Puisi esai Anies septivirawan Segetir apapun Sepahit apapun Sekelam apapun hidupmu Puisi mesti tetap ditulis Di lembar waktu yang membekas nafas Sepedih apapun Luka yang kau rasa Sajak-sajak mesti bersuara Sebab ia seperti udara di langit Gaza, begitulah ketika kubaca tulisanmu Di lembar hati yang rusuh Namun masih ada banyak cahaya Dari berbagai belahan dunia Ada jutaan tangan yang selalu mencoba Menyambung retaknya hati mereka Menyulam robeknya harapan di tanah Palestina Aku yang bukan siapa – siapa Berdiri di antara ujung masyrik dan magrib Menyaksikan ribuan kata di atas kapal – kapal kebenaran bergerak Mendobrak sebuah pintu negeri kesabaran yang dihuni segerombolan hewan berkaki dua Aku bersaksi bahwa Gaza adalah negeri doa Doa dari rahim luka Luka cukup lama menempa Yang kini perkasa Aku dan dunia bersaksi bahwa Palestina berdaulat dan merdeka Hingga akhir masa Situbondo, medio Oktober 25
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Anies Septivirawan
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia
bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"