POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kisah Heroik Keluarga Ibrahim serta Doa-doanya dalam Al-Qur’an

Siti HajarOleh Siti Hajar
September 2, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Siti Hajar

Nabi Ibrahim adalah seorang kekasih Allah yang sepanjang hidupnya diuji dengan cobaan-cobaan besar. Bersama keluarganya, beliau menorehkan kisah pengabdian, kesabaran, dan pengorbanan yang membuat mereka dijadikan panutan bagi umat manusia sepanjang zaman dan ditulis dalam Al-Qur’an.

Ibrahim dan istrinya, Sarah, hidup berpuluh tahun tanpa dikaruniai anak. Namun cinta dan kesetiaan di antara mereka tetap utuh. Hingga pada suatu ketika, Sarah yang penuh kasih rela mengorbankan perasaannya. Ia meminta Ibrahim menikahi Hajar, seorang budak yang mereka miliki, agar Ibrahim bisa memperoleh keturunan. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang kelak menjadi ayah bangsa Arab, yaitu Ismail.

Namun, fitrah manusia tak bisa diingkari. Rasa cemburu tumbuh dalam hati Sarah ketika melihat kebahagiaan Ibrahim bersama Hajar dan anaknya. Atas izin Allah, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail pergi jauh, meninggalkan Palestina menuju sebuah lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Makkah. Di sanalah, di antara bukit Shafa dan Marwah, Ibrahim meninggalkan Hajar dan bayi kecilnya hanya dengan sedikit perbekalan.

Hajar, meski hatinya tersayat, tidak menentang. Ia tidak berkeluh kesah pada Ibrahim, karena tahu ini semua adalah perintah Allah. “Jika ini perintah Allah, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan kami,” demikian keyakinan Hajar yang teguh. Ia tetap tinggal bersama bayinya, bersandar pada pertolongan Allah.

Ketika persediaan air habis dan Ismail menangis kehausan, Hajar berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah, mencari-cari setetes air. Tujuh kali ia bolak-balik, hingga langkahnya terhenti karena letih. Saat ia kembali pada bayinya, sebuah keajaiban terjadi: dari bawah kaki kecil Ismail, terpancarlah air zamzam. Hajar segera menampungnya, dan mata air itu terus mengalir hingga kini, menjadi sumber kehidupan bagi kota suci Makkah.

Di tengah lembah itu, Ibrahim pun menengadahkan tangan, memohon dengan doa yang indah:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki tanam-tanaman, dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (jadikanlah) mereka orang-orang yang mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]:37)

Doa itu dikabulkan Allah. Dari sebuah lembah tandus, Makkah tumbuh menjadi kota yang ramai, tempat manusia dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk beribadah.

Tahun-tahun berlalu, Ibrahim kembali mengunjungi Hajar dan Ismail. Di masa itulah Allah memerintahkan Ibrahim dan putranya untuk membangun Ka’bah. Batu demi batu mereka tegakkan, tangan tua Ibrahim menyusun bersama tangan muda Ismail. Dan dari tengah kerja keras itu, mereka berdoa:

📚 Artikel Terkait

Nanggala 402

Menuju Satu Abad Kemerdekaan, Keadilan Sosial Masih Menjadi Tanda Tanya Besar

Narkoba Melenyapkan Anak Negeri

Proktor dan Teknisi

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah [2]:127–128)

Betapa mulia doa ini. Ibrahim tidak hanya memikirkan dirinya dan anaknya, tetapi juga generasi keturunannya hingga akhir zaman.

Kisah keluarga Ibrahim semakin memuncak ketika datang ujian yang luar biasa. Saat Ismail telah remaja, Allah memerintahkan Ibrahim dalam mimpinya untuk menyembelih putranya. Dengan penuh kepasrahan, Ibrahim menyampaikan hal itu pada Ismail. Dan alangkah teguhnya hati sang anak ketika menjawab,

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat [37]:102)

Maka keduanya berjalan menuju tempat penyembelihan. Ibrahim menundukkan hati, Ismail pun menyerahkan diri. Saat pisau didekatkan ke leher Ismail, Allah menggantinya dengan seekor kibas. 

Perintah agung itu sejatinya adalah ujian, dan mereka lulus dengan kemuliaan.

Tidak berhenti di situ, Ibrahim juga selalu berdoa agar keturunannya menjadi generasi yang tetap menjaga ibadah:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]:40)

Doa ini adalah bukti bahwa Ibrahim tidak hanya ingin meninggalkan warisan harta atau kedudukan, melainkan warisan iman yang abadi.

Perjalanan hidup keluarga Ibrahim merupakan teladan yang ditulis dalam Al-Qur’an agar umat manusia mengambil pelajaran. Dari Ibrahim kita belajar tentang tauhid, doa, dan pengorbanan. Dari Hajar kita belajar tentang kesabaran dan tawakal kepada Allah. Dari Ismail kita belajar tentang ketaatan seorang anak kepada Allah dan orang tuanya.

Tak heran jika Allah berfirman, bahwa Dia memilih keluarga Ibrahim bersama keluarga Imran sebagai panutan bagi seluruh manusia (QS. Āli ‘Imrān: 33). Hingga akhir zaman, kisah keluarga Ibrahim akan terus dikenang, menggetarkan hati jutaan manusia di seluruh dunia, dan mengajarkan bahwa ketaatan sejati hanya milik mereka yang sanggup mengorbankan segala demi cinta kepada Allah.

Dari kisah Nabi Ibrahim ini banyak ilmu parenting yang bisa kita ambil hikmahnya dan dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah. Aamiin ….

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Menuju Satu Abad Kemerdekaan, Keadilan Sosial Masih Menjadi Tanda Tanya Besar

Menuju Satu Abad Kemerdekaan, Keadilan Sosial Masih Menjadi Tanda Tanya Besar

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00