Dengarkan Artikel
oleh ReO Fiksiwan
“Lebih aman bagi seorang penguasa untuk ditakuti daripada dicintai.”(È molto più sicuro essere temuto che amato). — Niccolò Machiavelli(1469-1527), Il Principe(Terjemahan 2003).
Niccolò Machiavelli, politisi parlemen dan Sekab era Florence Medici, dalam Il Principe, menulis tentang seni memerintah dengan mata tajam seorang realis politik.
Ia tidak bicara tentang utopia, melainkan tentang bagaimana kekuasaan diraih, dipertahankan, dan—jika perlu—dipertontonkan dengan kelicikan.
Dalam dunia Machiavelli, penguasa yang efektif bukanlah yang paling baik, melainkan yang paling lihai membaca situasi dan mengendalikan persepsi.
Namun, di era digital, sang penguasa bukan lagi raja, presiden, atau parlemen. Ia bisa berupa akun anonim, meme viral, atau algoritma yang tak punya wajah.
Dengan kata lain, membaca ulang Machiavelli hari ini bukan sekadar nostalgia, tapi kebutuhan mendesak untuk memahami laku kuasa yang telah berubah wujud.
Dalam demokrasi deliberatif, kekuasaan idealnya lahir dari diskusi publik yang rasional dan terbuka.
Tapi, laku kuasa hari ini lebih mirip hasrat libidinal seperti yang digambarkan Jacques Lacan dalam The Other Side of Psychoanalysis(1991): bukan soal argumen, tapi soal dorongan. Kekuasaan bukan lagi soal legitimasi, tapi soal visibilitas.
Siapa yang paling sering muncul di layar, siapa yang paling banyak di-retweet, siapa yang paling viral—dialah yang memegang kendali. Hasrat kuasa menjadi tontonan, bukan perdebatan.
Ia mengalir seperti libido: tak terkontrol, tak terstruktur, tapi sangat menentukan.
Edward W. Said dalam Culture and Imperialism(1993) menunjukkan bagaimana kekuasaan kolonial bekerja melalui narasi budaya.
📚 Artikel Terkait
Hari ini, narasi itu tidak lagi dikendalikan oleh imperium, tapi oleh netizen. Warganet adalah kekuatan besar yang anonim, tapi nyata.
Mereka bisa menggusur presiden, membatalkan parlemen, bahkan mengubah arah sejarah. Lihat saja Nepal, di mana revolusi digital mengguncang struktur kekuasaan lama.
Di sana, bukan senjata yang bicara, tapi unggahan. Bukan pidato politik, tapi komentar di TikTok. Kuasa telah bergeser.
Alvin Toffler pernah menulis Powershift: Knowledge, Wealth, and Violence at the Edge of the 21st Century(1990), ihwal pergeseran kekuasaan dari otot ke uang, lalu ke pengetahuan.
Tapi hari ini, pengetahuan pun tunduk pada algoritma. Kekuasaan digital bukan hanya soal tahu, tapi soal bisa menyebar.
Dalam dunia Machiavelli, penguasa harus mengendalikan informasi. Dalam dunia digital, informasi mengendalikan penguasa.
Dan Il Principe versi hari ini bukan lagi tentang bagaimana menjadi raja, tapi bagaimana menjadi trending.
Laku kuasa di era digital adalah habit yang tak lagi membutuhkan istana. Ia cukup punya jaringan, pengikut, dan kemampuan memicu emosi.
Demokrasi deliberatif yang mengandalkan rasionalitas publik kini harus bersaing dengan demokrasi impulsif yang digerakkan oleh notifikasi.
Maka, pertanyaannya bukan lagi “siapa yang berkuasa?”, tapi “siapa yang bisa membuat kita bereaksi?”
Membaca ulang Machiavelli hari ini berarti menyadari bahwa kuasa telah berubah bentuk, tapi tidak berubah watak. Ia tetap licik, tetap manipulatif, tetap haus pengaruh.
Bedanya, kini ia tidak datang dari satu sosok, tapi dari ribuan akun. Ia tidak berbicara lewat pidato, tapi lewat emoji. Dan ia tidak memerintah dari tahta, tapi dari layar.
Jika demokrasi ingin bertahan, ia harus belajar dari Machiavelli, Lacan, Said, dan Toffler sekaligus. Ia harus memahami bahwa kuasa bukan hanya soal struktur, tapi soal hasrat. Bukan hanya soal hukum, tapi soal narasi.
Dan bukan hanya soal siapa yang memimpin, tapi soal siapa yang bisa membuat kita percaya.
Era kuasa digital adalah era di mana Il Principe bisa menjadi siapa saja. Bahkan kamu, jika algoritma mengizinkan.
#coversongs: Versi instrumental “The Godfather Theme” oleh Panagiotis Margaris bersama Notis Mavroudis dirilis dalam album berjudul Café de l’art – Cinema Vol. 4 pada tahun 2003.
Lagu ini merupakan interpretasi dari komposisi asli karya Nino Rota, yang pertama kali diperkenalkan dalam film The Godfather tahun 1972.
Versi Margaris dikenal dengan aransemen gitar klasik yang melankolis dan penuh nuansa mediterania, memperkuat kesan dramatis dari tema cinta dan kekuasaan dalam film tersebut.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






