• Latest
Sisi Humor Donald Trump: Lebih dari Sekadar Kontroversi

Sisi Humor Donald Trump: Lebih dari Sekadar Kontroversi

Januari 15, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sisi Humor Donald Trump: Lebih dari Sekadar Kontroversi

Novita Sari Yahyaby Novita Sari Yahya
Januari 15, 2026
Reading Time: 8 mins read
Sisi Humor Donald Trump: Lebih dari Sekadar Kontroversi
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Novita sari yahya
Pendahuluan

Donald J. Trump adalah sosok yang sulit dipisahkan dari berbagai kontroversi. Selama dua masa jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat, ia sering menjadi pusat perhatian dunia bukan hanya lewat kebijakan dan pernyataannya, tetapi juga lewat gaya komunikasinya yang unik. Banyak pihak yang mengecam atau mengagumi, tetapi satu hal yang menarik untuk dibahas adalah sisi humoris Trump.

Meski tersebar kisah tentang caci maki, kata-kata tajam, serta kebijakan kontroversial, Trump juga punya momen-momen humor yang pantas dicermati. Bagi saya pribadi, humor yang bisa ditampilkan oleh seorang pemimpin terutama kalau itu dilakukan pas ia sedang menjabat menunjukkan sesuatu yang lebih dalam tentang kejujuran, kepribadian, dan cara berkomunikasi seseorang. Tidak hanya sekadar lelucon, humor bisa mencerminkan keterbukaan, keberanian, dan kecerdasan sosial.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Artikel ini mencoba menggali sisi-sisi humor Trump, bagaimana ia menggunakan humor dalam konteks politik dan komunikasi publiknya, serta membandingkannya secara reflektif dengan figur humoris lain seperti Presiden Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pemimpin yang juga dikenal dengan kecerdasan humornya.

  1. Trump sebagai Figur Humor dalam Politik

1.1. Humor Trump dalam Setiap Perkembangan Politik

Banyak yang berpikir Donald Trump tidak pernah bercanda, apalagi berniat membuat lawakan yang tulus. Padahal, di tengah lautan kritik dan kontroversi, Trump sering membuat dirinya jadi objek leluconnya sendiri.

Misalnya, ia pernah bercanda tentang tweet terkenalnya yang typo menjadi “covfefe” — sebuah kesalahan ketik yang kemudian menjadi legenda media sosial — dengan mengajak pengikutnya mencari “makna tersembunyi” dari kata tersebut. Trump juga pernah memosting gambar hotelnya yang berlapis emas dengan tulisan “Aku janji tidak akan melakukan ini ke Greenland!” sebagai sindiran terhadap kritik yang muncul dalam perdebatan soal pembelian Greenland. Perilaku seperti ini menunjukkan bahwa Trump terkadang tidak hanya bercanda tentang orang lain, tetapi juga tentang dirinya sendiri.

Dalam sebuah acara kampanye, ia bercanda tentang dirinya sendiri yang sering berbicara tidak terstruktur: “Aku melakukan pekerjaan terbaik tanpa naskah… tapi aku juga melakukan pekerjaan terburuk tanpa naskah.” Kalimat semacam ini bisa dibaca sebagai humor yang sadar diri, meskipun bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh di tengah konteks politik serius.

1.2. Humor Self-Deprecating Trump

Berbeda dari sekadar menyerang lawan politiknya, terkadang Trump mencoba self-deprecating humor yaitu humor yang diarahkan ke dirinya sendiri. Misalnya dalam acara sosial elit seperti Gridiron Club Dinner, di mana ia bercanda tentang hubungan dan dinamika internal pemerintahannya sendiri termasuk humor tentang mantan staf atau istrinya sendiri.

Jenis humor ini sebenarnya tidak mudah dilakukan, karena membutuhkan kesadaran diri dan kemampuan menerima diri sendiri sebagai bahan lawakan. Dalam konteks komunikasi politik, self-deprecating humor dapat membangun kedekatan dengan pendengarnya dan membuat pemimpin terlihat lebih manusiawi.

  1. Mengapa Humor Trump Menjadi Sorotan?

2.1. Humor sebagai Alat Strategi Politik

Menurut analisis salah satu media politik internasional, humor Trump tidak selalu sekadar candaan tanpa tujuan. Dalam banyak kasus, humor digunakan sebagai alat komunikasi strategis untuk membuat hal-hal yang kontroversial terkesan lebih “normal” atau ringan. Dengan kata lain, lelucon dan gimmick yang ia buat bisa menjadi cara untuk meredakan kritik atau membuat lawan politik terlihat terlalu serius atau mudah diprovokasi.

Contohnya, Trump pernah bercanda bahwa China seharusnya menyelidiki Hunter Biden (putra Presiden AS Joe Biden) yang kemudian menjadi bahan debat dan kritik luas. Ketika konteksnya dibungkus dalam guyonan, beberapa pendukung Trump mampu “tertawa bersama”, sementara lawan politik sering melihat hal tersebut sebagai pernyataan serius.

Menurut artikel lain, cara humor Trump bekerja serupa dengan teknik demagogi: humor bisa digunakan untuk merendahkan lawan, menciptakan ikatan emosional dengan audiens sendiri, serta membuat pesan yang kontroversial terasa lebih ringan. Humor semacam itu sering membuat pendukungnya merasa bahwa mereka “mengerti guyonan” sementara kritikus justru tidak melihat humor sama sekali.

2.2. Humor dan Persepsi Publik

Salah satu aspek menarik dari humor Trump adalah bagaimana reaksinya berbeda antara pendukung dan penentangnya. Bagi pendukungnya, lelucon Trump sering dianggap pintar, jujur, dan mengena. Bagi lawan politiknya, humor yang sama justru terlihat sebagai tindakan yang tidak sensitif, berlebihan, atau bahkan manipulatif.

Reaksi ini menunjukkan bahwa humor dalam politik bukan sekadar soal kata-kata lucu, tapi juga soal konteks sosial, politik identitas, dan pandangan dunia para audiens. Dalam lingkungan yang sudah sangat terpolarisasi seperti politik AS, sebuah guyonan bisa ditafsirkan secara sangat berbeda oleh kelompok yang berbeda pula.

  1. Menelaah Humor Trump dari Sudut Psikologis dan Budaya Politik

3.1. Psikologi Humor dan Kejujuran

Humor tidak hanya sekadar hiburan. Secara psikologis, orang yang mampu bercanda tentang dirinya sendiri sering dipandang sebagai orang yang lebih terbuka dan jujur. Dalam konteks umum, humor self-deprecating menunjukkan bahwa seseorang dapat menerima kelemahan diri, bukan hanya menunjukkan sisi kuatnya saja.

Namun, ketika humor dikombinasikan dengan simbol politik, seperti nama-nama julukan terhadap lawan politik (misalnya julukan-julukan khas Trump terhadap rivalnya di media sosial), humor bisa menjadi alat retorika yang kompleks — bukan sekadar canda.

3.2. Humor dalam Budaya Politik Trumpisme

Fenomena Trump sebagai pemimpin yang humoris seringkali berakar lebih luas dalam budaya politik yang disebut “Trumpisme”. Budaya politik ini cenderung menolak norma-norma politik tradisional dan memakai gaya komunikasi yang lebih langsung, emosional, dan seringkali provokatif — termasuk lewat caci maki, julukan, dan guyonan.

ADVERTISEMENT

Dalam budaya politik Trumpisme, humor bukan hanya tentang tertawa bersama. Humor juga berfungsi untuk:

Menegaskan pembelahan antara “elite politik” dan “orang biasa”

Membentuk identitas kelompok pendukung

Menunjukkan otoritas dengan cara yang tidak konvensional

Trumpisme menggunakan humor sebagai alat untuk menarik emosi sekaligus menegaskan batas-batas politik yang eksklusif bagi pendukungnya.

  1. Trump Dibandingkan dengan Figur Humoris Lainnya: Gus Dur

4.1. Gus Dur dan Humor sebagai Citra Kepemimpinan

Sementara Trump dikenal dengan humor yang sering dipolitisasi, Indonesia juga punya contoh pemimpin humoris: KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur sering menggunakan humor dalam kehidupan sehari-hari, bahkan ketika menjabat sebagai Presiden RI. Humor Gus Dur sering bersifat inklusif, reflektif, dan mengundang ruang dialog, bukan hanya sekadar menanggapi kritik politik.

Humor Gus Dur bukan strategi untuk menyamarkan kontroversi atau menciptakan batas identitas politik, tetapi lebih sebagai cara untuk membuka percakapan, meredakan ketegangan, dan memperlihatkan kemanusiaan dari seorang pemimpin.

4.2. Perbandingan Gaya Humor: Trump vs Gus Dur

Perbandingan ini bukan dimaksudkan untuk menentukan siapa yang lebih baik, namun untuk menyoroti bagaimana humor diposisikan dalam konteks budaya politik yang berbeda.

Pada aspek tujuan humor, Donald Trump menempatkan humor sebagai strategi retorika dan politik, sementara Gus Dur menggunakan humor untuk membangun keterbukaan sosial.

Dari sisi target humor, Donald Trump kerap mengarahkan humor kepada lawan politik dan audiensnya sendiri, sedangkan Gus Dur menujukan humor kepada publik luas dan budaya lokal.

Dilihat dari nilai humor, humor Donald Trump bersifat provokatif dan politis, sementara humor Gus Dur bersifat reflektif dan inklusif.

Adapun dalam fungsi humor dalam kepemimpinan, Donald Trump menggunakan humor untuk memobilisasi dukungan politik, sedangkan Gus Dur menggunakan humor untuk meredakan ketegangan sosial.

Analisis sederhana seperti ini menunjukkan bahwa humor bisa memiliki dimensi yang berbeda tergantung konteks budaya, politik, dan sosial.

  1. Kritik terhadap Humor Trump

Meski Trump sering dipuji oleh pendukungnya karena gaya komunikasinya yang “jujur” dan “langsung”, kritik terhadap humor Trump tidak sedikit:

  1. Banyak yang berpendapat bahwa apa yang disebut humor oleh Trump sebenarnya bisa menjadi strategi untuk membuat pesan kontroversial terdengar normal atau bahkan untuk menyamarkan isu serius.
  2. Bagi sebagian pengamat, humor Trump lebih sering bersifat menyerang, termasuk memberi julukan yang bisa dirasakan menghina oleh lawan politiknya.
  3. Kritik lain menyatakan bahwa humor Trump terkadang gagal menjadi humor yang sehat karena konteks yang sangat politis dan polarisatif.
  4. Kesimpulan

Donald Trump memang bukan sekadar tokoh politik yang kontroversial. Sisi humorisnya entah itu lewat guyonan di Twitter, catatan self-deprecating, atau strategi politis adalah bagian yang layak dicermati dalam kajian komunikasi politik modern.

Humor Trump tidak hanya sekadar canda, tetapi sering berfungsi sebagai alat retorika, identitas politik, dan cara berinteraksi dengan publik. Bagi sebagian pihak, humor tersebut menunjukkan keterbukaan dan keberanian; bagi pihak lain, itu justru mencerminkan cara baru dalam membentuk kenyataan politik.

Jika dibandingkan dengan figur humoris lain seperti Gus Dur, kita melihat fungsi humor bisa sangat berbeda tergantung konteks budaya dan tujuan komunikasi.

Akhirnya, humor dalam politik bukan sekadar tawa. Humor adalah cerminan cara kita membaca dunia, menyampaikan kritik, dan memahami siapa pemimpin itu sendiri — baik dalam tawa maupun dalam seriusnya tugas kepemimpinan.

Referensi

  1. https://www.politico.eu/article/trump-pokes-fun-at-himself-why-do-only-some-people-see-it/
  2. https://www.politico.com/news/magazine/2024/03/17/how-donald-trump-uses-humor-to-make-the-outrageous-sound-normal-00146119
  3. https://sumsel.antaranews.com/berita/311563/dua-teori-mengapa-donald-trump-hobi-caci-maki
  4. https://www.kompas.id/artikel/mencermati-akar-budaya-politik-trumpisme

No vita sari yahya
Penulis dan peneliti

Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
    Pemesanan Buku: 089520018812

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Demokrasi Sebagai Topeng

Demokrasi Sebagai Topeng

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com