• Latest

Holistik dan Adaptif: Merancang Kurikulum dan Lingkungan Belajar untuk Daya Saing Abad ke-21

September 8, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Holistik dan Adaptif: Merancang Kurikulum dan Lingkungan Belajar untuk Daya Saing Abad ke-21

Redaksiby Redaksi
September 8, 2025
Reading Time: 3 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


oleh Dr. Mariman Darto, M.Si.*

Pendidikan adalah denyut nadi peradaban sebuah bangsa. Ia tidak hanya menuntut sistem yang canggih, tetapi juga ruh kepemimpinan dan keteladanan yang otentik. Tanpa figur panutan, sistem terbaik sekalipun akan terasa hampa dan gagal melahirkan perubahan sejati.

Sosok Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. menjadi prototipe pemimpin pendidikan yang membumi. Gaya kepemimpinannya yang tawaduk, sederhana, dan mengakar pada masyarakat adalah cerminan ideal. Beliau menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah ia yang tekun belajar dari denyut kehidupan rakyat dan menyimak suara mereka yang kerap terabaikan.

Kepemimpinan partisipatif semacam ini esensial untuk dunia pendidikan. Seorang pemimpin tidak lagi sekadar administrator yang mengatur dari menara gading, melainkan seorang inspirator yang menyalakan energi positif bagi guru, siswa, dan seluruh ekosistem pendidikan di sekitarnya.

Untuk mewujudkan cita-cita besar membangun negeri, diperlukan sebuah komitmen kolektif. Upaya menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul adalah kerja bersama yang menuntut kolaborasi solid antara pemerintah, institusi pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat.

Sinergi antara sekolah dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga iklim pendidikan yang kondusif. Keterlibatan aktif orang tua dan warga, mulai dari perencanaan hingga evaluasi program, akan membangun rasa kepemilikan. Ini adalah fondasi lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan bebas dari kekerasan.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Di tingkat mikro, penguatan karakter menjadi prioritas. Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) adalah salah satu ikhtiar konkret untuk menanamkan rutinitas positif. Kebiasaan sederhana seperti bangun pagi, beribadah, dan gemar belajar membentuk fondasi kepribadian yang tangguh.

Tentu, setiap program membutuhkan tolok ukur. Rencana penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada November 2025 dapat dipandang sebagai upaya menghadirkan kembali standardisasi yang terukur. TKA diharapkan menjadi kompas untuk memetakan kualitas pendidikan secara nasional.

Meskipun menuai perdebatan terkait pemerataan kualitas, TKA yang dirancang melalui kajian transparan diharapkan mampu menjadi pendorong motivasi belajar. Tujuan utamanya bukan sekadar kelulusan, melainkan menyediakan data akurat untuk perbaikan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Pada hakikatnya, proses pendidikan yang berkualitas adalah sebuah transformasi. Ia mengolah input (peserta didik) melalui proses pembelajaran yang holistik untuk menghasilkan output (lulusan kompeten) serta outcome (manfaat jangka panjang bagi masyarakat), seperti peningkatan kualitas hidup dan daya saing bangsa.

Misi mulia ini diemban oleh setiap satuan pendidikan. Penanaman nilai-nilai moral, pembiasaan sikap positif seperti integritas dan tanggung jawab, serta pengembangan potensi unik siswa adalah agenda utama. Tujuannya adalah melahirkan pribadi adaptif yang siap menjadi solusi di tengah masyarakat.

Untuk mencapai hal tersebut, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai adalah sebuah keniscayaan. Fasilitas yang baik bukan sekadar pelengkap, melainkan katalisator yang mempercepat transfer ilmu, meningkatkan kompetensi guru, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta inspiratif.

Menghadapi tantangan era digital, kurikulum pun harus berevolusi. Pembelajaran koding, misalnya, tidak boleh hanya dipandang sebagai keterampilan teknis. Lebih dari itu, ia adalah sarana untuk melatih kemampuan berpikir komputasional, berimajinasi, dan berinovasi untuk kemanusiaan.

Di tengah derap langkah menuju kemajuan, kita tidak boleh melupakan prinsip keadilan. Pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak di lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) atau panti asuhan adalah cerminan keberadaban kita sebagai bangsa. Pendidikan adalah tiket mereka menuju masa depan yang lebih cerah.

Program seperti Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) menjadi instrumen vital untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Bagi anak-anak dari keluarga miskin yang dititipkan di panti, akses pendidikan yang layak adalah harapan untuk memutus mata rantai kemiskinan.

Pada akhirnya, negara harus hadir dengan komitmen penuh. Memastikan hak atas pendidikan, pemenuhan gizi, perlindungan dari kekerasan, hingga kesehatan jiwa bagi anak-anak di panti asuhan adalah prioritas mutlak. Sebab, membangun generasi emas berarti merangkul dan mengangkat setiap anak bangsa tanpa terkecuali.

ADVERTISEMENT

*Dr. Mariman Darto, M.Si. Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ketidakjujuran Dalam Sistem Pendidikan dan Budaya Feodalisme Melahirkan oportunisme, Kemunafikan dan Korupsi di Indonesia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com