• Latest
Tidak Masuk Surga Sebelum Melewati Kematian - 2025 05 21 11 59 38 | Kenangan | Potret Online

Tidak Masuk Surga Sebelum Melewati Kematian

Mei 21, 2025
Pendidikan SD

Di Antara Wahyu dan Rasio: Menyatukan Jalan Pendidikan Aceh

April 22, 2026
aef171bb-b3d2-4814-9a54-7d09b7b9f971

Perempuan Ganda;Kartini Dulu Hingga Kini

April 22, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Tidak Masuk Surga Sebelum Melewati Kematian - 1001348646_11zon | Kenangan | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Tidak Masuk Surga Sebelum Melewati Kematian - 1001353319_11zon | Kenangan | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Tidak Masuk Surga Sebelum Melewati Kematian

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Mei 21, 2025
in Kenangan
Reading Time: 2 mins read
0
Tidak Masuk Surga Sebelum Melewati Kematian - 2025 05 21 11 59 38 | Kenangan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Di malam yang terlalu sunyi untuk disebut malam, di sudut kamar yang pernah jadi saksi tawa dan bisik-bisik lembut, Najwa Shihab menangis. Bukan tangis biasa. Tangis itu mengoyak diam. Menelanjangi kesabaran. Menghempaskan seluruh teori tentang ketegaran yang selama ini ia pelajari sejak menjadi jurnalis, sejak belajar menyulam logika di Fakultas Hukum, sejak menjadi anak seorang ulama besar yang berkali-kali mengajarkan bahwa hidup ini hanyalah titipan. Tapi malam ini, tidak ada titipan. Yang ada hanyalah kehilangan. Lengkap, utuh, dan membusuk di pelukan waktu.

Ibrahim sudah pergi. Suaminya. Cinta pertamanya. Teman diskusinya. Penjaga pikirannya. Pria yang ia nikahi di usia 20, ketika ia belum selesai menyusun cita-cita tapi sudah mantap memilih siapa yang ingin ia ajak menua. Ia tidak akan kembali. Tidak akan ada lagi pesan pendek yang muncul di layar ponsel, tidak akan ada suara yang memanggil “Naj” dengan nada jenaka, tidak akan ada tangan yang menyentuh pundaknya saat pikirannya terlalu lelah.

Baca Juga
  • Seribu Senja di Blangpidie
  • Tidak Ada yang Abadi, Semuanya Berubah:Cerita Masa Kecil

Kematian memang datang, seperti yang selalu dikatakan Abi, Quraish Shihab, bahwa ia adalah pintu menuju keabadian. Tapi tidak pernah dijelaskan betapa pintu itu terkadang seperti lubang jurang. Yang tidak hanya menelan yang pergi, tapi juga meremukkan yang tinggal. Tidak ada yang mempersiapkan Najwa untuk ini. Bahkan setelah berpuluh kali bicara tentang kematian di layar kaca, setelah berpuluh kali mendengar sang ayah berkata, “Kita tidak akan masuk surga sebelum melewati kematian,” semua itu kini terdengar seperti kalimat yang terlalu mudah diucapkan, terlalu sulit untuk dirasakan.

Najwa duduk diam di ujung ranjang, matanya bengkak, napasnya pendek, dan pikirannya melayang ke hari-hari sederhana, saat Ibrahim membenarkan jilbabnya dengan tangan kikuk, saat mereka berdebat tentang buku hukum sambil tertawa, saat mereka menyuapi Izzat kecil sambil bernyanyi lagu-lagu lawas. Semua itu kini menjadi puing. Puing itu menancap tajam di hatinya.

Baca Juga
  • Survive and Happy Anniversary Majalah POTRET
  • In Memorial Bapak Dr.Qismullah Yusuf, Sang Inspirator. 

Di Rumah Sakit PON, tempat Ibrahim mengembuskan napas terakhir karena stroke, waktu seolah terhenti. Mesin detak jantung berhenti berbunyi, dan dunia pun membisu. Bahkan malaikat maut, mungkin, menunduk hormat pada cinta yang diputusnya hari itu. Jakarta terasa sepi. Langit menggantung kelabu, seolah ikut berduka. Bahkan udara pun menolak masuk ke paru-paru Najwa, seperti tak ingin menyakiti perempuan yang kehilangan separuh jiwanya.

Nisan di Jeruk Purut akan didirikan. Tanah akan menelan tubuh yang selama ini menjadi pelabuhan bagi lelah dan rindu. Tapi bagaimana mungkin cinta dikubur begitu saja? Bagaimana mungkin kenangan dibungkam dengan sekop dan bunga? Bagaimana mungkin, setelah hampir 25 tahun membangun hidup bersama, semua harus berakhir dalam satu liang dan sebaris doa?

Baca Juga
  • Kenangan dan inspirasi Dwiyanto Setyawan Melahirkan Karya 80 Judul Buku Cerita dan Novel(1)
  • HABIBIE, TEKNOLOGI DAN CINTA SEJATI, Kenangan Yang Tak Terlupa

Najwa tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa malam ini ia sendiri. Bahwa meski Abi berkata, “Kematian itu nikmat,” rasa kehilangan tetap membakar dada seperti api kecil yang pelan-pelan menyala. Ia menangis. Lagi. Lebih dalam. Lebih dalam dari liang kubur. Karena di dalam dirinya, seseorang baru saja dimakamkan. Mbak Nana tahu, tidak akan ada yang sama lagi. Tidak esok. Tidak lusa. Tidak selamanya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Tidak Masuk Surga Sebelum Melewati Kematian - 2025 05 21 16 44 46 | Kenangan | Potret Online

Understanding the Relevance of Philosophy for the Modern Muslim

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com