POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cara Orang Jepang Bertahan dan Tanggap Menghadapi Bencana

Siti HajarOleh Siti Hajar
December 31, 2025
Inisiasi Gerakan Pemulihan Pasca Banjir Bandang
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Siti Hajar

Tulisan ini bukan untuk mengajarkan, apalagi merasa lebih tahu. Ini adalah bentuk kewaspadaan bersama dan bagian dari kesadaran mitigasi bencana yang perlu terus kita bangun. Mitigasi artinya upaya untuk mengurangi risiko, dampak, atau kerugian dari suatu ancaman. Kondisi cuaca yang kita hadapi hari ini bukan lagi pola lama. Curah hujan tinggi, cuaca ekstrem, dan perubahan iklim diperkirakan masih akan berlangsung panjang, bahkan disebut-sebut baru mulai mereda sekitar April 2026. Artinya, bencana bukan sesuatu yang “jika”, melainkan “ketika”.

Belajar dari pengalaman bangsa lain, termasuk Jepang, adalah salah satu cara untuk memperkuat mitigasi bencana dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan bagaimana alam seperti sedang murka. Hujan turun hampir tanpa jeda di berbagai wilayah Indonesia—Sumatra, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Aceh, Jawa Barat, hingga Sulawesi. Air yang seharusnya menghidupi justru datang membawa banjir dan longsor. Hutan yang gundul tak lagi mampu menahan air, tanah kehilangan daya serap, sungai meluap, desa dan kota porak-poranda.

Dalam kondisi seperti ini, mitigasi bencana seharusnya tidak lagi dipahami sebagai istilah teknis, tetapi sebagai sikap hidup. Ingatan yang tidak akan lekang bagi yang pernah mengalaminya. Demikian pula orang Aceh, tentu akan ingat peristiwa tsunami, Desember 2004, sebuah tragedi besar yang mengajarkan bahwa kesiapsiagaan menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada penyesalan.

Dalam hal ini mungkin perlu belajar dari orang Jepang. Berikut adalah sepuluh alasan mengapa Negeri Sakura ini sering disebut sebagai negara yang paling tanggap bencana Pertama, orang Jepang hidup dengan kesadaran bahwa bencana adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mereka tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup akan selalu aman dan tenang. Sejak kecil, mereka memahami bahwa gempa bisa datang tiba-tiba, badai bisa berubah arah, dan tsunami bukan sekadar cerita masa lalu. Karena itu, mereka tidak membangun rasa aman yang setengah-setengah yang membuat orang lengah.

Kesadaran ini membentuk cara berpikir yang kelihatannya biasa saja tetapi cukup kuat “jika bencana bisa terjadi kapan saja, maka bersiap adalah hal yang wajar”. Mereka terbiasa memeriksa jalur evakuasi, mengenali titik kumpul, dan mendengar peringatan cuaca tanpa menganggapnya sebagai gangguan.

Ketika alam memberi tanda, mereka memilih waspada, bukan meremehkan. Mitigasi bencana di Jepang tidak sebagai beban atau aturan yang memaksa. Ini adalah bagian dari kebiasaan hidup mereka. Orang tidak menunggu bencana datang untuk belajar, tidak menunggu korban berjatuhan untuk sadar.

Kesadaran bahwa alam memiliki kekuatan di luar kendali manusia membuat mereka lebih rendah hati, lebih siap, dan lebih cepat bertindak saat keadaan berubah. Kedua, pendidikan kebencanaan ditanamkan sejak anak-anak dan menjadi bagian dari proses tumbuh kembang mereka. Di sekolah, anak-anak diperkenalkan pada berbagai jenis bencana yang mungkin terjadi di lingkungan tempat mereka tinggal. Mereka diajak memahami bahwa bencana bukan cerita menakutkan, melainkan kenyataan alam yang harus dikenali.

Dengan pemahaman ini, rasa takut perlahan berubah menjadi kesadaran. Selain pengetahuan, anak-anak juga dilatih melalui simulasi yang dilakukan secara rutin. Mereka belajar berlindung di bawah meja saat gempa, berjalan tertib menuju titik evakuasi, dan mengikuti arahan guru tanpa panik. Latihan ini diulang berkali-kali agar tidak hanya diingat, tetapi benar-benar tertanam.

Dari sini, mitigasi bencana mulai membentuk refleks sejak usia dini. Kebiasaan ini terbawa hingga mereka dewasa dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat peringatan dini berbunyi, mereka tidak bingung harus berbuat apa. Tubuh dan pikiran sudah terbiasa bergerak sesuai prosedur.

Inilah yang membuat mitigasi bencana di Jepang berjalan baik sebagai kesiapan, bukan kepanikan. Ketiga, disiplin menjadi hal yang cukup penting saat krisis dan benar-benar diuji ketika bencana terjadi. Orang Jepang terbiasa menempatkan ketertiban di atas kepentingan pribadi, terutama dalam situasi darurat.


Mereka memahami bahwa satu tindakan ceroboh dapat membahayakan banyak orang. Kesadaran ini membuat disiplin tidak perlu dipaksakan. Dalam kondisi darurat, disiplin terlihat dari hal-hal sepal, tetapi krusial. Warga mengikuti jalur evakuasi tanpa saling mendahului dan tetap mengantre saat menerima bantuan. Tidak ada teriakan berlebihan atau dorong-mendorong yang memicu kepanikan massal.

Ketertiban seperti ini merupakan bagian penting dari mitigasi bencana. Disiplin juga membantu petugas bekerja lebih efektif di lapangan. Ketika masyarakat tertib, informasi lebih mudah disampaikan dan pertolongan bisa dilakukan lebih cepat. Kekacauan sering kali justru memperbesar jumlah korban, bukan bencananya sendiri. Karena itu, bagi orang Jepang, disiplin adalah bentuk kepedulian terhadap keselamatan bersama.

Keempat, masyarakat Jepang memiliki kepercayaan yang kuat terhadap sistem peringatan dini. Alarm gempa, peringatan badai, atau informasi tsunami tidak dianggap sebagai gangguan, melainkan sebagai tanda serius yang harus segera direspons. Ketika peringatan berbunyi, orang tidak sibuk menunggu kepastian lain atau menyepelekan situasi. Mereka bergerak cepat sesuai prosedur yang sudah dipahami.

Kepercayaan ini tumbuh karena sistem peringatan dini dibangun secara konsisten dan jarang disalahgunakan. Informasi yang disampaikan jelas, tepat waktu, dan mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Karena itu, warga tidak ragu untuk mengikuti arahan yang diberikan. Hubungan saling percaya antara sistem dan masyarakat menjadi kunci.

📚 Artikel Terkait

Beasiswa, Jalan Menuju  Pendidikan Yang Lebih Tinggi dan Lebih Baik

Haruskah Ada Saweran Dalam Tarian Penyambutan Tamu?

KAMPUNG YANG BERSIH DAN INDAH

Belajar Bersepeda pada Belanda dalam Mengatasi Polusi dan Kematian Lalu Lintas pada Remaja.

Dengan kepercayaan tersebut, mitigasi bencana dapat berjalan efektif. Informasi tidak berhenti sebagai pengumuman, tetapi langsung diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Waktu yang singkat dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan diri dan orang lain. Inilah yang membuat peringatan dini benar-benar berfungsi sebagai penyelamat, bukan sekadar suara alarm.

Kelima, infrastruktur di Jepang dibangun dengan kesadaran penuh akan risiko bencana. Bangunan tidak hanya dirancang untuk nyaman dan indah, tetapi juga untuk tetap berdiri saat gempa mengguncang. Teknologi peredam getaran, aturan konstruksi yang ketat, dan pengawasan yang serius menjadi standar, bukan pengecualian. Semua ini dilakukan dengan asumsi bahwa bencana pasti akan datang suatu hari.

Selain bangunan, jalur evakuasi dan titik kumpul dirancang dengan sangat jelas dan mudah dikenali. Rambu-rambu dipasang di ruang publik, sekolah, stasiun, dan kawasan pemukiman. Bahkan di daerah pesisir, jalur evakuasi tsunami ditandai dengan baik agar warga tidak kebingungan saat waktu sangat terbatas. Infrastruktur ini dibuat untuk digunakan dalam kondisi terburuk. Inilah yang disebut mitigasi bencana struktural, yaitu upaya pencegahan yang dilakukan jauh sebelum bencana terjadi. Masyarakat tidak menunggu gempa besar atau tsunami untuk bertindak.

Dengan infrastruktur yang siap, risiko korban jiwa dapat ditekan sejak awal. Kesadaran inilah yang membuat Jepang lebih siap menghadapi bencana berulang. Keenam, latihan kebencanaan di Jepang dilakukan lintas usia dan lintas profesi. Anak sekolah, pegawai kantor, warga lanjut usia, hingga komunitas lingkungan semua terlibat dalam simulasi bencana. Mereka berlatih menghadapi gempa, kebakaran, dan evakuasi seolah-olah itu benar-benar terjadi. Dengan cara ini, setiap orang tahu apa yang harus dilakukan tanpa menunggu instruksi panik.

Latihan ini juga membantu setiap individu memahami perannya masing-masing. Ada yang bertugas menuntun anak-anak dan lansia, ada yang mengatur jalur evakuasi, ada pula yang membantu komunikasi darurat. Tidak semua harus menjadi pahlawan, tetapi semua harus bertanggung jawab. Pembagian peran ini membuat penanganan bencana lebih teratur. Karena dilakukan bersama, mitigasi bencana di Jepang tidak dianggap sebagai tugas pemerintah semata.

Masyarakat menyadari bahwa keselamatan tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada negara. Kesadaran kolektif inilah yang membuat kesiapsiagaan menjadi budaya. Saat bencana datang, mereka bergerak sebagai satu kesatuan.

Ke tujuh, solidaritas sosial menjadi salah satu kekuatan terbesar saat bencana terjadi. Di pengungsian, orang Jepang terbiasa saling menjaga tanpa banyak tuntutan. Mereka menahan diri, tidak berebut bantuan, dan berusaha tidak merepotkan orang lain meski berada dalam kondisi sulit. Sikap ini membuat suasana pengungsian tetap tenang dan manusiawi.

Kebiasaan berbagi juga terlihat dalam hal-hal sederhana. Makanan, air, dan ruang digunakan bersama dengan penuh kesadaran. Tidak ada dorongan untuk menumpuk persediaan secara berlebihan. Solidaritas ini tumbuh dari rasa tanggung jawab terhadap sesama. Sikap saling menjaga inilah yang menjadi bentuk mitigasi bencana sosial. Meski jarang dibicarakan, dampaknya sangat nyata dalam mengurangi konflik, stres, dan kepanikan. Ketika hubungan antarwarga terjaga, proses pemulihan pun berjalan lebih cepat dan lebih bermartabat.

Ke delapan, kesiapan logistik rumah tangga sudah menjadi kebiasaan bagi banyak keluarga di Jepang. Mereka terbiasa menyiapkan tas darurat yang disimpan di tempat mudah dijangkau. Isinya tidak lebih dari kebutuhan dasar, seperti air minum, makanan tahan lama, senter, obat-obatan, dan dokumen penting. Persiapan ini dilakukan jauh sebelum bencana terjadi. Tas darurat ini sangat berguna pada jam-jam awal setelah bencana, saat bantuan belum sepenuhnya datang.

Dalam kondisi listrik padam dan akses terputus, perlengkapan yang disiapkan bisa menjadi penopang hidup sementara. Keluarga tidak langsung panik karena kebutuhan dasar sudah tersedia. Situasi pun bisa dihadapi dengan lebih tenang. Inilah bentuk mitigasi bencana yang paling simple, tetapi berdampak sangat besar. Tidak membutuhkan teknologi mahal atau peralatan rumit. Hanya kesadaran dan kebiasaan yang dibangun perlahan.

Kesiapan kecil di tingkat rumah tangga sering kali menentukan keselamatan banyak orang. Kesembilan, ketahanan mental terus diasah sebagai bagian penting dari kesiapsiagaan. Nilai gaman mengajarkan kemampuan untuk bertahan, menahan diri, dan tetap tenang dalam situasi sulit.

Bagi orang Jepang, mengelola emosi sama pentingnya dengan menyelamatkan tubuh. Kepanikan dianggap bisa memperburuk keadaan. Dalam situasi bencana, ketenangan membantu seseorang berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat. Orang tidak mudah terpancing emosi, tidak meluapkan amarah, dan tidak menyalahkan keadaan secara berlebihan. Sikap ini membuat suasana tetap terkendali, baik di pengungsian maupun di ruang publik.

Ketahanan mental seperti ini dibangun melalui kebiasaan dan nilai budaya. Karena itu, mitigasi bencana tidak hanya berkaitan dengan bangunan atau peralatan. Kesiapan psikologis menjadi penopang yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat menentukan.

Mental yang kuat membantu masyarakat bertahan, saling menguatkan, dan bangkit lebih cepat setelah bencana berlalu. Kesepuluh, setiap bencana di Jepang selalu dijadikan bahan evaluasi yang serius. Tidak ada upaya untuk menutup-nutupi kesalahan atau berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Apa yang kurang, apa yang terlambat, dan apa yang gagal dicatat dengan jujur. Dari sinilah perbaikan mulai dilakukan. Hasil evaluasi tersebut kemudian digunakan untuk memperbaiki sistem yang ada. Aturan diperbarui, teknologi disempurnakan, dan prosedur disesuaikan dengan kondisi terbaru. Pembelajaran ini tidak berhenti di tingkat pemerintah, tetapi juga disampaikan kepada masyarakat.

Dengan begitu, pengetahuan tentang bencana tidak hilang bersama waktu. Pengetahuan yang diwariskan ini menjadi bentuk mitigasi bencana jangka panjang. Luka masa lalu tidak dibiarkan menjadi trauma semata, tetapi diubah menjadi pelajaran kolektif. Inilah yang membuat Jepang terus belajar, beradaptasi, dan semakin siap menghadapi bencana berikutnya.

Orang Aceh sejatinya juga memiliki cara belajar yang serupa dari pengalaman masa lalu. Masyarakat Kepulauan Simeulue mewariskan pengetahuan tentang tsunami melalui syair dan cerita lisan yang dikenal dengan Smong (Seumong). Syair yang mudah diingat, dan diturunkan dari generasi ke generasi, terutama kepada anak-anak. Isinya mengajarkan tanda-tanda alam sebelum tsunami dan apa yang harus dilakukan saat tanda itu muncul.

Dalam syair Smong, masyarakat diajarkan bahwa jika terjadi gempa kuat dan air laut tiba-tiba surut, maka itu adalah peringatan untuk segera lari ke tempat yang lebih tinggi. Pesan ini tidak dibungkus dengan istilah rumit, tetapi disampaikan lewat lagu, cerita, dan nasihat sehari-hari. Karena itu, pengetahuan tersebut melekat kuat dalam ingatan kolektif masyarakat Simeulue.

Saat tsunami 2004 terjadi, banyak warga selamat karena langsung mengingat syair ini dan bergerak cepat. Tradisi Smong menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak selalu harus datang dari teknologi modern. Pengetahuan lokal, jika dijaga dan diwariskan, bisa menjadi penyelamat yang nyata. Seperti halnya Jepang yang belajar dari catatan dan evaluasi bencana, masyarakat Aceh belajar dari ingatan kolektif yang hidup dalam syair. Keduanya mengajarkan hal yang sama: bencana boleh datang, tetapi kesiapsiagaan bisa diwariskan.

Aceh 2004 mengajarkan hal yang sama kepada kita. Banyak yang selamat karena memiliki sedikit pengetahuan dan keberanian untuk bergerak cepat. Jika mitigasi bencana dibangun sebagai budaya—bukan sekadar program—maka ingatan kolektif itu akan menjadi pelindung bagi generasi berikutnya.

Belajar dari Jepang bukan berarti meniru mentah-mentah. Ini tentang menumbuhkan kesadaran bahwa mitigasi bencana adalah bagian dari cara kita menghormati alam dan menjaga sesama. Alam boleh berubah, tetapi kesiapan manusia seharusnya ikut bertumbuh. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Panggung, Penjegalan, dan Ketakutan Terhadap Pikiran

Panggung, Penjegalan, dan Ketakutan Terhadap Pikiran

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00