Dengarkan Artikel
oleh Dr. Mariman Darto, M.Si.*
Pendidikan adalah denyut nadi peradaban sebuah bangsa. Ia tidak hanya menuntut sistem yang canggih, tetapi juga ruh kepemimpinan dan keteladanan yang otentik. Tanpa figur panutan, sistem terbaik sekalipun akan terasa hampa dan gagal melahirkan perubahan sejati.
Sosok Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. menjadi prototipe pemimpin pendidikan yang membumi. Gaya kepemimpinannya yang tawaduk, sederhana, dan mengakar pada masyarakat adalah cerminan ideal. Beliau menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah ia yang tekun belajar dari denyut kehidupan rakyat dan menyimak suara mereka yang kerap terabaikan.
Kepemimpinan partisipatif semacam ini esensial untuk dunia pendidikan. Seorang pemimpin tidak lagi sekadar administrator yang mengatur dari menara gading, melainkan seorang inspirator yang menyalakan energi positif bagi guru, siswa, dan seluruh ekosistem pendidikan di sekitarnya.
Untuk mewujudkan cita-cita besar membangun negeri, diperlukan sebuah komitmen kolektif. Upaya menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul adalah kerja bersama yang menuntut kolaborasi solid antara pemerintah, institusi pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat.
Sinergi antara sekolah dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga iklim pendidikan yang kondusif. Keterlibatan aktif orang tua dan warga, mulai dari perencanaan hingga evaluasi program, akan membangun rasa kepemilikan. Ini adalah fondasi lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan bebas dari kekerasan.
Di tingkat mikro, penguatan karakter menjadi prioritas. Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) adalah salah satu ikhtiar konkret untuk menanamkan rutinitas positif. Kebiasaan sederhana seperti bangun pagi, beribadah, dan gemar belajar membentuk fondasi kepribadian yang tangguh.
Tentu, setiap program membutuhkan tolok ukur. Rencana penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada November 2025 dapat dipandang sebagai upaya menghadirkan kembali standardisasi yang terukur. TKA diharapkan menjadi kompas untuk memetakan kualitas pendidikan secara nasional.
📚 Artikel Terkait
Meskipun menuai perdebatan terkait pemerataan kualitas, TKA yang dirancang melalui kajian transparan diharapkan mampu menjadi pendorong motivasi belajar. Tujuan utamanya bukan sekadar kelulusan, melainkan menyediakan data akurat untuk perbaikan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Pada hakikatnya, proses pendidikan yang berkualitas adalah sebuah transformasi. Ia mengolah input (peserta didik) melalui proses pembelajaran yang holistik untuk menghasilkan output (lulusan kompeten) serta outcome (manfaat jangka panjang bagi masyarakat), seperti peningkatan kualitas hidup dan daya saing bangsa.
Misi mulia ini diemban oleh setiap satuan pendidikan. Penanaman nilai-nilai moral, pembiasaan sikap positif seperti integritas dan tanggung jawab, serta pengembangan potensi unik siswa adalah agenda utama. Tujuannya adalah melahirkan pribadi adaptif yang siap menjadi solusi di tengah masyarakat.
Untuk mencapai hal tersebut, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai adalah sebuah keniscayaan. Fasilitas yang baik bukan sekadar pelengkap, melainkan katalisator yang mempercepat transfer ilmu, meningkatkan kompetensi guru, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta inspiratif.
Menghadapi tantangan era digital, kurikulum pun harus berevolusi. Pembelajaran koding, misalnya, tidak boleh hanya dipandang sebagai keterampilan teknis. Lebih dari itu, ia adalah sarana untuk melatih kemampuan berpikir komputasional, berimajinasi, dan berinovasi untuk kemanusiaan.
Di tengah derap langkah menuju kemajuan, kita tidak boleh melupakan prinsip keadilan. Pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak di lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) atau panti asuhan adalah cerminan keberadaban kita sebagai bangsa. Pendidikan adalah tiket mereka menuju masa depan yang lebih cerah.
Program seperti Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) menjadi instrumen vital untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Bagi anak-anak dari keluarga miskin yang dititipkan di panti, akses pendidikan yang layak adalah harapan untuk memutus mata rantai kemiskinan.
Pada akhirnya, negara harus hadir dengan komitmen penuh. Memastikan hak atas pendidikan, pemenuhan gizi, perlindungan dari kekerasan, hingga kesehatan jiwa bagi anak-anak di panti asuhan adalah prioritas mutlak. Sebab, membangun generasi emas berarti merangkul dan mengangkat setiap anak bangsa tanpa terkecuali.
*Dr. Mariman Darto, M.Si. Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






