Dengarkan Artikel
:
Oleh Jacob Ereste
Kayu gelondongan yang dimuntahkan sungai dan kali hingga menimbulkan bencana nasional pada pengujung tahun 2025, memang telah membuat banyak korban harta benda dan nyawa manusia yang tidak berdosa. Bencana akibat dari penebangan kayu di konsesi hutan yang segarusnya berfungsi menahan air dan membuat keseimbangan bagi alam yang juga berhak hidup lestari.
Dalam perspektif spiritual itulah yang dimaksud bagian dari bahasa yang sudah diteriakkan dari langit yang luput dipahami dan dimengerti oleh manusia yang tamak dan rakus.
Padahal para penerima konsesi hutan secara liar dan ugal-ugalan itu diperoleh mereka yang sudah terbilang berkecukupan secara material, tapi sangat kekurangan dalam pengertian spiritual. Karena itu ketiadaan etika, moral dan akhlak manusia yang sudah diingatkan oleh Tuhan agar tidak membuat kerusakan di muka bumi telah diabaikan. Tanpa mengindahkan kepentingan orang lain, terutama bagi generasi berikutnya.
Katu gelindongan yang dimuntahkan oleh sungai dan kali itu dari perbukitan menuju muara jelas sebagai protes alam yang sudah hilang daya tahan dan daya serapnya untuk menampung curah hujan: Kayu gelondongan itu seakan hendak membuktikan bahwa ketamakan dan kerakusan manusia sudah melampaui batas.
Sebelumnya, ketika saat musim kemarau melanda, api pun sudah berulang kali melakukan demonstrasi dengan menebarkan kabut asap, seakan hendak mengatakan juga bahwa api pun dapat membuat kekejian seperti yang dilakukan manusia.
📚 Artikel Terkait
Bahkan pada saat yang sama, angin puting beliung seakan menyapa keculasan manusia agar segera sadar untuk hidup dalam tatanan harmoni yang sering disebut para ahli agama dalam istilah sunnatullah — hukum alam — adalah hukum yang berada dalam otoritas Tuhan.
Karena hujan, angin dan banjir serta api yang ganas itu memang lebih liar dari ketamakan dan kerakusan manusia yang mengeksploitasi alam seperti mengeruk isi perut bumi entah dalam bentuk apa saja, hingga pasir laut pun dijual demi untuk memperoleh picis.
Kendati harta benda dan kekayaan yang dimiliki sudah berlimpah ruah hingga bisa menjamin anak cucu dan keturunan berikutnya yang tidak alang kepalang jika dibandingkan dengan rakyat banyak yang untuk memenuhi keperluan hidupnya hari ini saja sudah kelumpungan.
Oleh karena itu, kesadaran spiritual sebagai penegak pilar etika, moral dan akhlak mulia manusia sangat diperlukan agar dapat hidup lebih sederhana dan bersahaja agar dapat mengendalikan hawa nafsu hewani yang tidak pantas dan tidak layak bersemayam di dalam batin dan jiwa manusia yang normal.
Karena itu upaya membersihkan sisa-sisa bencana telah diisyaratkan juga oleh bumi dan langit bahwa pembuat atau pelaku bencana di Indonesia yang jelas akibat oleh ulah manusia harus menjadi pioritas utama untuk segera dibersihkan. Seperti sejumlah anggota Kabinet Merah Putih yang telah nyata dan jelas sebagai pelaku utamanya.
Mereka yang mengumbar konsesi, dan mereka yang terkait untuk menjaga hutan dan lahan serta melakukan kontrol terhadap mereka yang mengelola perusahaan perkebunan maupun pertambangan harus mendapat sanksi yang keras. Ini harus, lantaran tidak hanya telah membuat rakyat semakin menderita, tetapi juga telah membuat pemerintah sulit untuk dipercaya hendak menunaikan amanah dari rakyat.
Pembersihan yang tuntas terhadap mereka yang terlibat dalam pemberian konsesi yang diobral hingga melakukan pembiaran — atau bahkan ikut melulundungi para pengusaha perkebunan, maupun pertambangan ini dibersihkan dari kabinet, lembaga maupun instansi terkait dengan kerusakan alam dan lingkungan hidup di berbagai tempat dan daerah. Sebab hanya dengan begitu cara terbaik pemerintah untuk memperbaiki kinerja dan citranya kerjanya untuk rakyat.
Pecenongan, 29 Desember 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






