Dengarkan Artikel
Oleh Nurlita
Siswa SMA Negeri 1 Jangka, Peusangan, Kabupaten Bireun, Aceh
Di desa Ruseb Ara, kecamatan Jangka, Peusangan, Kabupaten Bureun, Aceh tempat saya dilahirkan, pada tanggal 26 November 2025, saya dan kawan kawan memutar sekitar kampung saya, karena kami ingin melihat kondisi sekeliling kampung kami. Kala itu di desa kami belum terdampak banjir dan lucunya dan juga sedihnya ketika orang orang menanyakan keaadaan kampung kami, kami dengan senang hati menjawab kampung kami gak terjadi apa-apa. Sedangkan kampung lain sudah terdampak banjir.
Sepanjang perjalanan, kami melewati arus air yang sangat deras, dengan bodohnya kami masih memikirkan bahwa kampung kami masih aman aman saja, dan tibalah pada saat kami pulang, kami melihat kampung sendiri sudah penuh dengan air dan orang orang sudah terburu buru ingin mengungsi. Sementara kami, masih di jalan dan belum mengetahui bagaimana keadaan rumah kami dan keluarga kami.
Nah, disitulah kami tergesa gesa pulang dengan hati yang sangat risau karena memikirkan keadaan rumah kami yang belum kami ketahui seperti apa yang terjadi.
Setiba di rumah, saya melihat keadaan rumah yang sangat menyedihkan karena penuh dengan air dan juga keluarga sudah siap untuk mengungsi. Setalah melewati banjir” itu, kami pergi ke tempat yang lebih aman yang tentunya tidak kebanjiran.
📚 Artikel Terkait
Setelah hari itu berlalau, tibalah pada suatu malam dan pada malam itu hujan yang sangat deras dan listrik padam. Kami semua di pengusian, hati kami sangat kacau balau. Di luar hujan terus menerus tanpa henti, sehingga malam itu kami tidak bisa tidur sedetik pun. Pada malam itu kita semua memohon doa kepada Allah swt. Untuk jauhkan bala yang sangat amat kita takutkan.
Pada paginya, tepatnya pada tanggal 27 November 2025, kita semua bergegas gegas ingin melihat kondisi di luar dan alhamdulillah airnya tidak deras lagi, walaupun masih ada. Di situlah pecah tangis kami semua, karena Allah mengabulkan permintaaan kami semalam.
Bencana banjir ini menjadi bencana tang sangat menyedihkan bagi kami. Banjir bandang itu, membuat rumah kami dipenuhi lumpur, dan juga tumpukan kayu gelondongan yang hanyut dari hutan. Kami tidak bisa langsung pulang menempati rumah, karena banyak yang rusak dan hancur. Banjir bandang itu juga tragedi yang memilukan. Pokoknya banjir bandang itu menjadi hari yang paling menyedihkan dan dimana hari itu juga saya sebut sebagai hari yang penuh dengan trauma. Kami trauma melihat peristiwa yang sangat dahsyat tersebut, apalagi pada mulanya kami tidak menyangka kalau kampung kami juga dihantam banjir.
Bencana ini, membuat kami sangat menderita dan kami berhadapan dengan berbagai bentuk kesulitan. Betapa tidak, banjir bandang yang mematikan, ditambah pula padamnya listrik, sulitnya internet serta kesulitan akan segala kebutuhan hidup. Orang-orang yang tidak terkena banjir saja mengalami kesulitan, apalagi kami yang berada di dalam wilayah banjir?

POTRET Gallery Banda Aceh
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






