Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Foto sebagai Saksi Penderitaan Manusia
Setiap bencana alam, kerusuhan massal, dan perang selalu meninggalkan cerita dan foto tentang penderitaan. Foto tentang kehancuran, kerusakan, dan manusia yang meninggal dunia. Tidak ada satu pun tragedi besar yang tidak menyisakan gambar-gambar sunyi: tubuh-tubuh tak bernyawa, rumah yang runtuh, wajah-wajah yang kehilangan harapan. Foto-foto itu berdiri sebagai saksi bisu, tidak berbicara, tetapi justru paling jujur menggambarkan penderitaan manusia.
Foto-foto tragedi selalu menjadi cermin dari kenyataan yang kerap ingin dilupakan. Ia memaksa manusia untuk melihatk kembali apa yang telah terjadi. Dalam setiap bingkai, terdapat jeritan yang tidak terdengar dan kesedihan yang tidak terucap. Karena itu, foto bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan bagian dari proses sejarah yang panjang.
Sejarah Panjang dan Ingatan Kolektif
Setiap foto adalah cermin dan proses sejarah. Sejarah yang kemudian dikenang selama ratusan tahun dan dituliskan dalam cerita. Sejarah tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari akumulasi peristiwa, keputusan, dan tindakan manusia. Foto-foto kehancuran menjadi pintu masuk untuk memahami narasi yang lebih besar tentang kekuasaan, konflik, dan korban.
Dalam perjalanan sejarah yang panjang, tragedi-tragedi besar selalu diingat bukan hanya karena skalanya, tetapi karena dampaknya yang menembus lintas generasi. Ingatan kolektif suatu bangsa sering kali dibentuk oleh peristiwa-peristiwa traumatis yang terekam dalam gambar dan cerita. Dari situlah sejarah hidup, tidak sekadar sebagai catatan akademik, tetapi sebagai luka yang diwariskan.
Pemimpin dan Titik Awal Tragedi
Dalam sejarah yang panjang itu, cerita di balik semua tragedi pada akhirnya bermuara pada beberapa orang yang bertindak sebagai pemimpin. Merekalah yang memutuskan kebijakan publik dan menentukan nasib jutaan orang. Keputusan yang diambil di ruang kekuasaan sering kali jauh dari suara penderitaan rakyat di lapangan.
Sejarah mencatat bahwa tragedi besar jarang terjadi tanpa adanya keputusan politik yang keliru, ambisi yang tak terkendali, atau ideologi yang menutup mata terhadap nilai kemanusiaan. Di titik inilah kepemimpinan menjadi faktor penentu antara keselamatan dan kehancuran.
Perang Dunia dan Bayang-Bayang Gelap Eropa
Seandainya Adolf Hitler tidak melancarkan serangan ke Eropa dalam operasi gerak cepat, mungkin dunia tidak akan menyaksikan potret suram kehancuran Eropa dan Jerman. Kita mungkin tidak akan mengenal penderitaan manusia di kamp konsentrasi, cerita tentang manusia yang diperlakukan tidak manusiawi dan kematian yang terjadi secara sistematis.
Cerita-cerita itu kemudian dituliskan sebagai bayang-bayang gelap dalam sejarah manusia. Bayangan gelap tersebut bukan hanya menjadi milik para korban langsung, tetapi juga menjadi beban bagi rakyat Jerman yang hidup setelah perang. Mereka mewarisi kehancuran fisik, trauma sosial, dan rasa bersalah kolektif yang sulit dihapuskan.
Perang Dunia Kedua membuktikan bahwa satu keputusan agresif dari seorang pemimpin dapat mengubah arah sejarah dunia dan menghancurkan masa depan jutaan orang yang tidak pernah ikut memilih perang itu sendiri.
Kisah Pribadi: PRRI dalam Ingatan Seorang Ayah
Di antara narasi besar sejarah dunia, saya hanya ingin mengenang satu cerita personal saya bersama almarhum ayah saya, dr. Enir Reni Sagaf Yahya. Setiap kali beliau bercerita tentang PRRI, cerita itu selalu disampaikan dengan nada berat, seolah kenangan tersebut tidak pernah benar-benar pudar.
Ayah saya adalah tentara mahasiswa PRRI dari Kompi Mawar. Ia menyaksikan sendiri temannya sesama mahasiswa mati di depan mata. Kematian itu bukan cerita heroik, melainkan tragedi yang meninggalkan trauma mendalam. Tidak ada romantisme dalam perang. Yang ada hanyalah kehilangan.
Ayah saya juga bercerita bahwa dirinya pernah membunuh sepasang suami istri tentara pusat dalam konflik PRRI. Cerita itu tidak pernah dibalut kebanggaan. Cerita disampaikan sebagai pengakuan pahit tentang konsekuensi perang. Tentang bagaimana manusia dipaksa bertindak di luar batas nurani dalam situasi yang tidak memberi pilihan lain.
Menyerah dan Luka Harga Diri Orang Minangkabau
Penderitaan yang paling membekas bagi ayah saya adalah saat menyaksikan dampak psikologis dari perang. Terutama ketika pemimpin Minangkabau, Syafruddin Prawiranegara, menyatakan menyerah kepada Soekarno. Ayah saya, sebagai ajudan, berada dekat dengan momen itu.
📚 Artikel Terkait
Pernyataan menyerah tersebut membanting ego seorang pria Minangkabau. Gamawan Fauzi pernah mengatakan bahwa urang Minang tidak pernah menjadi pengikut, melainkan pemimpin. Karena itu, kekalahan bukan hanya soal militer, tetapi soal harga diri kolektif.
Sejak menyerahnya PRRI, urang Minang hidup dalam kondisi trauma sejarah masa lalu di PRRI. Di satu sisi, mereka dikenal sebagai kelompok intelektual yang cerdas. Di sisi lain, mereka ditundukkan oleh tentara Soekarno dan kemudian dikendalikan oleh Soeharto. Trauma itu tidak pernah benar-benar selesai.
Bencana Alam dan Luka Sejarah yang Bangkit Kembali
Trauma sejarah itu terasa kembali ketika bencana terjadi di Sumatra, baik di Aceh maupun di Sumatra Barat. Rasa kehilangan dan harga diri sebagai kelompok masyarakat kembali mendidih. Bencana alam seolah membuka kembali luka lama yang belum sembuh.
Namun, melalui percakapan-percakapan saya dengan ayah saya, saya disadarkan bahwa semua tragedi besar, baik perang maupun bencana sosial, selalu terkait dengan kebijakan yang diambil para pemimpin. Termasuk dalam peristiwa PRRI dan tragedi 1965, keputusan politik memiliki dampak yang jauh melampaui generasinya.
Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Moral
Oleh karena itu, beban dan tanggung jawab moral seorang pemimpin tidak bisa dianggap ringan. Keputusan strategis yang menyangkut nasib jutaan orang tidak bisa diambil sambil makan-makan, lalu dilanjutkan dengan joget di rumah mewah. Kepemimpinan menuntut perenungan yang panjang dan kesadaran sejarah.
Seorang pemimpin seharusnya membaca kembali rangkaian peristiwa masa lalu, menonton film dokumenter tentang tragedi, dan memahami penderitaan manusia secara mendalam. Film-film tentang Perang Dunia Kedua, misalnya, bukan hiburan, melainkan pelajaran tentang kegagalan kemanusiaan.
Warisan Ingatan dan Kemanusiaan
Mungkin itulah sebabnya sejak usia 12 tahun, hanya saya dan ayah saya yang tekun menonton film Perang Dunia di televisi ketika kami tinggal di Malaysia. Peristiwa-peristiwa itu membekas hingga kini. Ingatan itu muncul kembali ketika saya melihat foto dua adik-beradik yang meninggal dalam peristiwa banjir bandang di Sumatra Barat akhir November 2025.
Foto itu terasa sangat dalam. Mengingatkan bahwa setiap kebijakan dan keputusan yang ditandatangani seorang pemimpin dapat berujung pada penderitaan jutaan orang. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi inti dari kemanusiaan kita.
Daftar Referensi
1. Historia.id, “Sukarno dan Trauma PRRI.”
2. Historia.id, “Akhir Tragis Penduduk Jerman di Fase Akhir Rezim Fasis.”
3. CEPR VoxEU, “Recovery and Reconstruction in Europe after WWII.”
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
3. Novita & Kebangsaan
4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu Rebel Hearts
Lagu Rebel Hearts
Pencipta lagu Gede Jerson
Berdasarkan puisi hitam putih cinta kita karya Novita sari yahya
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





