Dengarkan Artikel
Oleh Novita Sari Yahya
Kehebohan Miss Universe 2025 yang berlangsung di Thailand dari 2 November hingga akhir bulan menyita perhatian masyarakat dunia, terutama pecinta pageant. Fenomena ini seolah membuktikan kebenaran pepatah lama: kalau tidak ada drama, itu bukan dunia pageant. Di panggung Miss Universe 2025, drama itu menjadi nyata dan tak terbantahkan.
Drama dimulai dari isu sponsor judi yang dianggap ilegal, sehingga aparat kepolisian Thailand turun tangan untuk menyelidiki penyelenggara acara. Kehebohan pun berlanjut ketika penyelenggara utama Miss Universe di Thailand menangis di hadapan publik akibat tekanan yang muncul. Adegan ini menjadi sorotan luas dan viral, menampilkan sisi rapuh dari organisasi yang selama ini dikenal glamor.
Selain isu sponsor judi, berhembus kabar mengenai sponsor pabrik minuman keras dari Meksiko yang terkait dengan ajang Miss Universe di negara dengan populasi Muslim terbesar. Isu ini menambah perhatian publik terhadap skandal yang seharusnya tidak ada di panggung kecantikan. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan tradisi pageant kuat, hanya dapat menyaksikan dari jauh karena isu ini berkembang sangat cepat.
Drama mencapai puncaknya ketika delegasi dari Meksiko, Fátima Bosch, mengundurkan diri dari panggung dan melakukan walk-out setelah dihina secara terbuka oleh eksekutif penyelenggara. Tindakan ini kemudian diikuti oleh beberapa kontestan lainnya sebagai bentuk solidaritas. Solidaritas para kontestan ini menunjukkan bahwa panggung pageant bukan hanya tentang kecantikan visual, tetapi juga tentang harga diri dan suara perempuan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah perempuan hanya diposisikan sebagai bagian dari drama, sekadar tampil manis, berlatih public speaking, dan terlihat sopan santun seperti “Barbie” versi publik? Apakah nilai perempuan di panggung global hanya diukur dari kemampuan berjalan di catwalk dan menjawab pertanyaan singkat? Padahal, isu-isu kemanusiaan global, seperti konflik dan krisis di Sudan, menawarkan topik yang jauh lebih substantif dan relevan untuk menjadi ruang diskusi perempuan, khususnya di Indonesia.
Tidak berhenti di sana, beberapa laporan juga menyebut adanya penyelidikan polisi terhadap penyelenggara Miss Universe Thailand terkait dugaan sponsor judi, memperlihatkan bahwa panggung pageant modern tak lepas dari pengaruh sponsor yang abu-abu .
Drama ini jelas menantang paradigma tradisional tentang peran perempuan di pageant. Alih-alih hanya menjadi simbol estetika, perempuan di panggung ini mulai menuntut haknya untuk didengar. Fátima Bosch menegaskan bahwa dirinya bukanlah boneka yang diperlakukan semena-mena. Pesan ini mengguncang industri yang selama ini mengedepankan citra glamor tanpa banyak menampilkan konten substantif.
Dari semua gejolak ini, satu hal menjadi jelas: dunia pageant modern adalah perpaduan antara glamor, politik sponsor, dan dramatisasi personal. Panggung ini sekaligus menjadi cermin sosial, memperlihatkan bagaimana perempuan diperlakukan, bagaimana struktur organisasi beroperasi, dan bagaimana publik bereaksi terhadap ketidakadilan.
📚 Artikel Terkait
Bagi Indonesia, fenomena ini menyiratkan beberapa pelajaran penting: pertama, panggung pageant seharusnya menjadi ruang pemberdayaan perempuan, bukan sekadar ajang estetika semata. Kedua, transparansi sponsor dan akuntabilitas penyelenggara harus menjadi prioritas agar nilai moral dan sosial tetap terjaga. Ketiga, perempuan harus memiliki platform untuk mengekspresikan gagasan dan advokasi mereka, termasuk isu-isu kemanusiaan dan sosial yang lebih substansial daripada sekadar penampilan fisik.
Kehebohan Miss Universe 2025 akhirnya bukan sekadar hiburan; ia adalah refleksi dari konflik antara citra glamor dan realitas sosial, antara persepsi dan substansi, antara tradisi dan perubahan. Mahkota itu memang menarik perhatian, tetapi suara perempuan yang berdiri tegak menuntut hak dan martabat jauh lebih berharga.
Seiring mahkota itu akhirnya terangkat, kita harus bertanya: mengangkat siapa? Dan bila mahkota itu jatuh, apakah kita hanya menyaksikan atau turut mengambil peran? Karena pada akhirnya, mahkota harus sadar akan maknanya, dan panggung harus sadar akan perannya.
Novita Sari Yahya
Penulis, Peneliti, dan National Director Indonesia 2023-2024
Referensi:
Detik Wolipop. (2025). Kisruh Miss Universe 2025: Finalis walkout hingga direktur menangis. https://wolipop.detik.com/entertainment-news/d-8196423/kisruh-miss-universe-2025-finalis-walkout-hingga-direkturnya-nangis
Ulasan.co. (2025). Miss Mexico walk-out usai dihina bodoh ajang Miss Universe 2025 berubah jadi drama panas. https://ulasan.co/miss-mexico-walk-out-usai-dihina-bodoh-ajang-miss-universe-2025-berubah-jadi-drama-panas/
Vietnam.vn. (2025). Hoa hậu Hoàn vũ bị cảnh sát điều tra vì nghi vấn quảng cáo cờ bạc. https://www.vietnam.vn/id/hoa-hau-hoan-vu-bi-canh-sat-dieu-tra-vi-nghi-van-quang-cao-co-bac
People.com. (2025). What Happened to Miss Mexico? All About the Miss Universe Pageant Controversy. https://people.com/what-happened-to-miss-mexico-all-about-miss-universe-pageant-controversy-11843995/
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






