• Latest
Jejak Luka di Jalan Binatang - 2025 06 22 08 42 36 | # Tadarus Puisi | Potret Online

Jejak Luka di Jalan Binatang

September 8, 2025
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Jejak Luka di Jalan Binatang - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | # Tadarus Puisi | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Jejak Luka di Jalan Binatang - 2025 06 22 08 42 36 | # Tadarus Puisi | Potret Online

Jejak Luka di Jalan Binatang

S.Sigit Prasojo by S.Sigit Prasojo
September 8, 2025
in # Tadarus Puisi, Antologi Puisi, Puisi
Reading Time: 5 mins read
0
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Sekumpulan Puisi Karya: S. Sigit Prasojo

Aku menghambur di jalan binatang—
tempat matahari mengerut seperti puntung
dan tanah lebih setia memeluk bangkai.

Sumpah serapah kuyup di kepalaku,
ludah dunia mengering di mukaku.
Tak ada kitab suci,
tak ada sabda penyelamat—
hanya gelegak perut
dan dengus sepatu berkarat
yang kutarik-tarik di petak busuk ini.

Aku menendang waktu:
ia menertawai aku dengan gigi ompongnya.
Aku meludahi langit:
langit melempar batu ke ubun-ubunku.

Orang-orang bilang:
hidup itu perjalanan.
Bagiku—
hidup adalah jalan bangkai,
kuburan yang menelan tulang-tulangku satu demi satu.

Pernah kutulis mimpi di dinding retak:
sekarang tinggal serpih,
dihajar angin seperti anjing kehilangan tuannya.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Jejak Luka di Jalan Binatang - 5de97004 0731 46d3 b7a2 38575dadc077 | # Tadarus Puisi | Potret Online

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026

Aku berangkat—
dengan lutut patah,
paru-paru koyak,
dan hati yang diseret ke pasar
untuk dijadikan umpan serigala lapar.

Dan aku tahu:
tak ada pulang.
Tak ada tangan menadah tubuhku.
Tak ada nama yang dipanggil malam.

Hanya ada aku,
ada aspal luka,
dan dunia—
dunia yang mengasah kuku
untuk menguliti tubuhku,
sedikit demi sedikit.

Ponorogo, April 2025

Pulang

Aku pulang—
dengan telapak kaki compang-camping,
dengan napas diseret lumpur hitam.

Orang-orang berkumpul di ujung jalan,
mengacungkan tangan,
bukan untuk menyambut—
tapi untuk menuding dosa yang menetes dari pundakku.

Rumah itu,
tak lebih dari bangkai reot,
atapnya dikencingi hujan,
dindingnya digerogoti dendam bertahun-tahun.

Aku pulang—
membawa kepala bocor oleh janji,
membawa tubuh tergores sunyi,
membawa mimpi-mimpi mati dalam karung.

Ibu mengatupkan bibir kering,
ayah memalingkan wajah kosong,
adikku—
menggenggam mainan dari sisa peluru dan amarah.

Tak ada pangkuan,
tak ada roti hangat,
hanya tikar lapuk yang merintih
bersama dengkuran malam beraroma anyir.

Aku pulang—
seperti binatang diseret pulang ke kandang
bukan karena dirindukan,
tapi karena dunia sudah bosan memburuku.

Pulang, katanya, adalah kemenangan.
Bagiku:
pulang adalah liang kosong
yang diberi papan nama.

Aku tidur,
memeluk serpihan bantal berlubang,
dan berharap tak lagi bermimpi.
Karena di sini—
bahkan mimpi pun diburu anjing-anjing lapar,
dan ditelan pagi dengan ludah getir.

Ponorogo, April 2025

PUAH!

tiga palu pecah di ubun-ubun

lima matahari runtuh di lututku

sebelas kuku mencongkel langit

seribu gigi menggigit waktu

darah — darah — darah

menyanyi di pori-pori

menyanyi di ketiak bumi

menyanyi di nadi kuda besi

puah!

darah jadi api

api jadi besi

besi jadi doa

doa jadi luka

dan darah —

darah berdegung!

darah berderam!

darah berdering!

dalam darah —

ada burung sayap patah 

ada lonceng tanpa lidah

darah — darah — darah

menari di dindingku

menari di mataku

menari di mulutku

sampai aku

jadi dentang terakhir —

di nisan besi

yang tertawa

dalam

ADVERTISEMENT

sunyi

Lengkung,  Agustus 2025

DI UJUNG GELANGGANG

Aku lempar mata ke batu-batu retak,
angin mengiris, menampar kuping tua zaman.
Ada darah, ada getir — aku kunyah.
Biar! Dunia ini bukan ranjang pengasih.

Aku menanam luka di pundakku,
menjerit pada langit lapuk
yang tak sudi lagi mengingat.

Aku —
serabut langkah yang digerus hari,
tapi masih mengepal janji
yang digali dari bara sendiri.

Takdir,
kau cuma gonggongan
yang kulewati
sambil tertawa tanpa gigi.

Ponorogo,2025 

LUKA TAK MINTA AMPUN


Aku hantamkan kepala pada pagi beku,
langkah koyak, dada terburai angin besi.
Tak ada doa,
tak ada tangan penawar.

Aku,
menghirup debu yang mencibir,
menghisap getir sampai mulut hilang rasa,
dan tetap mengacungkan gigi keringku —
ke arah siapa saja
yang menyangka aku roboh.

Aku,
pecahan batu yang menolak pulang,
punggung patah, mulut getir,
tapi mata tetap menggugat
ke dasar segala takdir.

Ponorogo,2025

LANGIT YANG GERAM

Aku tempelakkan nadi ke bumi cadas,
menghunus malam dari kelam yang basi.
Takdir — kau boleh meludah dari singgasana usangmu,
aku tetap mengayun tinju,
menggertak jarak,
menyobek gigil.

Aku berdiri,
dengan dada bolong dan tangan compang,
berteriak pada sunyi yang membatu:
Tak semuanya lahir untuk tunduk!

Aku —
bayang yang mencabik,
bara yang menghardik,
tak sudi berlutut meski tulang retak.

Ponorogo,2025

Karya: S. Sigit Prasojo 

Email: sprasojo0@gamil.com

Akun Instagram: @maz_prasojo

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 350x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 350x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 315x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 264x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 210x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #Puisi
SummarizeShare237Tweet148
S.Sigit Prasojo

S.Sigit Prasojo

S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Aktif di Himpunan Penulis Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo dan menjabat sebagai Wakil Ketua HMPS Pendidikan Bahasa Jawa. Pernah menjadi Ketua Panitia Diwangkara Gumelar 2025 dan tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya dimuat di Erakini.id, Jernih.co, dan media lainnya, dengan puisi-puisi yang dikenal simbolik dan sarat sejarah..

Baca Juga

Jejak Luka di Jalan Binatang - 90f15ae7 cea7 4641 98f8 5aeeacaee651 | # Tadarus Puisi | Potret Online
Puisi

‎Kulihat Indonesia di Balik Jendela Sekolah

September 28, 2025
Jejak Luka di Jalan Binatang - 65604360 4af4 4bb4 b47d d956cfa23727 1 | # Tadarus Puisi | Potret Online
# Bedah Puisi

Merangkai Kata, Menghidupkan Rasa: Cipta Puisi & Wawasan Kebangsaan Republik Rakyat Literasi RRL Kreatif Menggetarkan Hati & Jiwa

Agustus 29, 2025
Jejak Luka di Jalan Binatang - IMG 20250730 WA0000 | # Tadarus Puisi | Potret Online
Puisi

Buktinya Adalah Sepiku

Juli 30, 2025
Jejak Luka di Jalan Binatang - 2025 07 25 15 06 49 | # Tadarus Puisi | Potret Online
Antologi Puisi

Puisi-Puisi Boy Mihaballo

Juli 25, 2025
Next Post
Jejak Luka di Jalan Binatang - 1000897288_11zon | # Tadarus Puisi | Potret Online

Holistik dan Adaptif: Merancang Kurikulum dan Lingkungan Belajar untuk Daya Saing Abad ke-21

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com