Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Istri saya berbisik, “Pa, Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi itu keren dikulik.” Saya pun jadi penasaran. Sepuluh pemuda ala Soekarno saja bisa heboh, ini sampai sejuta pemuda. Agar tak penasaran, nikmati narasinya sambil seruput Sekoteng, kebetulan dah lama tak minumnya.
Sukabumi itu biasanya identik dengan mochi. Kenyal, manis, dan diam-diam bikin nagih. Tapi belakangan, kota ini punya satu “mochi” lain yang jauh lebih lengket di kepala, Masjid Sejuta Pemuda. Nama resminya Masjid At-Tin, berdiri tenang di Jalan Lamping, Kelurahan Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Tenang dari luar, tapi di dalamnya seperti Curug Sawer saat musim hujan. Deras, hidup, dan bikin orang spontan ingin turun ikut basah.
Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf sekitar 3.000 meter persegi, bangunannya kurang lebih 200 meter persegi, dengan kapasitas sekitar 200 jamaah. Datanya rapi tercatat di Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama. Didirikan tahun 2024, tapi embrionya sudah berdenyut sejak 2021, digerakkan oleh Anggy Firmansyah Sulaiman dan barisan pemuda yang tampaknya lelah menunggu perubahan sambil rebahan. Mereka memilih membangun. Pelan, konsisten, dan tanpa banyak ceramah.
Di kota yang punya Geopark Ciletuh, tempat lempeng bumi pamer lipatan sejarah jutaan tahun, Masjid Sejuta Pemuda seperti lempeng sosial yang bergeser halus tapi berdampak. Ia buka 24 jam. Ya, dua puluh empat jam. Ketika sebagian masjid mengunci pintu rapat-rapat seperti brankas bank, masjid ini justru menyalakan lampu dan berkata, “Masuk saja dulu, urusan taubat belakangan.” Di sini, marbot bukan cuma penjaga sajadah, tapi juga barista. Kopi diseduh gratis. Kalau kafe bisa bikin orang betah berjam-jam tanpa salat, kenapa masjid tak boleh bikin orang betah sambil mendekat kepada Tuhan?
Masjid ini punya ruang belajar, aula indoor dan outdoor, taman, area kreatif, studio live streaming, dapur umum, hingga ruang istirahat untuk musafir. Ribuan porsi makanan dibagikan setiap bulan. Programnya bukan kaleng-kaleng, Masjid Academy yang mendatangkan pemuda dari berbagai daerah, kampus imam, stadium general, diskusi, kajian, hingga Ramadan yang rasanya seperti all you can eat pahala, iftar bersama, iktikaf nyaman, dan suasana yang bikin orang lupa pulang. Masjid ini tidak sekadar mengundang jamaah, tapi merawat mereka.
Lucunya, di saat banyak pihak sibuk bertanya, “Kenapa pemuda jauh dari masjid?”, Masjid Sejuta Pemuda justru bertanya balik, “Apa masjid sudah cukup dekat dengan pemuda?” Pertanyaan ini lebih tajam dari ombak Pelabuhan Ratu saat cuaca sedang jujur-jujurnya. Di sini, religius tidak berarti tegang, dan santai tidak berarti sembrono. Salat jalan, adab dijaga, tapi tawa tetap boleh hidup. Karena iman yang sehat bukan iman yang selalu cemberut.
📚 Artikel Terkait
Nama “Sejuta Pemuda” memang agak gimana ya, tapi Sukabumi juga terbiasa dengan hal-hal besar. Ciletuh saja disebut geopark kelas dunia. Kenapa masjid tak boleh bermimpi sejuta pemuda? Sejuta di sini bukan angka statistik, tapi doa kolektif. Seperti kebun teh Sukabumi yang hijau tak habis dipandang, masjid ini ingin menumbuhkan generasi yang terus berlapis, satu datang, mengajak yang lain.
Masjid Sejuta Pemuda akhirnya jadi semacam cermin. Ia memantulkan satu pesan yang sederhana tapi menohok, masjid tidak pernah kekurangan pemuda, yang sering kurang hanyalah keberanian pengelolanya untuk berubah. Sukabumi, dengan mochi, curug, laut selatan, dan lempeng purbanya, kini menambah satu ikon baru, masjid yang hidup, lucu, serius, religius, dan bikin kagum. Bukan karena megahnya bangunan, tapi karena beraninya gagasan. Di zaman penuh wacana ini, keberanian semacam itu rasanya lebih langka daripada mochi asli Sukabumi di hari libur.
Langit pagi menyimpan cerita
Sedada waktu makna terasa
Masjid muda cahaya kota
Pemuda tumbuh makna percaya
Jalan sunyi lampu bergetar
Langkah kecil arah tertata
Kopi pekat malam sabar
Iman tegak dalam dada
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





