POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Rumah Bu Guru Penuh Lumpur

RedaksiOleh Redaksi
December 13, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Karya Hamdani Mulya

Bu Cut Aminah berdiri di depan rumahnya, matanya merah membengkak menahan air mata. Sungai Krueng Pase yang biasanya tenang, telah berubah menjadi hewan ganas yang meluap dan menyeret semua yang ada di depannya. Rumahnya, yang terletak di tepi sungai, tidak luput dari terjangan banjir. Dinding-dinding rumah retak, perabotan rumah hancur, dan lumpur hitam menutupi setiap sudut rumah.

Bu Cut Aminah merasa hancur. Ia telah mengajar di sebuah SMA Lhokseumawe selama lebih dari 20 tahun, dan rumah ini adalah impian yang telah ia wujudkan dengan susah payah. Suaminya, Cut Bang Ampon, selalu mendukungnya, dan bersama-sama mereka membangun rumah ini dengan cinta.

Setiap hari, Bu Cut Aminah harus pulang pergi dari kampungnya Geudong Pase menuju ke Lhokseumawe untuk mengajar. Ia tidak pernah mengeluh, karena ia tahu bahwa ia memiliki tujuan yang mulia, yaitu mendidik anak-anak Aceh.

Bu Cut Aminah memiliki prinsip bahwa “Guru adalah cahaya di tengah kegelapan.”

Tapi kini, semua itu telah berubah. Bu Cut Aminah merasa seperti kehilangan segalanya. Ia tidak tahu bagaimana akan memulai lagi, bagaimana akan membersihkan rumahnya, dan bagaimana akan menghadapi anak-anak didiknya di sekolah.

Saat banjir, akses jalan keluar dari rumahnya terisolasi. Jaringan listrik dan internet mati total. Bu Cut Aminah merasa seperti terperangkap. Ia tidak bisa menghubungi siapa-siapa, tidak bisa meminta bantuan. Ia juga harus menahan lapar karena kehabisan makanan pokok di rumahnya.

Cut Bang Ampon muncul dari surau tempat ia mengungsi, wajahnya lelah tapi masih tersenyum. “Aminah, kita akan mulai lagi dari awal,” katanya, memeluk istrinya.

Bu Cut Aminah menangis di pelukan suaminya, merasa bersyukur masih memiliki orang yang dicintainya. Sementara beberapa warga ada sanak kerabat yang meninggal dunia, karena terseret arus banjir. Bu Cut Aminah dan suaminya akan memulai lagi, membersihkan rumah, dan melanjutkan hidup dengan harapan baru.

Keesokan harinya, para teman guru seperti Pak Hasan, Pak Ismail, dan Pak Ahmad, beserta siswanya seperti Mahdi, Saiful, dan Fitri datang ke rumahnya, membawa peralatan membersihkan rumah Bu Cut Aminah. Mereka bekerja keras membersihkan rumah, mengangkat lumpur, dan memperbaiki kerusakan.

📚 Artikel Terkait

Kanjuruhan Berdarah

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Wajah Kurikulum Aceh: Antara Jakartalisasi dan Jiwa Tanah Rencong

Potret Kemiskinan di Jalanan dan Pentingnya Penanggulangan Sosial bagi Pengemis

“Bu, kami ada di sini untuk Ibu,” kata Mahdi, sambil membersihkan lumpur di ruang tamu.

Bu Cut Aminah tersenyum, merasa bersyukur memiliki orang-orang yang peduli dengan dirinya. Ia merasa seperti memiliki keluarga besar yang selalu mendukungnya.

Selain itu, Bu Cut Aminah juga mendapat bantuan sembako dari warga sekitar dan organisasi kemanusiaan. Mereka membawa beras, minyak, dan bahan makanan lainnya, serta pakaian dan selimut.

Dengan bantuan semua orang, rumah Bu Cut Aminah mulai terlihat seperti semula. Dinding-dinding yang retak telah diperbaiki, perabotan rumah telah diganti, dan lumpur hitam telah diangkat.

Bu Cut Aminah berdiri di depan rumahnya, kali ini dengan senyum lebar. “Terima kasih, Allah,” katanya, sujud syukur. “Terima kasih, teman-teman, dan siswa-siswi yang telah membantu saya.”

Cut Bang Ampon memeluknya, “Kita akan selalu bersama, Aminah. Dan kita akan selalu kuat.”

Bu Cut Aminah merasa bahagia, merasa memiliki keluarga besar yang selalu mendukungnya. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian, dan bahwa ia akan selalu memiliki orang-orang yang peduli dengan dirinya.

Dan dengan itu, Bu Cut Aminah kembali ke sekolah, dengan hati yang lebih kuat, dan semangat yang lebih besar, untuk mengajar anak-anak didiknya, dan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Lhokseumawe, 13 Desember 2005

Riwayat Penulis
Hamdani Mulya adalah Guru SMAN 1 Lhokseumawe. Lahir di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara 10 Mai 1979. Alumni Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala (USK). Karya Hamdani Mulya dipublikasikan di harian Serambi Indonesia, Kutaradja, Waspada, Haba Rakyat, Majalah Fakta, Santunan Jadid, Seumangat BRR, Meutuah Diklat, dan Jurnal Al-Huda.

Puisinya juga terkumpul bersama penyair Indonesia dalam buku antologi puisi Dalam Beku Waktu (2003), Paru Dunia (2016), Yogja dalam Nafasku (2016), Aceh 5:03 6,4 SR (FAM 2017), dan Gempa Pidie Jaya (2017). Selain menulis puisi dan cerpen Hamdani juga menulis artikel pendidikan, sejarah, dan esai bertema lingkungan.

Hamdani Mulya telah berhasil menulis beberapa buku diantaranya berjudul Jejak Dakwah Sultan Malikussaleh dan Wajah Aceh dalam Puisi yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh tahun 2020.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Echoes of a Lost Justice

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00