• Latest
Aku dan Harun Anakku, Tatkala Langsat Montasik Mulai Matang - 9c4c192b 476b 4fb7 a693 a3a3f83b9655 | Aceh Besar | Potret Online

Aku dan Harun Anakku, Tatkala Langsat Montasik Mulai Matang

Januari 1, 2025
5bc08f1c-007e-4829-8f0c-c96e52cb63d4

Trump Bilang “Completely Decimated,” Iran Malah Comeback, Dua Pesawat AS Tumbang Sekaligus!

April 4, 2026
IMG_0624

Oligarki Digital

April 4, 2026
file_00000000843872088299fecd4c22a871

Filosofi Kapak dan Guru Berkualitas

April 4, 2026
af88e5b9-3501-4639-8dab-86a298c8317f

Merajut Perpecahan dengan Sutra Kebijaksanaan

April 4, 2026
IMG_0622

Tanoh Merdeka

April 4, 2026
87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00

Duel Jenderal Hormuz dan Panglima Khalid bin Walid di Padang Kazimah

April 4, 2026
img-0613_11zon

Ayo Bangun (Kembali) Perpustakaan Desa

April 4, 2026
IMG_0609

Potret Pasar Beureunuen Milik Pedagang Lokal, dari Emping Melinjo, Janeng, dan Harapan Masa Depan

April 4, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 4, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Aku dan Harun Anakku, Tatkala Langsat Montasik Mulai Matang - 9c4c192b 476b 4fb7 a693 a3a3f83b9655 | Aceh Besar | Potret Online

Aku dan Harun Anakku, Tatkala Langsat Montasik Mulai Matang

Redaksi by Redaksi
Januari 1, 2025
in Aceh Besar, Berbagi, Essay
Reading Time: 52 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Afridal Darmi

Sudah tiba lagi musim buah di kampungku, Montasik dan seantero Aceh Besar. Pohon-pohon langsat dan rambutan digantungi buah yang mulai matang, buah merah dan kuning di sela rimbun hijaunya daun, menjadi pemandangan yang memanjakan mata di kebun-kebun seputar kampung. Panen pun bagus tahun ini, berkat ketersediaan air hujan yang cukup, menyiram pohon-pohon itu dan sinar matahari yang sekalipun tetap tropis,  namun tidak selalu terik. Setiap hari menuju tempatku bertugas, aku selalu menjumpai pedagang buah dadakan yang memenuhi pinggir-pinggir jalan dengan gelaran buah langsat dan rambutan yang lagi musim.

Sore itu kami memetik buah dari pohon langsat tua di halaman rumahku yang juga tak mau kalah. Buahnya menggantung seperti lentera kuning di antara dedaunan rimbun. Aku duduk di bawahnya bersama Harun, anakku yang baru lima tahun. Sebuah keranjang kecil berisi langsat-langsat yang kami petik berdua barusan. Di tanah sekitar kami, kulit buah berserakan, menebarkan aroma segar bercampur dengan bau tanah basah selepas hujan.

Baca Juga:
  • Kebahagiaan  Genzi Menyambut Bulan Suci Ramadan
  • Abu Muhammad Zamzami; Ulama Kharismatik Aceh Besar yang Istiqamah
  • Ke Jalin, Berbagi dan Menikmati Keindahan Alam

Harun sibuk mencoba mengupas sebuah langsat dengan jarinya yang kecil. Tapi jari mungilnya tidak cukup kuat menjepit tampuk buah dan memecahkan kulitnya “Abi, kenapa langsat ini besar sekali? Sulit buka,” katanya dengan nada setengah kesal.

Tapi ia belum menyerah. Dengan giginya ia mencoba membuka buah langsat itu. Kontan saja mukanya menyeringai ketika getah kulit yang pahit menyerbu lidahnya. Ia meludah-ludah untuk membuang rasa pahit itu, matanya yang bulat memandangku yang tersenyum geli.

Ia mendesah, dan menyerahkan buah langsatnya padaku. Aku mengambil buah itu dan mengupasnya dengan mudah. “Langsat ini besar karena ia punya biji besar, Harun. Biji itu penting karena bisa tumbuh jadi pohon langsat baru,” kataku sambil menyerahkan buah yang sudah terbuka padanya.

Harun mengambil langsat kecil dari keranjang, lebih pucat warnanya. “Kalau yang ini kecil, Abi? Apa gunanya kalau nggak punya biji?” tanyanya lagi.

Aku mengambil langsat kecil itu dan membelahnya, memperlihatkan dagingnya yang padat dengan biji yang kempes tipis atau bahkan tak berbiji. “Langsat kecil ini berbeda. Meskipun nggak punya biji, rasanya manis sekali. Coba makan,” kataku sambil memberikannya pada Harun.

Ia menggigitnya, lalu tersenyum lebar. “Iya. Manis sekali, Abi! Enak!” serunya sambil mengambil langsat kecil lain.

Aku melihatnya tertawa dan sibuk menikmati langsat itu. Harun terlihat begitu sederhana dalam kebahagiaannya, seolah dunia ini hanya berisi langsat kecil yang manis. Tetapi di balik tawanya, pikiranku melayang ke masa lalu. Pohon langsat tua ini, sudah menjadi bagian dari hidup keluargaku selama tiga generasi. Dulu, aku sering duduk di sini bersama ayahku. Pohon ini ditanam oleh kakek bertahun-tahun lalu, bahkan sebelum aku lahir. Aku ingat, ayahku sering bercerita tentang bagaimana kakek memilih biji langsat terbaik untuk ditanam, memastikan pohon ini akan tumbuh kokoh.

“Langsat ini bukan cuma pohon, Nak,” kata ayahku suatu hari. “Ini adalah warisan. Kalau kamu rawat baik-baik, ia akan terus memberi buah. Tapi ingat, buahnya bukan cuma untukmu, tapi juga untuk orang lain.”

Kata-kata itu kini terasa lebih berat. Sebagai ayah, aku mulai memahami maksudnya. Harun adalah buah dari kerja keras dan cinta yang kami rawat selama ini, tetapi aku tahu, seperti pohon langsat ini, ia harus siap berbagi dengan dunia di sekitarnya.

“Abi,” panggil Harun tiba-tiba, menunjukkan biji langsat besar yang baru saja ia keluarkan. “Biji ini bisa tumbuh jadi pohon besar, kan?”

Aku memandang biji itu sejenak, lalu berkata, “Bisa, Harun, kalau tanahnya subur dan cukup air, dia akan berjuang untuk tumbuh.”

Aku menggenggam biji itu di satu tangan, dan membimbing tangan kecil Harun di tangan yang lain. Lalu aku mengajak dia membenamkan biji langsat yang bernas itu ke dalam polibag berisi tanah humus yang ada di halaman rumah kami.

“Nah, kamu tinggal rajin menyiraminya. Kelak ia akan tumbuh menjadi pohon langsatmu sendiri” kataku sambil tersenyum mengusap kepalanya. Harun membalas senyumku, matanya yang polos bersinar-sinar penuh semangat menyongsong tugas dan tanggung jawab itu.

“Abi,” suara Harun memecah lamunanku, “kalau langsat besar itu punya biji besar, kenapa nggak semua langsat jadi besaraja?”

Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak. Hidup, pikirku, seperti langsat ini. Ada yang seperti langsat besar, memikul tanggung jawab berat untuk memastikan keberlanjutan. Ada juga yang seperti langsat kecil, membawa kebahagiaan kecil tapi segera. Tidak semua orang bisa menjadi pohon baru, tetapi semua memiliki tempat dalam siklus kehidupan.

Aku teringat teori survival of the fittest yang pernah kupelajari dulu di sekolah. Dalam hidup, tidak semua yang kuat akan bertahan, tetapi yang paling mampu beradaptasi. Langsat yang kecil mungkin tidak akan survive karena ia tidak membawa benih untuk menyambung keberlanjutan nutfah pohon langsat induknya. Namun kehadirannya juga penting walau untuk tujuan yang berbeda.

Aku mengambil langsat kecil lain dari keranjang. “Buah yang besar kalau ditanam akan menjadi pohon langsat baru. Tapi langsat kecil ini juga punya tugasnya sendiri. Ia manis dan karena tak berbiji akan menyenangkan dan memberikan kebahagiaan buat yang memakannya sekarang. Meskipun kecil, ia penting,” tambahku.

Harun memandang kedua buah itu dengan wajah penasaran, lalu bertanya, “Kalau Abi sendiri seperti langsat yang mana?”

Pertanyaannya membuatku terdiam. Aku menatapnya, mencoba mencari jawaban. Dalam banyak hal, aku merasa seperti langsat besar—memikul tanggung jawab untuk masa depan Harun dan saudara-saudaranya, memastikan mereka memiliki kehidupan yang lebih baik. Tetapi ada saat-saat ketika aku ingin seperti langsat kecil, memberikan kebahagiaan langsung kepada anak-anakku tanpa memikirkan beban masa depan.

Menjadi ayah bukan hal yang mudah. Ada saat-saat ketika aku merasa gagal, merasa tanggung jawabku terlalu besar. Tetapi ada juga momen seperti sekarang, duduk di bawah pohon langsat bersama Harun, yang mengingatkanku bahwa hidup tidak harus selalu tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang memberi yang terbaik.

“Mungkin Abi langsat besar,” kataku akhirnya. “Abi berusaha menanam biji untuk masa depanmu dan saudara-saudaramu, supaya kalian bisa tumbuh jadi pohon yang kuat.”

Harun tersenyum kecil, lalu kembali sibuk dengan buah-buah di depannya.

Baca Juga

Aku dan Harun Anakku, Tatkala Langsat Montasik Mulai Matang - 77a0da9e 4166 460d afc5 d0b0f2fa6f0e | Aceh Besar | Potret Online

Kebahagiaan  Genzi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Februari 26, 2026
Aku dan Harun Anakku, Tatkala Langsat Montasik Mulai Matang - 3e9b60a1 45e7 42c0 811f 85cdab43f330 | Aceh Besar | Potret Online

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
Aku dan Harun Anakku, Tatkala Langsat Montasik Mulai Matang - 9154bb9b 6587 4b8f baa1 a1aa4a22f49c | Aceh Besar | Potret Online

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026

Matahari sore semakin merendah di ujung barat. Langit Montasik yang biasanya biru mulai berubah warna menjadi jingga lembut. Di atas kepala kami, sekelompok kalong besar terbang melintasi pepohonan, sayap-sayapnya membentang hitam melawan langit yang berwarna oranye. Harun melihatnya dan berseru, “Abi! Lihat, ada kalong besar!”

ADVERTISEMENT

Aku mendongak, mengikuti arah telunjuk Harun. Kalong-kalong itu terbang tinggi di langit Montasik, mungkin mereka sengaja terbang ke arah kampung kami tertarik dengan pepohonan buah yang matang di seputar kampung. Kalong-kalong itu, sebagaimana juga pohon-pohon langsat dan rambutan kami ini, menjadi bagian dari siklus kehidupan di Montasik. Aku teringat cerita ayahku, bagaimana kalong kadang membawa biji-biji buah ke tempat yang jauh, membantu menyebarkan pohon-pohon baru.

“Lihat, Harun,” kataku. “Kalong itu juga punya tugas. Dia membantu menyebarkan biji langsat ke tempat yang jauh. Kalau nggak ada kalong, mungkin langsat nggak akan tumbuhdi banyak tempat.”

Harun mengangguk, matanya tetap terpaku pada kalong yang semakin menjauh. “Kalong itu hebat, ya, Abi?” katanya dengan kagum.

Saat kami makan langsat sambil duduk-duduk, seorangt etangga melintas di jalan depan rumah. Pak Yusuf, pria tua dengan tongkat kayu, berjalan perlahan menuju rumahnya di ujung kampung. Aku melambaikan tangan.

“Pak Yusuf! Singgah dulu” ajakku.

Pak Yusuf berhenti, tersenyum. “Wah, terima kasih banyak, Nak. Kali lain ya, Bapak ada perlu pulang”

Harun berlari kecil ke arah keranjang, mengambil beberapa langsat besar dan kecil, memasukkannya ke dalam plastik kecil lalu menyerahkannya ke Pak Yusuf dengan kedua tangannya. “Ini untuk Chik Yusuf!” katanya penuh semangat.

Pak Yusuf mengusap kepala Harun sambil tersenyum lebar. “Terima kasih, Harun. Kamu anak yang baik.” Harun tersipu karena pujian itu. Ia berlari kecil kembali ke dekatku.

Melihat Harun senang berbagi, hatiku hangat. Aku teringat lagi kata-kata ayahku: buah langsat bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk orang lain. Harun baru lima tahun, tetapi ia sudah belajar bahwa kebahagiaan bisa datang dari berbagi hal kecil seperti buah ini.

Matahari hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan bayangan pohon langsat di halaman. Harun duduk bersila di sebelahku, memainkan biji langsat besar di tangannya. Aku memandangnya, memikirkan masa depan.

Hidup ini seperti langsat, pikirku. Ada yang seperti langsat besar, membawa biji harapan untuk masa depan, meskipun tidak selalu manis. Ada juga yang seperti langsat kecil, memberikan kebahagiaan sesaat yang manis. Keduanya punya tempat dalam siklus kehidupan, sama pentingnya.

“Abi,” suara Harun memecah lamunanku, “kalau aku besar nanti, aku bisa jadi pohon besar yang kuat?”

Aku mengusap rambutnya dengan lembut. “Tentu saja, Harun. Tapi ingat, pohon yang kuat juga harus memberi bayangan untuk orang lain, seperti pohon langsat ini.”

Harun mengangguk kecil, senyum di wajahnya mengingatkanku pada masa kecilku sendiri.

Angin sore Montasik bertiup lembut, menggoyangkan daun-daun pohon langsat yang kokoh di atas kami. Di bawahnya, aku duduk dengan Harun, menikmati kebahagiaan sederhana, namun penuh makna yang ditawarkan oleh musim buah. Pohon langsat ini, kalong yang terbang di atas kami, dan Harun yang berbagi buah dengan tetangga, buah-buah langsat ini, kecil maupun besar, semuanya mengingatkanku pada siklus kehidupan—tentang cinta, tanggung jawab, dan warisan yang harus kita tinggalkan.

Aku tahu, di dalam siklus kehidupan, setiap peran itu penting.Hidup adalah tentang memberi, apa pun bentuknya. Seperti langsat kecil yang manis, atau langsat besar yang membawa harapan. Dan di bawah pohon ini, aku merasa cukup menjadi keduanya—untuk anak-anakku, untuk keluargaku, dan untuk hidupku sendiri.

*** Bionarasi ***

Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Pernah menjejakkan kaki di berbagai sudutBumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalammenjalankan misinya sebagai Human Right Defender. Tapiselalu mendapati dirinya merindu Aceh, tempat perahuhatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anakdan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelasseduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenanguntuk membaca, hanya itu yang diperlukan untukmembuatnya bahagia.

 

Afridal Darmi berkediaman di Aceh Besar. Alamat email: afridaldarmi@gmail.com

 

 

Tags: #Langsat#Montasik
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

No Content Available
Next Post
Aku dan Harun Anakku, Tatkala Langsat Montasik Mulai Matang - 26e4ccea 1a16 4cdc bf75 e8dd81c50182 | Aceh Besar | Potret Online

Kisah Guru Risa dan Filosofi Kura-Kura

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com