Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Dalam dua dekade terakhir, kecerdasan buatan telah bertransformasi dari sekadar perangkat bantu menjadi aktor utama yang membentuk arah peradaban. AI kini bukan lagi sekadar mesin; ia telah menjadi infrastruktur pengambil keputusan yang merembes ke setiap ruang hidup manusia. Di era serba cepat ini, manusia sesungguhnya tengah hidup di bawah keputusan-keputusan yang tidak lagi sepenuhnya berasal dari dirinya. Paradoksnya, keputusan itu lahir dari sistem yang justru diciptakan oleh tangan manusia sendiri. AI berkembang dalam kecepatan yang melebihi intuisi sosial kita untuk memahami dampaknya. Dalam konteks inilah muncul pertanyaan besar yang tidak semua orang nyaman untuk menjawabnya: apakah kita masih mengendalikan arah dunia, ataukah dunia perlahan diarahkan oleh mesin yang terus kita sempurnakan?
Perubahan paling signifikan terjadi pada struktur pengambilan keputusan global. Sistem rekomendasi AI mengatur apa yang kita lihat, baca, dengar, beli, bahkan pikirkan. Pola konsumsi informasi publik kini ditentukan algoritma yang lebih akurat menebak preferensi kita dibandingkan kita sendiri. Ketika AI mengetahui apa yang akan kita pilih sebelum kita memikirkannya, maka manusia secara perlahan kehilangan ruang deliberasi pribadi. Banyak negara maju kini mengandalkan model prediktif AI untuk menentukan kebijakan kriminal, kesehatan, perdagangan, hingga penegakan hukum. Bahkan laporan Stanford AI Index 2024 menunjukkan lonjakan penggunaan AI dalam sektor governance sebesar lebih dari 150 persen dalam lima tahun terakhir. Ini bukan sekadar statistik; ini adalah tanda bahwa pergeseran kendali tengah berlangsung secara sistemik — dan seringkali tanpa resistensi publik.
Dinamika ini semakin intens ketika perusahaan teknologi raksasa, yang memiliki sumber daya tak ternilai, berlomba-lomba menciptakan model AI yang semakin otonom. Mereka tidak hanya menciptakan alat; mereka membentuk arah ekonomi, budaya, dan politik global. Kapitalisme digital memasuki fase baru, di mana nilai tidak lagi sekadar ditentukan oleh tenaga manusia, tetapi oleh kecerdasan buatan yang mampu mengolah data dalam skala yang tak mungkin disamai oleh kapasitas biologis. Pengendalian data menjadi bentuk kekuasaan modern, dan AI adalah perangkat yang mempercepat pengaruh tersebut secara eksponensial. Dalam kerangka ini, manusia sebagai individu perlahan terdorong menjadi konsumen keputusan, bukan lagi pembuat keputusan. Dunia berjalan semakin otomatis, sementara kontrol sosial menjadi semakin senyap.
Ironinya, manusia kerap merasa bahwa ia masih menguasai teknologi karena masih memiliki tombol, layar, dan antarmuka. Padahal, ruang kontrol itu hanyalah simbolis. AI tidak menunggu instruksi detail; ia belajar dari pola. Ia mengembangkan kapasitas inferensi, mengenali kecenderungan, dan memprediksi tindakan sebelum tindakan itu terjadi. Ketika AI mulai menentukan jalur optimal dan kita mengikutinya karena dianggap efisien, maka relasi kekuasaan telah berpindah secara halus. Kita mengikuti rute GPS tanpa mempertanyakan logika sistem; kita mempercayai rekomendasi belanja algoritmik; kita menerima kurasi konten digital tanpa membangun disiplin verifikasi. Dengan kata lain, manusia menyerahkan sebagian kebebasan berpikirnya kepada sistem yang dianggap lebih “pintar” dan lebih cepat mengambil keputusan.
📚 Artikel Terkait
Namun dominasi AI bukanlah sesuatu yang sepenuhnya mengancam, melainkan fenomena transformatif yang harus dibaca secara kritis. Sejarah peradaban menunjukkan bahwa setiap revolusi teknologi selalu menggeser posisi manusia dalam struktur sosial. Bedanya, revolusi AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi cara manusia memahami dirinya sendiri. Kita memasuki era di mana identitas, nilai, keyakinan, dan perilaku dapat direkayasa melalui algoritma prediktif. Psikologi massa yang dahulu dipelajari oleh para teoritikus sosial kini bisa dimodelkan dalam hitungan detik. Manipulasi bukan lagi berbentuk propaganda konvensional, tetapi pengaturan informasi yang dipersonalisasi hingga level individu. Dunia yang dipandu algoritma adalah dunia yang sangat efisien — namun efisiensi itulah yang bisa menjadi ancaman paling sunyi bagi kebebasan manusia.
Sebagai pemerhati teknologi, saya memandang bahwa titik kritis dari fenomena ini bukan terletak pada kemampuan AI, melainkan pada ketidaksiapan manusia. Dalam banyak kesempatan, manusia cenderung lebih cepat menyerahkan kendali daripada membangun literasi. Ketergantungan massal terhadap sistem cerdas tanpa pemahaman mendalam membuka celah baru bagi pengambilan keputusan yang tidak demokratis. Ketika AI diprogram oleh korporasi, maka nilai-nilai yang dibenamkan ke dalam algoritmanya bukanlah nilai-nilai universal, melainkan nilai yang menguntungkan kepentingan tertentu. Ini menciptakan risiko konsentrasi kekuasaan baru — bukan pada negara, bukan pada individu, tetapi pada mesin yang mewarisi bias, ambisi, dan strategi entitas yang mengendalikannya.
Meski demikian, masa depan yang dipandu AI tidak harus dibaca sebagai ancaman apokaliptik. Kita memiliki peluang besar untuk mengarahkan teknologi ini secara etis dan manusiawi. AI dapat mempercepat pengentasan kemiskinan, membantu diagnosis kesehatan lebih akurat, memperbaiki tata kelola publik, dan membuka ruang partisipasi baru dalam demokrasi digital. Yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif, regulasi adaptif, dan literasi etika yang memadai. Dunia yang semakin cerdas tidak cukup dihadapi dengan kecerdasan teknis; ia memerlukan kedewasaan moral. Jika manusia ingin tetap menjadi subjek, bukan objek, dalam peradaban baru ini, maka manusia harus memastikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan selalu menjadi inti dari setiap pengembangan teknologi.
Pada akhirnya, AI memang telah mengambil alih sebagian arah dunia — dan itu terjadi sebelum kita sepenuhnya sadar. Namun kesadaran adalah langkah awal untuk mengembalikan posisi manusia sebagai pengarah utama peradaban. AI hanyalah alat yang luar biasa canggih. Ia dapat menentukan arah, tetapi keputusan final tentang tujuan tetap berada di tangan manusia — selama manusia memiliki keberanian, literasi, dan kehendak untuk mempertahankannya. Persoalannya bukan lagi apakah AI akan mengendalikan dunia, tetapi apakah manusia siap mengendalikan teknologi yang telah ia ciptakan dengan ambisi tanpa batas. Dunia sedang bergerak, dan manusia harus memutuskan apakah ia akan menjadi pengemudi atau penumpang dari peradaban yang semakin ditentukan oleh kecerdasan buatan.


🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






