Dengarkan Artikel
Oleh: Dr. Jon Darmawan, S.Pd., M.Pd
Era artificial intelligence (AI) saat ini telah memengaruhi dunia sangat luas dan mendalam. Termasuk dunia pendidikan yang mengalami perubahan pesat sejak kehadiran AI. Hampir tidak ada platform yang tidak memanfaatkan AI. Justru platform tersebut akan ditinggalkan jika tidak menggunakan AI. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memanfaatkan AI dalam pembelajaran.
Sebagaimana diketahui bahwa guru harus memiliki kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial. Selain itu, guru juga harus memiliki kompetensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kompetensi TIK menjadikan guru harus selalu beradaptasi dengan perkembangan teknologi termasuk AI.
Transformasi kompetensi guru menjadi keharusan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia di era AI. Dampak signifikan AI dalam dunia pendidikan menjadikan transformasi kompetensi menjadi sangat penting dan mendesak. Guru harus mampu menguasai atau paling tidak memahami penggunaan platform pendidikan yang sudah berintegrasi dengan AI.
AI bukan cuma mengubah cara kita belajar dan mengajar, tetapi juga mentransformasi kompetensi guru secara menyeluruh. Beberapa kompetensi guru yang mengalami transformasi karena kehadiran AI diantaranya adalah, pertama, kompetensi digital. Kompetensi digital guru (dan pendidik secara umum) memang sedang mengalami pergeseran besar sejak hadirnya AI. Kompetensinya bukan cuma soal bisa pakai teknologi, tapi juga cara berpikir, bersikap, dan berinovasi dengan teknologi cerdas. Guru harus mampu memahami cara kerja dasar AI, mengevaluasi hasil belajar dari AI (mana yang benar dan aman yang bias?), serta mampu menggunakan AI sebagai mitra kreatif, bukan sekadar alat saja.
Tranformasi kompetensi digital dapat dimanfaatkan guru untuk menjadi produsen konten pendidikan berbasis AI, seperti membuat soal otomatis, mendesain video pembelajaran, membuat simulasi interaktif, dan pengembangan media ajar adaptif yang berdiferensiasi. Guru dituntut untuk mahir dalam berpikir kritis dan etika digital, seperti memiliki kemampuan untuk menilai apakah siswa menggunakan AI untuk belajar atau sekadar mencontek saja, serta mengajak siswa untuk kritis terhadap informasi yang diberikan AI. Hal ini mengingat informasi yang diberikan AI bisa salah atau bias.
Kedua, kompetensi pedagogik yang adaptif. Kompetensi ini mengalami transformasi dalam penyesuaian pembelajaran berdasarkan minat dan kemampuan siswa berbantuan teknologidan sistem belajar adaptif berbasis data. Guru didorong untuk menggunakan model pembelajaran inovatif dan kolaboratif guna meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, dan reflektif siswa. AI dapat membantu menganalisis kesulitan belajar siswa lebih awal. Peranan guru bertransformasi menjadi learning designer dengan merancang pengalaman belajar yang bermakna dan mendalam. Siswa dapat dibimbing untuk menavigasi informasi dan teknologi, serta membentuk literasi digital, empati, dan kemandirian siswa.
Ketiga, kompetensi profesional guru. Kehadiran AI menyebabkan kompetensi ini bertransformasi secara signifikan. Guru dapat menggunakan AI untuk menjelaskan konsep-konsep kompleks dengan bahasa lebih sederhana, menganalisis perkembangan terbaru dalam ilmu (update literasi sains), serta menghasilkan analogi dan ilustrasi visual. Dalam hal ini guru berubah dari sekadar penyampai materi menjadi kurator ilmu.
Kehadiran AI mampu mempercepat self-development guru. Misalnya belajar mandiri melalui microlearning yang dibuat AI, menganalisis kebutuhan peningkatan kompetensi berdasarkan data siswa, serta refleksi pembelajaran menggunakan bantuan tools analitik. AI juga dapat membantu guru membuat video pembelajaran menggunakan AI voice-over, desain infografisserta menyusun soal adaptif sesuai kemampuan siswa. Pembelajaran akan berlangsung secara kreatif, menarik, dan inovatif.
Keempat, kompetensi kepribadian guru. Kompetensi kepribadian guru justru menjadi pondasi utama di era AI yang serba cepat dan automated. Peranan guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi teladan nilai, karakter, dan kemanusiaan. Guru harus mampu menunjukkan kejujuran akademik (bukan asal copy paste dari AI), sabar menghadapi siswa yang belajar dengan cara berbeda, serta konsisten terhadap nilai dan prilaku, baik di dunia nyata maupun digital.
📚 Artikel Terkait
Guru dituntut memiliki etika digital yang tinggi dengan tidak menyebarkan info palsu yang dibuat AI. Guru dapat mengarahkan siswa menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab. Guru juga dapat memberi contoh cara berpikir kritis terhadap informasi digital. AI dapat membuat pembelajaran makin cepat dan kompleks sehingga membutuhkan guru yang memiliki empati tinggi, memahami psikologis siswa, mampu menenangkan, memotivasi, dan membimbing siswa sehingga emotional intelligence lebih penting daripada sekadar kontrol kelas.
Computational thinking
Transformasi kompetensi guru di era AI memerlukan computational thinking (CT) sebagai fondasi penting agar dapat beradaptasi dengan teknologi dan mengajarkan siswa berpikir kritis, sistematis, dan kreatif. CT merupakan kemampuan berpikir untuk menyelesaikan masalah secara logis dan sistematis seperti yang dilakukan komputer. CT bukan berarti harus menjadi programmer.
Terdapat 4 (empat) komponen utama dalam CT yaitu, pertama, decomposition, yaitu memecah masalah kompleks menjadi bagian-bagian kecil. Kedua, pattern recognition, yaitu mencari pola dari data atau peristiwa. Ketiga, abstraction, yaitumengambil inti masalah dan membuang informasi tidak penting. Keempat, algorithmic thinking, yaitu menyusun langkah-langkah solusi yang logis.
CT sangat dibutuhkan guru dalam transformasi kompetensi. Guru akan lebih mudah memahami cara kerja AI jika terbiasa berpikir komputasional. Misalnya saat menggunakan AI untuk menganalisis hasil belajar atau membuat konten otomatis yang membutuhkan pemikiran terstruktur. CT dapat membantu guru untuk menyusun strategi pembelajaran yang sistematis, seperti merancang alur belajar, simulasi, eksperimen digital, dan kebutuhan lainnya yang sejenis.
Guru yang berpikir komputasional dapat menjadi role model untuk melatih siswa menyelesaikan masalah dunia nyata dengan pendekatan komputasional sesuai dengan salah satu core skill abad 21. Guru yang terbiasa dengan CT lebih mudah menggunakan tools AI, men-debug masalah, dan belajar mandiri teknologi baru.
Saat melakukan proses pembelajara, guru dapat menerapkan kemampuan CT ini sehinga siswa bukan hanya paham konsep, tetapi memiliki keterampilan problem solving secara logis dan sistematis. Misalnya dalam pembelajaran fisika, guru dapat memberikan masalah dengan memfokuskan decomposition CT sehingga siswa mampu memecah masalahtersebut menjadi bagian-bagian apa yang diketahui, apa yang ditanya, dan rumus apa yang relevan.
Kemampuan pattern recognition menjadikan siswa mengenali pola kecepatan bertambah konstan dan posisi mengikuti grafik parabola. Kemampuan abstraction menjadikan siswa mampu menyederhanakan data ke dalam formula yang merepresentasikan inti masalah. Sementara kemampuan algorithmic thinking menjadikan siswa dapat menyusun “resep logika” pemecahan masalah melalui langkah-langkah sistematis dalam penyelesaian masalah sejenis.
Guru yang memiliki kemampuan CT apalagi dapat menerapkan melalui coding misalnya, memudahkan dalam merancang pemodelan-pemodelan materi pembelajaran. Hal ini tentu menjadikan pembelajaran lebih bermakna, mendalam, menyenangkan, dan tentunya memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Semoga para guru dapatmelakukan transformasi kompetensi agar adaptasi pembelajaran di era AI berlangsung dengan cepat dan tepat sasaran. Semoga!
Dr. Jon Darmawan, S.Pd., M.Pd adalah Guru SMAN 7 Lhokseumawe, Pengurus IGI dan Pemuda ICMI Aceh danMicrosoft Innovative Educator Expert (MIEE). Email: darmawanbuchari@gmail.com
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





