POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Foto, Tragedi, dan Beban Sejarah

Tentang Pemimpin, Keputusan, dan Kemanusiaan

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
January 4, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Novita Sari Yahya 

Foto sebagai Saksi Penderitaan Manusia

Setiap bencana alam, kerusuhan massal, dan perang selalu meninggalkan cerita dan foto tentang penderitaan. Foto tentang kehancuran, kerusakan, dan manusia yang meninggal dunia. Tidak ada satu pun tragedi besar yang tidak menyisakan gambar-gambar sunyi: tubuh-tubuh tak bernyawa, rumah yang runtuh, wajah-wajah yang kehilangan harapan. Foto-foto itu berdiri sebagai saksi bisu, tidak berbicara, tetapi justru paling jujur menggambarkan penderitaan manusia.

Foto-foto tragedi selalu menjadi cermin dari kenyataan yang kerap ingin dilupakan. Ia memaksa manusia untuk melihatk kembali apa yang telah terjadi. Dalam setiap bingkai, terdapat jeritan yang tidak terdengar dan kesedihan yang tidak terucap. Karena itu, foto bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan bagian dari proses sejarah yang panjang.

Sejarah Panjang dan Ingatan Kolektif

Setiap foto adalah cermin dan proses sejarah. Sejarah yang kemudian dikenang selama ratusan tahun dan dituliskan dalam cerita. Sejarah tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari akumulasi peristiwa, keputusan, dan tindakan manusia. Foto-foto kehancuran menjadi pintu masuk untuk memahami narasi yang lebih besar tentang kekuasaan, konflik, dan korban.

Dalam perjalanan sejarah yang panjang, tragedi-tragedi besar selalu diingat bukan hanya karena skalanya, tetapi karena dampaknya yang menembus lintas generasi. Ingatan kolektif suatu bangsa sering kali dibentuk oleh peristiwa-peristiwa traumatis yang terekam dalam gambar dan cerita. Dari situlah sejarah hidup, tidak sekadar sebagai catatan akademik, tetapi sebagai luka yang diwariskan.

Pemimpin dan Titik Awal Tragedi

Dalam sejarah yang panjang itu, cerita di balik semua tragedi pada akhirnya bermuara pada beberapa orang yang bertindak sebagai pemimpin. Merekalah yang memutuskan kebijakan publik dan menentukan nasib jutaan orang. Keputusan yang diambil di ruang kekuasaan sering kali jauh dari suara penderitaan rakyat di lapangan.

Sejarah mencatat bahwa tragedi besar jarang terjadi tanpa adanya keputusan politik yang keliru, ambisi yang tak terkendali, atau ideologi yang menutup mata terhadap nilai kemanusiaan. Di titik inilah kepemimpinan menjadi faktor penentu antara keselamatan dan kehancuran.

Perang Dunia dan Bayang-Bayang Gelap Eropa

Seandainya Adolf Hitler tidak melancarkan serangan ke Eropa dalam operasi gerak cepat, mungkin dunia tidak akan menyaksikan potret suram kehancuran Eropa dan Jerman. Kita mungkin tidak akan mengenal penderitaan manusia di kamp konsentrasi, cerita tentang manusia yang diperlakukan tidak manusiawi dan kematian yang terjadi secara sistematis.

Cerita-cerita itu kemudian dituliskan sebagai bayang-bayang gelap dalam sejarah manusia. Bayangan gelap tersebut bukan hanya menjadi milik para korban langsung, tetapi juga menjadi beban bagi rakyat Jerman yang hidup setelah perang. Mereka mewarisi kehancuran fisik, trauma sosial, dan rasa bersalah kolektif yang sulit dihapuskan.

Perang Dunia Kedua membuktikan bahwa satu keputusan agresif dari seorang pemimpin dapat mengubah arah sejarah dunia dan menghancurkan masa depan jutaan orang yang tidak pernah ikut memilih perang itu sendiri.

Kisah Pribadi: PRRI dalam Ingatan Seorang Ayah

Di antara narasi besar sejarah dunia, saya hanya ingin mengenang satu cerita personal saya bersama almarhum ayah saya, dr. Enir Reni Sagaf Yahya. Setiap kali beliau bercerita tentang PRRI, cerita itu selalu disampaikan dengan nada berat, seolah kenangan tersebut tidak pernah benar-benar pudar.

Ayah saya adalah tentara mahasiswa PRRI dari Kompi Mawar. Ia menyaksikan sendiri temannya sesama mahasiswa mati di depan mata. Kematian itu bukan cerita heroik, melainkan tragedi yang meninggalkan trauma mendalam. Tidak ada romantisme dalam perang. Yang ada hanyalah kehilangan.

Ayah saya juga bercerita bahwa dirinya pernah membunuh sepasang suami istri tentara pusat dalam konflik PRRI. Cerita itu tidak pernah dibalut kebanggaan. Cerita disampaikan sebagai pengakuan pahit tentang konsekuensi perang. Tentang bagaimana manusia dipaksa bertindak di luar batas nurani dalam situasi yang tidak memberi pilihan lain.

Menyerah dan Luka Harga Diri Orang Minangkabau

Penderitaan yang paling membekas bagi ayah saya adalah saat menyaksikan dampak psikologis dari perang. Terutama ketika pemimpin Minangkabau, Syafruddin Prawiranegara, menyatakan menyerah kepada Soekarno. Ayah saya, sebagai ajudan, berada dekat dengan momen itu.

📚 Artikel Terkait

Mahasiswi Di Titik Nol

Pasar Murah Dinilai Membantu Masyarakat Kota Banda Aceh

Serumpun Puisi Heza Hara

Menolak Tegas PROKER Irrasional BEM USK Banda Aceh

Pernyataan menyerah tersebut membanting ego seorang pria Minangkabau. Gamawan Fauzi pernah mengatakan bahwa urang Minang tidak pernah menjadi pengikut, melainkan pemimpin. Karena itu, kekalahan bukan hanya soal militer, tetapi soal harga diri kolektif.

Sejak menyerahnya PRRI, urang Minang hidup dalam kondisi trauma sejarah masa lalu di PRRI. Di satu sisi, mereka dikenal sebagai kelompok intelektual yang cerdas. Di sisi lain, mereka ditundukkan oleh tentara Soekarno dan kemudian dikendalikan oleh Soeharto. Trauma itu tidak pernah benar-benar selesai.

Bencana Alam dan Luka Sejarah yang Bangkit Kembali

Trauma sejarah itu terasa kembali ketika bencana terjadi di Sumatra, baik di Aceh maupun di Sumatra Barat. Rasa kehilangan dan harga diri sebagai kelompok masyarakat kembali mendidih. Bencana alam seolah membuka kembali luka lama yang belum sembuh.

Namun, melalui percakapan-percakapan saya dengan ayah saya, saya disadarkan bahwa semua tragedi besar, baik perang maupun bencana sosial, selalu terkait dengan kebijakan yang diambil para pemimpin. Termasuk dalam peristiwa PRRI dan tragedi 1965, keputusan politik memiliki dampak yang jauh melampaui generasinya.

Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Moral

Oleh karena itu, beban dan tanggung jawab moral seorang pemimpin tidak bisa dianggap ringan. Keputusan strategis yang menyangkut nasib jutaan orang tidak bisa diambil sambil makan-makan, lalu dilanjutkan dengan joget di rumah mewah. Kepemimpinan menuntut perenungan yang panjang dan kesadaran sejarah.

Seorang pemimpin seharusnya membaca kembali rangkaian peristiwa masa lalu, menonton film dokumenter tentang tragedi, dan memahami penderitaan manusia secara mendalam. Film-film tentang Perang Dunia Kedua, misalnya, bukan hiburan, melainkan pelajaran tentang kegagalan kemanusiaan.

Warisan Ingatan dan Kemanusiaan

Mungkin itulah sebabnya sejak usia 12 tahun, hanya saya dan ayah saya yang tekun menonton film Perang Dunia di televisi ketika kami tinggal di Malaysia. Peristiwa-peristiwa itu membekas hingga kini. Ingatan itu muncul kembali ketika saya melihat foto dua adik-beradik yang meninggal dalam peristiwa banjir bandang di Sumatra Barat akhir November 2025.

Foto itu terasa sangat dalam. Mengingatkan bahwa setiap kebijakan dan keputusan yang ditandatangani seorang pemimpin dapat berujung pada penderitaan jutaan orang. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi inti dari kemanusiaan kita.

Daftar Referensi

1. Historia.id, “Sukarno dan Trauma PRRI.”

https://www.historia.id/article/sukarno-dan-trauma-prri-p7eg2

2. Historia.id, “Akhir Tragis Penduduk Jerman di Fase Akhir Rezim Fasis.”

https://www.historia.id/article/akhir-tragis-penduduk-jerman-di-fase-akhir-rezim-fasis-deaex

3. CEPR VoxEU, “Recovery and Reconstruction in Europe after WWII.”

https://cepr.org/voxeu/columns/recovery-and-reconstruction-europe-after-wwii

Profil Novita Sari Yahya

Penulis dan Peneliti

Buku yang Diterbitkan:

1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen

2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru

3. Novita & Kebangsaan

4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa

5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa

6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri

7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi

8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu

Pemesanan Buku: 089520018812

Lagu Rebel Hearts 

Lagu Rebel Hearts 

Pencipta lagu Gede Jerson

Berdasarkan puisi hitam putih cinta kita karya Novita sari yahya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Merayakan Hal-Hal Kecil sebagai Bentuk Penghargaan Diri

Merayakan Hal-Hal Kecil sebagai Bentuk Penghargaan Diri

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00