Dengarkan Artikel
Pelajaran dari Aceh untuk Negeri yang Mudah Lupa
⸻
I. Hari Ketika Segalanya Runtuh
26 Desember 2004.
Pagi yang retak oleh suara bumi.
Air datang bukan sebagai tamu,
melainkan sebagai pengadil.
Ia meratakan senjata dan slogan,
melucuti seragam dan identitas,
menyapu rumah, harta, kenangan,
dan ratusan ribu jiwa
yang tak sempat pamit pada dunia.
Di Aceh,
DOM tak lagi menakutkan,
GAM tak lagi bersembunyi,
militer tak lagi berhadap-hadapan.
Semua luluh—
bukan hanya oleh air,
tetapi oleh kesadaran akan rapuhnya manusia.
⸻
II. Ketika Kemanusiaan Mengalahkan Politik
Ajaibnya,
bantuan datang sejak hari pertama.
Bukan bertanya *“siapa kamu”,
melainkan *apa yang kamu butuhkan*
Di puing-puing,
TNI dan GAM memanggul jenazah yang sama,
relawan lokal dan asing
makan dari dapur darurat yang sama,
doa naik ke langit
tanpa bendera, tanpa kepentingan.
Tak ada konferensi pers berisik,
tak ada saling tuding,
tak ada lomba pencitraan.
Yang ada hanya satu kalimat sunyi:
“Selamatkan yang hidup.”
⸻
III. Rekonstruksi yang Membumi
Rehabilitasi bukan slogan,
rekonstruksi bukan proyek semata.
Ia dirancang dengan mendengar, dilaksanakan dengan melibatkan,diawasi dengan keberanian, dan dipertanggung- jawabkan dengan jujur.
Desa dibangun bersama warganya,
rumah dibangun dengan ingatan penghuninya,
Aceh bangkit
bukan karena kuat,
tetapi karena bersatu.
Dunia belajar dari Aceh.
Aceh menjadi cermin
bahwa bencana bisa menjadi
jalan pulang bagi kemanusiaan.
📚 Artikel Terkait
⸻
IV. Dua Puluh Satu Tahun Kemudian
Kini, dua puluh satu tahun berlalu.
Air masih datang,
tetapi manusia tak lagi serendah hati.
Bencana kini sering lahir
bukan dari alam,
melainkan dari keputusan.
Hutan ditebang tanpa hikmah,
sungai dipersempit tanpa malu,
peringatan diabaikan,
kritik dianggap ancaman.
Dan ketika air naik,
negara sibuk berdebat status,
media gaduh oleh narasi,
instansi saling menjaga wilayah,
sementara rakyat menjaga nyawanya sendiri.
Inilah made disasters —
ketika tragedi adalah hasil pilihan, bukan takdir.
⸻
V. Pelajaran yang Hampir Hilang
Aceh pernah mengajarkan kita:
Bahwa dalam krisis,
kecepatan lebih suci dari prosedur.
Bahwa kepemimpinan
bukan menjelaskan,
melainkan memutuskan dan hadir.
Bahwa koordinasi sejati
lahir dari tujuan yang sama,
bukan dari ego lembaga.
Bahwa politik harus menepi
ketika kemanusiaan memanggil.
Namun pelajaran itu
tak diwariskan dengan baik,
tersimpan di arsip,
bukan di kesadaran generasi.
⸻
VI. Doa untuk Negeri yang Pernah Belajar
Tuhan,
Engkau pernah mempertemukan kami
dalam duka yang sama.
Jangan biarkan kami
harus dihancurkan lagi
untuk belajar hal yang sama.
Ajari para pemimpin kami bahwa kuasa adalah amanah,bahwa keputusan adalah ibadah, bahwa menunda keselamatan adalah bentuk pengkhianatan paling sunyi.
Dan ajari kami, rakyat negeri ini,
untuk tidak lupa,
untuk berani mengingat,dan menagih pelajaran dari sejarah yang pernah menyelamatkan kita.
VII. Penutup: Air sebagai Guru
Air pernah menghancurkan Aceh,
tetapi juga menyatukannya.
Kini air kembali datang,
bertanya dengan cara yang sama:
Apakah kalian masih ingat
bagaimana menjadi manusia
saat segalanya runtuh?
Jika jawabannya ya,
maka bencana tak akan sia-sia.
Jika jawabannya tidak, maka yang runtuh bukan negeri—melainkan nurani.
(Hati yang terkunci mati)
ⒷⒽⓌ
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






