin dalam kanal Predictive History menafsirkan Kitab Daniel dan Wahyu sebagai nubuat tentang “jatuhnya Islam,” dengan menempatkan Islam sebagai antikristus yang menajiskan Bait Suci dan akan runtuh pada tahun 2042.
📚 Artikel Terkait
Tafsir ini bersifat apokaliptik dan teologis, berfokus pada simbolisme nubuat.
Sebaliknya, Hugh Kennedy(78), sejarawan Inggris, dalam The Great Arab Conquests: How the Spread of Islam Changed the World We Live In(2007) menekankan bahwa penaklukan Arab-Islam abad ke-7 dan ke-8 adalah fenomena historis yang luar biasa cepat dan luas, membentuk dunia modern, bukan sekadar narasi apokaliptik seperti tafsir Prof. Jiang atas Kitab Daniel dan Wahyu.
Ia tidak menafsirkan Islam sebagai antikristus, melainkan sebagai kekuatan sejarah yang membentuk peradaban.
Kennedy menekankan faktor sosial, politik, dan ekonomi dalam ekspansi Islam, bukan kalkulasi profetik.
Kritik implisit terhadap tafsir apokaliptik adalah bahwa penaklukan Arab harus dipahami dalam konteks sejarah dunia, bukan sebagai penggenapan nubuat yang menandai kejatuhan Islam.
Dikutip sedikit rincian Kennedy terhadap sejarah penaklukan Islam:
1/ Kecepatan ekspansi:
Dalam waktu sekitar satu abad setelah wafatnya Nabi Muhammad(632 M), Arab-Islam menaklukkan wilayah dari Persia hingga Spanyol, lebih luas daripada Kekaisaran Romawi, dan dalam separuh waktu yang dibutuhkan Romawi untuk membangun imperium.
2/ Transformasi geopolitik:
Penaklukan ini menghancurkan Kekaisaran Persia, mereduksi Bizantium menjadi sekadar kota-negara di Konstantinopel, dan menggulingkan kerajaan Visigoth di Spanyol.
3/ Dampak budaya:
Kennedy menekankan bahwa ekspansi ini bukan hanya militer, tetapi juga menciptakan jaringan perdagangan, sistem pemerintahan, dan tradisi intelektual yang membentuk dunia Arab modern.
Sementara Albert Hourani(1915-1993) dalam A History of the Arab Peoples(1991) menegaskan bahwa Islam tidak dapat direduksi menjadi narasi antikristus, melainkan harus dipahami sebagai sistem sosial, politik, dan religius yang kompleks, dengan kontribusi besar terhadap ilmu pengetahuan, filsafat, dan seni.
Melalui buku itu, ia menekankan bahwa sejarah Islam bukanlah kisah sederhana tentang kebangkitan dan kejatuhan, melainkan rangkaian transformasi dan adaptasi terhadap perubahan zaman.
Hourani menulis di pengantarnya bahwa sejarah bangsa Arab tidak bisa dipahami sebagai garis lurus menuju kemunduran, melainkan sebagai proses berulang yang penuh dinamika.
Dikutip ia mengatakan:
“Sejarah bangsa Arab bukanlah kisah sederhana tentang kebangkitan dan kemunduran, melainkan tentang transformasi dan adaptasi terhadap perubahan keadaan.”
Pandangan ini dapat dipakai untuk mengritik tafsir Prof. Jiang di kanal Predictive History yang membaca kitab Daniel dan Wahyu sebagai nubuat kejatuhan Islam.
Tafsir semacam itu bersifat linear dan apokaliptik, seolah Islam ditakdirkan runtuh.
Sebaliknya, Hourani menunjukkan bahwa Islam selalu menemukan bentuk baru setelah krisis, seperti ketika Baghdad hancur pada 1258 atau ketika kolonialisme melanda pada abad ke-19.
Dari Mamluk, Ottoman, hingga gerakan modernisme dan nasionalisme, Islam terus berevolusi.
Membatasi Islam hanya sebagai objek nubuat kejatuhan berarti mengabaikan kontribusi besar umat Islam dalam ilmu, seni, politik, dan budaya.
Dengan mengutip Hourani, jelas bahwa Islam adalah peradaban yang resilien, yang tidak pernah benar-benar jatuh, melainkan selalu bertransformasi sesuai konteks sejarahnya.
Tafsir profetik yang menempatkan Islam sebagai kekuatan destruktif sering kali mengabaikan dimensi historis yang lebih luas, termasuk peran Islam dalam membangun jaringan perdagangan, institusi pendidikan, dan tradisi intelektual yang berpengaruh hingga kini.
Dengan demikian, tafsir prediktif Alkitab tentang kejatuhan Islam menurut Prof. Jiang Xuegin adalah tafsir teologis yang menempatkan Islam dalam kerangka apokaliptik, menuju kehancuran pada tahun 2042.
Namun, jika dibandingkan dengan kajian historis Kennedy dan Hourani, tafsir ini tampak reduktif dan cenderung ideologis.
Ekspansi Islam, konflik dengan kekuatan Barat, dan dinamika internal dunia Muslim lebih tepat dibaca sebagai fenomena sejarah yang kompleks, bukan sekadar penggenapan nubuat.
Kritik terhadap tafsir Jiang menegaskan bahwa prediksi atas sejarah agama vis a vis kejatuhan Islam harus membedakan antara narasi profetik dan analisis historis
Dengan kata lain, tafsir prediktif itu tidak terjebak dalam simplifikasi yang menafikan realitas sosial dan budaya Islam sebagai bagian integral dari peradaban dunia.
coversongs:
Versi pop duet A Whole New World(Aladdin’s Theme) yang dinyanyikan Peabo Bryson(74) dan Regina Belle(63) dirilis tahun 1993 oleh Columbia Records, setelah film Aladdin tayang pada 1992.
Tema lagu film ini dimaknai tentang cinta, kebebasan, dan penemuan dunia baru: Aladdin mengajak Jasmine — Aladdin diisi suaranya oleh Scott Weinger(dialog) dan Brad Kane(nyanyian), sedangkan Jasmine diisi suaranya oleh Linda Larkin(dialog) dan Lea Salonga(nyanyian) — keluar dari keterkungkungan istana untuk melihat kehidupan yang lebih luas, simbol perjalanan menuju kebebasan dan harapan baru.
credit foto diambil dari kanal Youtube Predictive History dan dibuat dalam bentuk mozaik.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





