POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Budaya Ngopi Dalam Perspektif Anak Muda

RedaksiOleh Redaksi
January 16, 2026
Ketika Relasi Mengalahkan Prestasi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Mahasiswa Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat di era modern. Dunia pendidikan, pola pergaulan sosial, hingga cara masyarakat memaknai ruang publik ikut mengalami pergeseran.

Di era digital saat ini, akses terhadap buku, referensi, dan sumber pengetahuan tidak lagi bergantung pada ruang-ruang formal seperti perpustakaan atau ruang kelas saja. Akses internet telah menyebar dan menjadi pintu utama untuk pencarian ilmu pengetahuan dan informasi, terutama bagi kalangan generasi muda yang tumbuh bersama teknologi saat ini.

Perubahan perkembangan ini turut memengaruhi cara mahasiswa dan pelajar untuk belajar. Aktivitas membaca, berdiskusi, dan mengerjakan tugas tidak selalu dilakukan di ruang akademik formal. Namun, Banyak anak muda justru memilih ruang-ruang informal yang dianggap lebih fleksibel, dan nyaman. Mereka mencari tempat belajar yang memberi rasa santai, yang memungkinkan interaksi sosial lebih terbuka, sekaligus didukung akses internet yang cepat untuk mencari sumber referensi.

Dalam konteks ini, warung kopi di Aceh mengalami perubahan fungsi. Warung kopi tidak hanya sekadar tempat nongkrong, dan ruang silaturahmi, tetapi berkembang menjadi ruang belajar informal dan ruang diskusi. Dari kalangan mahasiswa, pelajar dan pekerja muda menjadikan warung kopi sebagai tempat mengerjakan tugas, mencari referensi, berdiskusi, hingga membangun jejaring networking yang luas.

Kebiasaan ini tidak terlepas dari budaya Aceh yang sejak lama memiliki tradisi ngopi yang kuat. Karena itu, membicarakan budaya ngopi di kalangan anak muda Aceh bukan hanya soal runitas kehidupan, tetapi juga berkaitan dengan identitas kultural, ruang sosial, dan kehidupan ekonomi-sosial masyarakatnya.

Budaya Ngopi sebagai Identitas Kultural

Budaya ngopi di Aceh bukanlah fenomena baru yang muncul karena maraknya kafe modern atau tren media sosial. Sejak lama, warung kopi atau keude kuphi telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat. Ia berfungsi sebagai ruang silaturahmi dan membangun relasi sosial antarmasyarakatnya.

Dalam keseharian masyarakat Aceh, warung kopi tidak sekadar tempat menikmati secangkir kopi, tetapi menjadi ruang interaksi yang relatif terbuka. Di tempat ini, perbedaan status sosial sering kali mencair. Petani, nelayan, mahasiswa, pegawai, tokoh masyarakat, hingga pejabat lokal dapat duduk semeja dan berbincang tanpa jarak formal. Karena itu, warung kopi dapat dipahami sebagai ruang publik yang lebih terbuka dan demokratis, di mana setiap orang memiliki ruang untuk berbicara dan didengar.

Yang tidak kalah penting ialah tradisi ngopi di Aceh juga terkait erat dengan nilai-nilai keagamaan. Adanya qanun yang mengatur aktivitas warung kopi, seperti kewajiban menghentikan kegiatan saat azan berkumandang, menunjukkan bahwa budaya ngopi berjalan seiring dengan praktik keagamaan dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Aceh sebagai daerah yang menjalankan syarit islam.

Suara Anak Muda dari Warung Kopi

📚 Artikel Terkait

Teka Teki RUU Sisdiknas: Madrasah

Puisi Bencana Alkhair Aljohore

Kakankemenag Apresiasi Buku Rincong Kata Bertema Budaya dan Alam Aceh

FORUM AYO SELAMATKAN INDONESIA

Bagi anak muda, warung kopi bukan sekadar tempat minum, melainkan ruang hidup. Ia menjadi tempat bertemu, berbincang, berpikir, sekaligus membangun jejaring sosial. Dari pagi hingga larut malam, warung kopi selalu ramai dengan pengunjungnya: mahasiswa dengan laptopnya, pemuda desa yang mendiskusikan persoalan desanya, relawan sosial, aktivis lingkungan, jurnalis, hingga pekerja harian. Di ruang inilah kehidupan anak muda bergerak secara alami tanpa sekat formal, namun tetap produktif dan dinamis.

Seiring waktu, warung kopi berkembang sebagai institusi sosial khas Aceh. Tidak sedikit ide kegiatan kepemudaan, gerakan sosial, dan inisiatif komunitas lahir dari meja kopi. Diskusi santai sering kali bertransformasi menjadi kegiatan sosial, diskusi lingkungan, hingga penggalangan dana kemanusiaan. Dalam konteks ini, warung kopi berfungsi sebagai ruang produksi gagasan sekaligus ruang sosial yang dekat dengan realitas masyarakatnya.

Namun demikian, di kalangan anak muda, budaya ngopi juga mengalami pergeseran makna. Aktivitas ini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan minum kopi dan bersosialisasi, tetapi telah menjelma menjadi gaya hidup yang sarat dengan simbol produktivitas, ekspresi diri, dan tren sosial. Kafe-kafe dengan konsep nyaman dan instagramable kini tidak hanya berfungsi sebagai ruang mengerjakan tugas, berdiskusi, dan mencari inspirasi, namun juga melengkapi sudut-sudut visual untuk kebutuhan dokumentasi di media sosial. Pada titik ini, budaya ngopi tidak hanya membentuk pola interaksi sosial, tetapi juga turut memengaruhi cara anak muda memaknai ruang, waktu, dan identitas diri di tengah dinamika kehidupan di era modern.

Dalam konteks tersebut, penulis berbincang dengan Fadli, teman sekolah dahulu, yang menuturkan bahwa warung kupi telah menjadi ruang penting dalam kesehariannya sebagai mahasiswa. Menurutnya, suasana santai yang ditemani secangkir kopi dan obrolan ringan justru memudahkan lahirnya ide-ide segar untuk menyelesaikan tugas kuliah hingga skripsinya. Di warung kopi, pikirannya terasa lebih rileks; diskusi dengan teman mengalir lebih luas dan persoalan akademik yang sering kali buntu di ruang formal perlahan menemukan jalan keluar. Bagi Fadli, warung kupi bukan sekadar tempat nongkrong, melainkan ruang alternatif untuk belajar, mencari inpirasi dan berpikir kritis.

Di kesempatan lain, penulis juga mewawancarai Rahmat, teman satu organisasi semasa kuliah yang kini bekerja di salah satu perusahaan asuransi di Kota Banda Aceh. Ia menyampaikan bahwa aktivitas ngopi telah menjadi rutinitas hampir setiap harinya. Selain untuk menikmati secangkir kopi, warung kopi juga menjadi tempat menyelesaikan pekerjaan kantor karena suasananya dinilai nyaman dan membantu fokus. Rahmat mengakui bahwa aspek estetika turut memengaruhi pilihannya; ia kerap mendatangi kafe dengan desain menarik dan spot foto yang instagramable, seperti Tomorrow Coffee dan beberapa kafe estetik lainnya. Baginya, warung kopi berfungsi sebagai ruang kerja alternatif sekaligus tempat melepas penat di tengah sibuknya kerjaan kantoran.

Dari sisi pelaku usaha, penulis juga berbincang dengan seorang owner muda warung kopi di Banda Aceh. Ia menuturkan bahwa kecintaannya pada kopi bertemu dengan realitas sosial masyarakat saat ini, di mana warung kopi menjadi tempat beristirahat, mencari inspirasi, dan ruang silaturahmi. Dari situ, ia melihat peluang usaha yang strategis. Menurutnya, warung kopi yang berada di lokasi strategis, menawarkan kenyamanan, dan memiliki pengunjung yang selalu stabil dan ramai di kunjungi sehingga mampu menghasilkan omzet puluhan hingga ratusan juta rupiah. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan tidak semata ditentukan oleh lokasi, melainkan juga oleh kenyamanan tempat, ketersediaan tempat ibadah, area parkir yang luas, serta suasana yang membuat pengunjung betah. Dan yang paling penting lagi ialah kualitas racikan dan cita rasa kopi tetap menjadi kunci utama, dengan tujuan agar sekali tegukan harus meninggalkan kesan dan mendorong pelanggan untuk kembali lagi. Ujarnya.

Namun di sisi lain, fenomena yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya pergeseran pola budaya ngopi yang perlu dicermati secara kritis. Jika sebelumnya aktivitas ngopi identik dengan waktu-waktu tertentu dan lebih banyak di isi oleh laki-laki, namun hingga kini praktik tersebut meluas secara signifikan. Warung kopi tidak hanya ramai oleh kalangan laki-laki, tetapi juga dihadiri oleh perempuan dan bahkan anak-anak yang berada di ruang tersebut hingga larut malam.

Pergeseran ini patut menjadi perhatian serius, karena secara sosial kultural dan religius, kondisi tersebut tidak sepatutnya berjalan apalagi Aceh sebagai daerah yang menjalakan syariat islam. Aktivitas di luar rumah hingga larut malam, khususnya bagi perempuan dan anak-anak, berpotensi menimbulkan berbagai persoalan baru. Dari sisi sosial, hal ini berkaitan dengan aspek keamanan dan kenyamanan ruang publik; dari sisi kesehatan, berkaitan dengan pola istirahat dan sementara dari sisi pendidikan dan pembentukan karakter, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kedisiplinan, dan pola perilaku bagi anak-anak dan remaja.

Dalam kerangka ini, pembatasan jam ngopi perlu dipahami bukan sebagai bentuk pelarangan budaya atau pembatasan ruang sosial bagi masyarakatnya, melainkan sebagai upaya menjaga keseimbangan antara kebebasan dan nilai syariat serta tanggung jawab sosial-moral. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama aparatur gampong, tokoh agama, tokoh adat, serta pemilik warung kopi perlu mengambil peran aktif dalam merumuskan aturan yang sesuai dengan syariat dan norma sosial, khususnya dari kalangan kaum perempuan tanpa di dampingi pendamping yang sah, pelajar dan anak-anak pada jam-jam hingga larut malam. Dengan tujuan agar budaya identitas ngopi di Aceh tetap terjaga sesuai syariat islam dan normal sosial, demi keselamatan generasi muda mudi Aceh dari sekarang hingga di masa yang akan datang.

Selain pembatasan jam operasional, penguatan nilai-nilai keagamaan di ruang warung kopi juga menjadi hal yang penting. Dalam konteks Aceh sebagai Serambi Mekkah, warung kopi idealnya tidak terlepas dari runinitas masyarakat. Aktivitas ngopi semestinya berjalan seiring dengan kewajiban sebagai seorang muslim/muslimah. Ketika waktu shalat telah tiba, ibadah itulah yang harus dulu didahulukan, sebab shalat merupakan fondasi utama keimanan dan spiritual kehidupan masyarakatnya.

Karena itu, diperlukan juga imbauan yang harus di sampaikan kepada pengujung, agar aktivitas ngopi tidak melalaikan kewajiban shalat. Imbauan tersebut dapat disampaikan melalui berbagai media, seperti pengeras suara di warung kopi, siaran radio lokal, maupun pemberitahuan langsung dari pihak pengelola ketika waktu shalat telah tiba. Lebih dari sekadar imbauan, penyediaan ruang ibadah yang layak, nyaman, dan bersih juga menjadi bagian penting, disertai ajakan yang santun untuk mengingatkan para pengunjung agar menunaikan ibadah shalat karena kewajiban sudah waktunya tiba.

Dengan pendekatan semacam ini, warung kopi tidak hanya berfungsi sebagai ruang konsumsi dan interaksi sosial, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kesadaran moral dan spiritual masyarakatnya. Ketika budaya ngopi dikelola dengan kesadaran sosial dan religius, maka ruang publik seperti warung kopi justru berpotensi menjadi mitra strategis dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus merawat keberlanjutan budaya keislaman di Aceh di tengah perubahan zaman.

Refleksi Akhir: Demi Masa Depan Anak Muda

Bagi anak muda, warung kopi bukan hanya sekadar ruang nongkrong, melainkan ruang refleksi dan perumusan solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Di meja kopi, nilai-nilai keislaman seperti ta‘āwun dan ukhuwwah dapat hadir secara nyata melalui dialog dan kebersamaan. Dalam hal ini, sebagai refleksi demi masa depan anak muda, penting untuk terus menguatkan nilai spiritual, moral, dan kemampuan membagi waktu secara seimbang. Masih banyak hal yang perlu diimbau, dibenahi, dan diperbaiki secara bersama agar generasi muda Aceh ke depan tumbuh kuat secara spiritual, moral, dan mandiri secara finansial. Dalam konteks ini, warung kopi jika dimaknai secara tepat, dapat menjadi sumber inspirasi, ruang belajar sosial, sekaligus tempat tumbuhnya gagasan-gagasan positif bagi anak mudanya.

Namun demikian, perhatian khusus perlu diberikan teguran dan himbaun kepada sejumlah praktik yang berpotensi melenceng dari nilai sosial dan keagamaan. Kebiasaan ngopi hingga larut malam tanpa kontrol, terutama di kalangan pelajar, anak-anak di bawah umur, serta pengunjung yang menjadikan warung kopi sebagai tempat menghabiskan waktu tanpa arah, perlu disikapi secara bijaksana. Termasuk pula fenomena perempuan ngopi hingga larut malam tanpa pendamping yang sah. Warung kopi semestinya dimaknai sebagai ruang silaturahmi dan rehat sejenak untuk mencari inspirasi, bukan sebagai tempat terjebak dalam aktivitas negatif seperti melalaikan waktu dalam hal yang tidak bermanfaat, bermain game online hingga sampai pagi, perjudian, atau praktik lain yang jelas dilarang oleh agama dan negara. Dalam konteks sosial Aceh, kondisi ini menuntut kebijaksanaan, kesadaran bersama, serta aturan yang selaras dengan nilai-nilai syariat Islam.

Pada akhirnya, budaya ngopi menuntut pengelolaan yang bijaksana dan berimbang. Dengan pembatasan jam operasional, pengawasan yang ketat, serta penguatan nilai-nilai keagamaan, warung kopi dapat tetap menjadi ruang inspirasi tanpa mengorbankan masa depan generasi muda-mudinya. Di sinilah keseimbangan menjadi kunci: kopi tetap mengalir, gagasan tetap tumbuh, dan nilai-nilai keislaman di Aceh tetap terjaga hingga sepanjang hayat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00