• Latest

‎Kulihat Indonesia di Balik Jendela Sekolah

September 28, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

‎Kulihat Indonesia di Balik Jendela Sekolah

Anies Septivirawanby Anies Septivirawan
September 28, 2025
Reading Time: 7 mins read
Tags: #Puisi
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 Puisi Esai Anies Septivirawan 

‎

‎Angin dingin pagi kala itu: 

‎Tiga puluh tahun lalu 

‎Sudah menjadi lagu 

‎Setiap selepas subuh 

‎Aku mandi, memakai baju

‎Memasang  sepatu 

‎Menuntut ilmu di sekolah 

‎Bersama mereka 

‎Teman dan handai taulan 

‎Meraba – raba masa depan 

‎Merangkai harapan 

‎

‎Aku dan mereka sebaya 

‎Menatap tumpukan lembar pustaka 

‎Di balik jendela sekolah 

‎Kita membaca tentangmu 

‎Indonesia… Indonesia… Indonesia 

‎Di rak – rak buku sejarah 

‎Yang memeluk sunyi  

‎

‎Aku dan mereka sebaya 

‎Kulihat Indonesia di lembar 

‎Buku – buku sejarah 

‎

‎Aku dan mereka sebaya 

‎Menatap selembar usang peta 

‎Setiap datang dan pulang sekolah 

‎Tentang Indonesia 

‎

‎Selembar  peta  usang 

‎Menempel di tembok rapuh 

‎Namun penuh wibawa 

‎Aku dan mereka sebaya 

‎Penuh kagum mengangguk 

‎Ketika sang guru bercerita 

‎Tentangmu, wahai negeriku 

‎

‎Yang aku dengar dari 

‎Guru sejarah: “Indonesia, adalah 

‎Negeri subur nan makmur,” begitu kata guru kita dengan nada bangga. 

‎

‎”Indonesia… penduduknya ramah kepada siapa saja, Indonesia punya nenek moyang handal menaklukkan badai di tengah laut samudera raya”  ujar guru sekolah di  kota tempat tumpah darah 

‎

‎Tapi itu hanya lisan sejarah 

‎Sejarah yang tidak pernah 

‎Kami jalani, tidak pernah kami alami 

‎

‎Di sekolah 

‎Kami adalah para siswa 

‎Yang memburu angka

‎Angka tertinggi di selembar ijazah 

‎

‎Agar kelak diterima bekerja 

‎Di kantor – kantor pemerintah 

‎Seperti kakek-nenek dan orang tua kita 

‎Pada jaman setelah penjajahan Belanda 

‎

‎Di sekolah 

‎Setiap upacara hari Senin 

‎Kita harus menyanyikan 

‎Lagu Indonesia Raya 

‎Dengan telapak tangan kanan 

‎Di dahi menghormat kepada 

‎Sang bendera pusaka 

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
​TEOLOGI LIMBAH

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Pada Secangkir Cinta

Pada Secangkir Cinta

Maret 9, 2026

‎

‎”Indonesia Raya… merdeka… merdeka…

‎Tanahku… negeriku… yang kucinta….

‎

‎Tetapi, lidahku seperti tersandung 

‎Bongkahan batu kata – kata 

‎Ketika harus melantunkan 

‎Syair yang berbunyi 

‎”Bangunlah jiwanya… bangunlah badannya… untuk Indonesia Raya…

‎

‎Aku tertegun… lalu melumat dan 

‎Menelan syair di dalam kalimat nan angkuh itu 

ADVERTISEMENT

‎Yah… syair itu angkuh

‎Karena jiwaku cengeng… jiwaku rapuh…

‎

‎Jiwaku terlena oleh 

‎Kekayaan sumber daya alam 

‎Jiwaku pemalas karena 

‎Tidak bisa merawat 

‎Kekayaan khasanah budaya nusantara 

‎Jiwaku telah terpesona dan jatuh cinta 

‎Kepada budaya barat, jatuh cinta pada gaya hidup si mata biru. Dan ternyata para teman sebaya juga seperti aku. 

‎

‎Hatiku tidak terasa telah terjajah, dan mereka, teman sebaya 

‎Telah terjajah hatinya 

‎

‎Sehingga datanglah… terbingkailah 

‎Indonesia masa kini 

‎Indonesia yang selalu kucemaskan 

‎Indonesia yang mereka harapkan 

‎Seperti selalu dikisah-kisahkan oleh guru sejarah kami tidaklah sama seperti Indonesia pada saat ini:  Indonesia pada puluhan tahun lalu, ada korupsi bersembunyi di balik taplak meja, dan hari ini,  ada korupsi di alam terbuka 

‎

‎Bahkan ada kompetisi korupsi 

‎Derajat hidup melambung 

‎Harus berlimpah uang 

‎Dan segunung materi 

‎

‎Hal itu semuanya disebabkan 

‎Karena aku dan para teman sebaya 

‎Selalu membangun dan membentuk badan dengan pilar-pilar hewani  

‎

‎Aku dan para teman sebaya 

‎Lupa membangun jiwa 

‎Untuk Indonesia Raya 

‎Tumpah darah yang kan jadi sejarah 

‎Atau kenangan 

‎

‎Hari ini, suara lagu Indonesia Raya 

‎Perlahan menjauh dipeluk dan 

‎Diseret angin senja 

‎Ia hanya menggema di setiap hati 

‎Tidak terucap, karena telah dijemput angin 

‎

‎

‎Aku, dan para teman sebaya 

‎Hanya bisa melihat Indonesia 

‎Dari balik jendela sekolah 

‎Berupa selembar peta 

‎Yang bersandar di sebuah tembok kusam 

‎

‎Mari membangun jiwa 

‎Mari merawat badan kita 

‎Ayo mengguncang dunia 

‎Dengan ujung pena 

‎Agar tercipta merdeka 

‎Dari sebuah kota 

‎Untuk Indonesia Raya 

‎Yang sebenarnya…..

‎

‎

‎Situbondo, medio September 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Doa Untuk Wakil Rakyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com