POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Negara Menyangkal Bencana

Kelalaian Pemerintah, Hak Asasi Manusia, dan Rapuhnya Relasi Pusat–Daerah

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
December 17, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman
Pemerhati isu kebencanaan, kemanusiaan, dan keadilan wilayah


Pendahuluan: Banjir yang Tak Lagi Sekadar Musim

Banjir besar yang berulang di Sumatra, termasuk Aceh dan wilayah sekitarnya, tidak lagi dapat dipahami sebagai peristiwa alam musiman. Skala kerusakan, jumlah korban terdampak, serta dampak sosial-ekonomi yang berkepanjangan menunjukkan bahwa banjir telah menjelma menjadi krisis kemanusiaan struktural. Ribuan rumah terendam, mata pencaharian hilang, pendidikan anak-anak terputus, layanan kesehatan terganggu, dan trauma sosial terus diwariskan dari tahun ke tahun. Namun ironisnya, negara masih enggan menetapkan situasi ini sebagai bencana nasional. Penyangkalan ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan cerminan kegagalan negara memahami tanggung jawab konstitusional, hukum internasional, dan hak asasi manusia.


Status Bencana Nasional: Antara Keputusan Teknis dan Kalkulasi Politik

Secara normatif, status bencana nasional seharusnya ditentukan oleh ukuran objektif seperti luas wilayah terdampak, jumlah korban, dan ketidakmampuan daerah menangani krisis secara mandiri. Namun dalam praktik pemerintahan Indonesia, penetapan status ini kerap menjadi keputusan politik. Mengakui bencana nasional berarti mengakui kegagalan mitigasi, tata kelola lingkungan, dan perencanaan pembangunan. Bagi rezim yang menekankan stabilitas dan keberhasilan pembangunan, pengakuan semacam ini dipandang sebagai ancaman terhadap citra kekuasaan.

Akibatnya, negara lebih memilih bahasa aman: menyebut bencana sebagai “masih bisa ditangani daerah” atau “bersifat lokal”, meskipun dampaknya lintas kabupaten, lintas provinsi, dan berulang setiap tahun. Di titik ini, kepentingan politik mengalahkan kejujuran kebijakan.


Beban Fiskal dan Penghindaran Tanggung Jawab Negara

Penetapan bencana nasional membawa konsekuensi fiskal yang besar. Negara wajib mengerahkan dana siap pakai nasional, mempercepat realokasi APBN, serta mengambil alih koordinasi lintas sektor. Dalam situasi keuangan negara yang terbebani proyek-proyek strategis, subsidi, dan utang, bencana nasional dipandang sebagai beban tambahan yang tidak diinginkan.

Pilihan kebijakan pun menjadi jelas: menahan status nasional dan mendorong daerah menanggung beban utama. Padahal, kapasitas fiskal dan institusional daerah—terutama di luar pusat kekuasaan—sangat terbatas. Kebijakan ini pada dasarnya memindahkan risiko dari negara ke warga, dari pusat ke pinggiran.


Normalisasi Bencana dan Kegagalan Paradigma Birokrasi

Salah satu persoalan paling serius adalah normalisasi banjir. Karena terjadi hampir setiap tahun, banjir dianggap sebagai peristiwa rutin, bukan keadaan darurat. Logika birokrasi bekerja secara keliru: yang berulang dianggap biasa, bukan justru tanda kegagalan sistemik.

Dalam perspektif kebencanaan modern, bencana yang berulang menandakan kegagalan struktural, bukan keniscayaan alam. Deforestasi, alih fungsi lahan, eksploitasi sumber daya alam, lemahnya penegakan hukum lingkungan, dan tata ruang yang dikalahkan kepentingan ekonomi adalah faktor utama yang terus diabaikan. Dengan menormalisasi banjir, negara sekaligus menormalisasi kelalaian.

📚 Artikel Terkait

Pesta Demokrasi Tak Boleh Abaikan Kelompok Rentan

Menuju Satu Abad Kemerdekaan, Keadilan Sosial Masih Menjadi Tanda Tanya Besar

Ironi “Iron Lady” dan Politik Identitas yang Retak

SAJAK RINDU


Menghindari Akar Masalah: Lingkungan dan Kepentingan Ekonomi

Mengakui banjir sebagai bencana nasional akan membuka ruang kritik publik yang lebih luas terhadap akar persoalan. Pertanyaan tentang siapa yang merusak hutan, siapa pemilik konsesi, dan mengapa hukum lingkungan gagal ditegakkan akan mengemuka. Di banyak wilayah Sumatra, banjir berkorelasi langsung dengan pembukaan hutan, pertambangan, dan perkebunan skala besar.

Dengan menahan status bencana, negara secara tidak langsung melindungi kepentingan ekonomi tertentu dari sorotan publik. Ini menjadikan kebijakan kebencanaan bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari politik perlindungan kepentingan.


Perspektif Hukum Internasional dan Hak Asasi Manusia

Dalam hukum internasional, negara memiliki kewajiban untuk melindungi hak atas kehidupan, kesehatan, perumahan, dan lingkungan yang layak. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya secara jelas menempatkan tanggung jawab pada negara untuk mencegah dan menangani penderitaan massal yang dapat diprediksi.

Ketika negara mengetahui adanya risiko serius dan berulang, namun gagal mengambil langkah maksimal, maka kelalaian tersebut dapat dikategorikan sebagai failure to protect. Penyangkalan terhadap status bencana serius berpotensi menjadi bentuk pengabaian hak asasi manusia. Negara bukan hanya gagal hadir, tetapi juga gagal mengakui penderitaan warganya.


Konsekuensi Internasional: Reputasi, Legitimasi, dan Tekanan Global

Negara yang tidak mampu atau tidak mau melindungi warganya dari krisis kemanusiaan akan kehilangan legitimasi moral di mata komunitas internasional. Konsekuensinya tidak selalu berupa sanksi langsung, tetapi dapat berupa tekanan diplomatik, kritik lembaga HAM internasional, serta menurunnya kepercayaan global terhadap komitmen Indonesia dalam isu kemanusiaan dan lingkungan.

Ironisnya, ketakutan pemerintah terhadap keterlibatan internasional justru menunjukkan paradoks kedaulatan. Kedaulatan sejati bukan menutup diri, tetapi menjalankan tanggung jawab dasar negara terhadap rakyatnya.


Ketimpangan Pusat–Daerah dan Politik Jakarta-Sentris

Respons negara terhadap bencana tidak bisa dilepaskan dari struktur kekuasaan yang Jakarta-sentris. Ketika bencana terjadi di pusat kekuasaan atau wilayah bernilai politik tinggi, respons negara cenderung cepat dan masif. Namun ketika bencana melanda daerah pinggiran seperti Sumatra, ia direduksi menjadi urusan lokal.

Pola ini memperdalam rasa ketidakadilan dan memperkuat persepsi bahwa negara hadir secara selektif. Dalam jangka panjang, ketimpangan empati politik ini lebih berbahaya daripada kerusakan fisik akibat banjir itu sendiri.


Bencana, Ketidakadilan, dan Wacana Pemisahan Diri

Dalam konteks Sumatra dan Aceh yang memiliki sejarah relasi tegang dengan pusat, akumulasi ketidakadilan kebijakan dapat memicu munculnya wacana pemisahan diri. Keinginan semacam ini tidak selalu bersifat ideologis, melainkan sering lahir dari pengalaman panjang pengabaian dan ketidakadilan.

Apakah wacana tersebut relevan? Ia mungkin tidak terorganisir dan bersifat sesaat, tetapi tetap merupakan konsekuensi logis jika negara terus gagal melindungi dan mengakui penderitaan daerah. Negara kerap memandangnya sebagai ancaman keamanan, padahal akar masalahnya adalah kegagalan kebijakan dan empati.


Penutup: Ujian Moral Negara

Kesalahan pemerintah Indonesia dalam penanganan banjir bukan hanya soal teknis, tetapi soal cara pandang terhadap rakyatnya. Dengan menahan status bencana nasional demi citra dan anggaran, negara sedang bermain-main dengan hak asasi manusia dan keadilan wilayah.

Mengakui bencana nasional bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan negara. Jika penyangkalan terus berlanjut, yang tenggelam bukan hanya rumah dan sawah, tetapi juga kepercayaan rakyat, relasi pusat–daerah, dan komitmen kemanusiaan Indonesia di mata dunia.

Banjir akan terus datang. Pertanyaannya adalah apakah negara akan terus menyangkalnya, atau akhirnya memilih berdiri jujur di sisi rakyatnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Dari Adam Smith ke Omnibus Law

Dari Adam Smith ke Omnibus Law

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00