POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bangsa Tanpa Negara?

Telaah Aceh Berdasarkan Unsur Teritorial, Hukum Syariat, Bahasa, Budaya, dan Memori Historis

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
November 22, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Pendahuluan: Mengapa Aceh Layak Dibaca sebagai Entitas Kebangsaan?

Dalam percaturan politik dan antropologi modern, pertanyaan tentang apakah Aceh layak disebut sebagai sebuah bangsa bukanlah provokasi, tetapi bagian dari upaya memahami identitas kolektif masyarakat di sebuah negara multi-etnis seperti Indonesia. 

Aceh adalah bagian sah dari Republik Indonesia, tetapi ia memiliki warisan sejarah, budaya, dan sistem sosial yang sangat berbeda dari wilayah Nusantara lainnya. 

Di era yang penuh tantangan global—apa yang saya sebut sebagai “24-country life and challenge”—identitas lokal menjadi modal strategis. Pembahasan tentang Aceh sebagai bangsa bukan untuk memisahkan, melainkan untuk membaca realitas secara jujur bahwa keberagaman internal Indonesia adalah kekuatan yang perlu dikelola dengan kedewasaan politik.

Unsur-Unsur Bangsa: Aceh dan Identitas Kolektif yang Solid

Secara teori, bangsa dibentuk oleh unsur teritorial, bahasa, budaya, hukum, dan memori sejarah. Aceh memenuhi seluruh unsur tersebut secara konsisten. Teritorial Aceh bukan sekadar produk administrasi modern, tetapi merupakan kelanjutan dari wilayah Kesultanan Aceh Darussalam. 

Bahasa Aceh memiliki akar linguistik yang kuat dan berbeda dari bahasa Melayu. Sistem hukum Aceh berbasis syariat adalah kelanjutan tradisi kenegaraan masa kesultanan yang kemudian diakui negara. 

Sementara memori kolektif masyarakat Aceh—perang melawan kolonialisme, hubungan dagang internasional, dan jaringan diplomatik global—membentuk identitas kuat yang bertahan hingga kini. 

PUnsur-unsur ini menjadikan Aceh sebagai nation-like entity, atau bangsa tanpa negara, dalam pengertian akademik.

Unsur Kebudayaan Aceh: Etnografi yang Menguatkan Identitas Bangsa

Jika unsur politik dan teritorial telah kuat, maka unsur budaya Aceh justru jauh lebih kokoh. Aceh memiliki struktur budaya yang khas dan tidak ditemui secara utuh pada etnis lain di Nusantara. Sistem makanan Aceh, misalnya, menunjukkan identitas sosial dan sejarah perdagangan yang sangat maju. Hidangan seperti kuah beulangong, kuah pliek u, mie Aceh, gulee li’e, ayam tangkap, dan hidangan tradisional seperti kuah belalang, semuanya adalah kombinasi antara rempah lokal, pengaruh India, Timur Tengah, dan Cina. 

Keanekaragaman ini bukan sekadar kuliner, tetapi jejak sejarah Aceh sebagai pusat perdagangan dan diplomasi internasional.

Dalam seni, Aceh memiliki Saman, Rapa’i Geleng, Seudati, dan Didong, yang semuanya menggambarkan struktur sosial, spiritualitas, dan filosofi hidup komunitas Aceh. 

📚 Artikel Terkait

Puisi -Puisi Anton Sucipto, SP

Dapat DM dari Akun Tidak Ditemukan

Jamu Komunitas LRCI, Aminullah: Jadilah Duta Wisata Banda Aceh

TAK BERTANDA

Tari Saman, bahkan telah mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Ini merupakan bukti objektif bahwa identitas budaya Aceh bersifat distinctive dan memiliki nilai universal. Tidak banyak wilayah di Indonesia yang memiliki seni budaya dengan pengakuan internasional setara ini.

Dari sisi arsitektur, Rumoh Aceh atau rumah adat Aceh memiliki struktur panggung, sistem pengamanan, dan orientasi spiritual tertentu. Pola ruang dalam Rumoh Aceh bukan sekadar teknik bangunan, melainkan representasi nilai kesopanan, relasi gender, adat keluarga, dan hukum adat.

Sementara dalam struktur sosial, Aceh memiliki perangkat adat seperti geuchik (kepala gampong), tuha peut (penasehat adat), tuha lapan, dan imeum mukim. Sistem kepemimpinan ini berakar dari masa kesultanan dan bertahan hingga sekarang. 

Aceh juga memiliki hukum adat yang hidup, seperti adat meugoe, adat laot, dan adat meunasah—sistem yang mengatur tata kelola pertanian, laut, dan kehidupan sosial. Banyak dari struktur ini tidak ditemukan pada etnis Nusantara lain secara utuh dan menjadi bukti kekhasan Aceh sebagai entitas budaya.

Dalam adat perkawinan, Aceh memiliki ritual seperti jak ba urôh, meugatib, peusijeuk, dan meukawen kana, yang menggambarkan hubungan sosial dalam komunitas Aceh. Bahkan penggunaan gelar adat seperti Teungku, Cut, Teuku, dan Pocut memperkuat stratifikasi sosial yang khas. Semua unsur ini adalah bukti kuat bahwa identitas Aceh bukan identitas buatan, tetapi kenyataan etnografis.

Teori Dua Jenis Negara: Menempatkan Aceh dalam Konteks Indonesia

Negara modern terbagi menjadi dua tipe: nation-state dan plurinational state. Indonesia jelas berada dalam kategori kedua, karena terdiri dari banyak bangsa yang hidup dalam satu kedaulatan. Dengan demikian, keberadaan bangsa Aceh, Minangkabau, Bugis, Sunda, dan lainnya bukanlah penyimpangan, tetapi fakta antropologis. 

Oleh sebab itu, pembahasan tentang Aceh sebagai bangsa,sebenarnya memperkuat Indonesia, karena negara ini memang dibangun sebagai rumah bagi berbagai identitas. Mengabaikan kenyataan ini adalah bentuk penyederhanaan sejarah yang bisa merugikan.

Latar Belakang Kompleksitas: Dari Kejayaan Kesultanan hingga Realitas Kontemporer

Aceh pernah menjadi kerajaan besar yang mengendalikan jalur perdagangan global. Namun masuknya Aceh ke Indonesia membawa dinamika baru yang tidak mudah. Perbedaan sistem politik, hukum, distribusi ekonomi, serta pengalaman sejarah memunculkan ketegangan. Konflik masa lalu meninggalkan luka mendalam bagi kedua belah pihak. Namun MoU Helsinki menciptakan paradigma baru.

Aceh sebagai entitas dengan kekhususan, tetapi berada dalam kerangka Indonesia. Ini adalah kompromi bersejarah yang menegaskan bahwa identitas budaya dapat hidup berdampingan dengan identitas kebangsaan modern.

Pelajaran Penting bagi Aceh: Jangan Terjebak Nostalgia

Identitas kuat adalah modal besar. Tetapi tanpa pembangunan ekonomi, pendidikan, tata kelola pemerintahan, dan integritas, identitas itu hanya menjadi nostalgia. Aceh harus membuktikan bahwa tradisi besar dapat berdampingan dengan kemajuan. Kebudayaan Aceh bukan hanya warisan sejarah, tetapi sumber daya untuk pembangunan.

Pelajaran bagi Indonesia: Hormati Kekhususan, Rawat Keragaman

Indonesia tidak boleh menyepelekan identitas Aceh. Negara besar runtuh bukan karena serangan luar, tetapi karena mengabaikan identitas internalnya. Penghormatan terhadap kekhususan Aceh bukan ancaman, tetapi justru memperkuat legitimasi Indonesia di hadapan masyarakatnya sendiri.

Penyadaran Kolektif: Aceh dan Indonesia Menuju Masa Depan

Kesadaran bahwa Aceh adalah bangsa secara budaya dan sejarah, namun bagian dari Indonesia secara politik, adalah bentuk kedewasaan. Identitas Aceh dan Indonesia tidak harus bertentangan. Keduanya dapat saling memperkaya, saling menghormati, dan saling memperkuat dalam menghadapi dunia global yang tidak kenal kompromi.

Penutup: Identitas Aceh adalah Kekuatan Indonesia

Secara akademis, Aceh memenuhi syarat sebagai sebuah bangsa. Namun secara politik, ia berada dalam bingkai Indonesia. Inilah realitas yang harus dirawat dengan bijak. Aceh harus bangga tanpa arogan, Indonesia harus kokoh tanpa menindas. Jika ini dijaga, keduanya akan menjadi kekuatan yang solid untuk memasuki era 24-country life yang penuh tantangan dan persaingan global.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Aroma Kue dan Doa di Pagi Hari

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00