• Latest
Gelisah Cinta - CBAF553E 2A11 4A05 9ADA 0765F747E38A | Essay | Potret Online

Gelisah Cinta

Desember 9, 2022
Pendidikan SD

Di Antara Wahyu dan Rasio: Menyatukan Jalan Pendidikan Aceh

April 22, 2026
aef171bb-b3d2-4814-9a54-7d09b7b9f971

Perempuan Ganda;Kartini Dulu Hingga Kini

April 22, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Gelisah Cinta - 1001348646_11zon | Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
Gelisah Cinta - 1001353319_11zon | Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Gelisah Cinta

Redaksi by Redaksi
Desember 9, 2022
in Essay, Sastra
Reading Time: 2 mins read
0
Gelisah Cinta - CBAF553E 2A11 4A05 9ADA 0765F747E38A | Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Breaking Reza

— —

Mengulang masa lalu tepat di adegan-adegan bahagia, sungguh terasa mustahil.

Baca Juga
  • BULAN TANPA PURNAMA
  • Ketika Nafas Menemukan Ruangnya: Merdeka Adalah Merdeka

Mengulang karena kita terlalu padu, tapi sudah tidak memungkinkan.

Memang dulu terasa indah untuk melampiaskan emosi berbalut senyuman, kita saling bertanya kabar dalam kerinduan… bersama kerinduan yang sama.

Baca Juga
  • ORANG-ORANG YANG KECEWA
  • Puisi –Puisi Karya Ali Hamzah

Di lintasan panjang saat itu, tak memungkiri akan bersatu perasaan kita di sebuah wadah yang sama. Kau _(mungkin)_ menyukaiku karena aku mencintaimu.

Semua hanya diam, tak pernah terukir kata-kata indah untuk menabur cinta di hati masing-masing. Kau seakan menantiku mengungkapkannya, dan aku terlalu ragu untuk mengilustrasikannya padamu.

Baca Juga
  • Jadilah Kritikus Sastra Yang Bijak
  • GELAP KARENA CAHAYA

Dan benar seperti apa yang pernah disyairkan oleh beberapa musisi dalam lagu-lagu mereka. Cinta harus dibuktikan oleh tindakan yang awalnya mesti dibarengi dengan ucapan lisan. Nah, aku masih belum paham saat itu.

Ketika semua seakan terlambat, satu hal yang pasti berlabuh dalam nadiku adalah penyesalan yang hingga kini masih terasa menyerang urat-urat saraf hati dalam merasakan kenangan lama.

Kini, ingin mengulangi masa lalu adalah sesuatu yang tidak memungkinkan. Ketika aku hendak kembali dan meluruskan apa yang masih bengkok, tapi kenyataan sekarang adalah apa yang harus kuhadapi.

Hidup di bawah tekanan gelisah yang tidak terkontrol, terkadang auramu datang menerobos kesunyian hari. Kau mampu membawaku segudang kabar bahagia dalam imajinasi, terkadang juga menitipkan rasa khawatir yang membara.

Aku memungkinkan sesuatu dengan berlebihan. Semua asumsi masuk dan kujadikan sebuah kesimpulan bahwasanya… sampai saat ini aku tak tahu cara mengungkapkan cinta ini padamu.

Kuletakkan karya rajutan tali buatanmu di kamar, agar sebelum tidur dan saat terbangun, hanya dirimu yang kuharapkan tiba menyapaku.

Hidup dalam kondisi batin yang tidak terkendali. Kurasakan denyut nadi mengobok-obok aliran darah di dalam tubuh. Seketika diriku panik… panik jika sewaktu -waktu kau meninggalkanku di sini.

Jujur, pada detik-detik ini, aku terlalu bingung. Bingung harus melakukan apa untuk menenangkan diriku sendiri. Cinta ini ingin berlabuh padamu, cinta ini ingin menuju padamu, cinta ini ingin menyatukan diri ke dalam perasaanmu.

Tapi… apakah mungkin?

Malam ini barangkali akan terasa lebih dingin dari biasanya. Hawa penakut datang dan berhasrat mencabik-cabik dadaku. Jika mesti ku hadapi itu, kubayangkan saja aku berada di ambang kematian… kematian dalam berharap dirimu.

Dan dedaunan pun seperti tak ingin memberi kabar warna hijau besok. Ada matahari yang menyembunyikan sinarnya di balik awan kelabu tebal. Awsya, apa yang harus kulakukan untuk membenam kegelisahan ini?

Apa kau mendengarku?

Sepertinya, gerimis ini juga tak ingin menghilangkan jejak rasa sakit dalam berharap. Tak ada yang bisa diandalkan saat ini.

Menjadi lelaki yang telah memutuskan untuk mencintaimu selama delapan tahun lamanya… delapan tahun hanya untuk kupendam

Dan akhirnya, perasaan cinta ini akan terus terpendam untuk selama-lamanya.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Gelisah Cinta - 3B7DCF19 3551 4C80 8015 AFC44C72E7D0 scaled | Essay | Potret Online

SINERGITAS KAUM MUDA DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN EKONOMI SYARIAH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com