Dengarkan Artikel
Ketika Air Datang, dan Empati Menyusul
By: Cut Putri Dinata
Sehari setelah banjir melanda, Komunitas Inong Literasi membuka donasi.
Bukan dengan rencana besar, hanya dengan satu niat: tidak membiarkan saudara-saudara kami bertahan sendirian.
Kami mendata anggota Inong Literasi yang menjadi korban.
Pesan-pesan masuk cepat, langkah-langkah pun diambil. Para member bergerak hampir tanpa jeda. Alhamdulillah, dana terkumpul, dan kebutuhan segera dibelanjakan berdasarkan informasi sahabat-sahabat Inong Literasi yang berada langsung di lokasi bencana.
Penyaluran bantuan tidak mudah.
Ada lelah, ada air mata, ada emosi yang naik turun. Dari sekian banyak kisah, satu cerita menetap lama di hati kami. Seorang ibu dan anak-anaknya bertahan di loteng rumah saat air naik.
Banjir datang dengan kecepatan dan kekuatan yang tidak pernah mereka bayangkan. Seumur hidup, wilayah itu tidak pernah kebanjiran.
Anak-anaknya mengalami trauma berat.
📚 Artikel Terkait
Di tengah hari itu, sebuah pesan masuk.
Seorang dosen Universitas Teuku Umar, Meulaboh ingin berbagi, bukan dengan uang, melainkan dengan benda-benda yang memiliki makna. Boneka-boneka kesayangan putrinya.
Sepeda mini pink.
Sepeda roda tiga.
Dan sebuah skuter kecil berwarna pink.
Dengan wajah malu-malu, Naya menyerahkan mainan-mainannya.
Gadis kecil itu memahami, dengan caranya sendiri, bahwa ada anak-anak seusianya yang sedang kehilangan rasa aman.
Kami langsung teringat anak-anak yang bertahan di loteng rumah itu.
Mainan-mainan ini, insyaAllah, akan kami kirimkan ke sana.
Bukan sekadar hadiah, tetapi harapan kecil agar senyum mereka perlahan kembali.
Kadang, pemulihan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Ia hadir lewat tangan kecil, dan empati yang tumbuh lebih dulu dari usia.
Terima kasih, Pak.
Terima kasih, Naya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






